Monalisa

Monalisa
Bab 26



Hari ini adalah hari pernikahan Lyra dan Donni, semua sudah berkumpul dirumah Papah Arif dan mama Marta.


Lyra terlihat sangat anggun dan cantik sekali dengan gaun rancangan Lisa.


Semua kerabat dekat dan keluarga sudah berkumpul semua untuk menyaksikan pernikahan mereka.


Lisa dan Hendrik menggunakan pakaian yang senada,mereka terlihat sibuk menyambut para tamu yang datang.


Acara pernikahan Lyra dan Donni berjalan sangat lancar. Mereka terlihat bahagia sekali, Lyra menemui tamu nya begitu pula Donni. Sedangkan Lisa yang dari tadi sebelum acara di mulai sudah sibuk sekali, dia terlihat sangat lelah. Hendrik menghampiri Lisa yang terlihat sedang duduk di kursi yang ada di pojok ruangan.


"Lisa, kamu terlihat lelah sekali, apa kamu mau makan sesuatu?" tanya hendrik.


"Iya aku sangat lelah sekali, bolehkah aku meminjam kamarmu untuk beristirahat sebentar?"


"Ayo aku antarkan, apa mau makan dulu, sudah waktunya makan siang sebaiknya makanlah dulu."


"Aku belum lapar Hen."


"Wajahmu pucat sekali, ayo aku antar ke kamar."


Hendrik mengantar Lisa menuju kamarnya, dan saat sedang berjalan menuju kamar tiba tiba.


"Awww...brugh..." lisa terjatuh pingsan dan untung sekali Hendrik langsung menangkap tubuh Lisa.


"Lisa...Lisa.....hey...bangun Lisa..." Hendrik menggendong Lisa ke kamarnya.


Dia terlihat begitu panik sekali melihat Lisa pingsan dengan wajah yang sangat pucat sekali.


Dia merebahkan tubuh Lisa di atas tempat tidur kamarnya.


Hendrik berlari menuju kotak P3K yang ada di rumahnya, dia mengambil minyak kayu putih dan tidak lupa juga memberitahu pada mamahnya.


"Mamah....mamah.....Lisa pingsan dia ada di kamar Hen." ucapnya panik.


"Hen...kamu tidak bercanda kan?" Mama Marta ikut panik dan langsung berlari ke kamar Hendrik.


"Lisa....kamu kenapa nak, bangun sayang....Hen mana minyak kayu putihnya." ucap mamah Marta.


"Ini mah."


"Hen....usapkan pada Hidung Lisa dan telapak tangan juga kaki nya. Mamah ambilkan teh hangat untuk Lisa."


"Iya mah."


Hendrik menuruti apa yang di perintahkan Mamah Marta yang sedang keluar membuatkan teh hangat untuk Lisa, juga memanggil Papah Arif dan Ayah Rafli.


"Lisa....bangunlah Lisa....kamu kenapa seperti ini?" ucap Hendrik sambil mengusapkan minyak kayu putih pada hidung Lisa.


Tak lama kemudian Lisa tersadar dari pingsannya.


"Hen....aku dimana?" ucap Lisa.


"Kamu di kamarku, kenapa sampai pingsan, apa kamu dari pagi belum makan?"


Lisa hanya menganggukan kepala saja.


"Lisa, dari kemarin aku lihat kamu sibuk sekali, kenapa sampai lupa makan? Kamu mau menyiksa dirimu?"


"Iya aku terlalu senang mempersiapkan pernikahan Lyra Hen." Jawab Lisa.


"Mau aku ambilkan makanan? Ingin makan apa?"


"Aku ingin makan sup Hen nasinya sedikit saja."


"Tunggu disini aku ambilkan."


Lisa mengangguk dan menunggu Hedrik mengambilkan makanan.


"Kenapa dia baik sekali, kenapa peduli dengan aku. Apa harus meniadakan Vian agar dia baik denganku seperti ini? Aku lihat sudah hampir satu minggu Hendrik pulang kantor tepat waktu, dan selalu ada waktu untuk mengabari aku. Ah....sudah Lisa, nikmati saja kebaikan Hendrik saat ini." gumam Lisa dalam hati.


"Sayang... kamu kenapa sampai pingsan? Ini mamah buatkan teh hangat, minumlah. Mana Hen?"


ucap mamah Marta sambil memberikan teh hangat untuk Lisa.


"Terima kasih mah, mungkin Lisa kecapaian saja, Hen sedang mengambilkan Lisa Sup." Jawab Lisa sambil meminum teh buatan Mamah mertuanya.


"Sayang... kamu kenapa? Pasti kamu telat makan." Ucap ayah Lisa dengan cemas sambil mendekati anak perempuan semata wayangnya.


"Tidak apa apa Yah, Lisa hanya kecapaian saja."jawab Lisa.


"Yah, benar kata ayah, Lisa dari kemarin makan tidak teratur sekali. Ayo makan sup nya." Hendrik mendekati Lisa sambil membawakan sup untuknya.


"Kemarikan sup nya Hen."pinta Lisa.


"Biar aku suapi kamu."jawab Hendrik.


"Yasudah Lisa, makan dulu. Ayo kita keluar saja biarkan mereka berdua dulu."ucap papah Arif.


Ayah Rafli,Mamah Marta dan Papah Arif keluar dari kamar Hendrik.


Hendrik dengan telaten menyuapi Lisa, dan saat sedang menyuapi Lisa tiba tiba hp Hendrik berbunyi. Hendrik mengeluarkan Hp nya dari saku celananya. Dia melihat siapa yang menelfon nya. Dan terlihat di layar hp nya Vivian yang menelfon nya, Lisa pun melihat siapa yang menelfon Hendrik.


"Angkatlah, kemarikan supnya."pinta Lisa.


"Sudah biarkan saja."jawab Hendrik.


"Hen.....apa kamu sedang ada masalah dengan Vian?"


"Ti...tidak."


"Ya sudah angkat saja,kali aja penting itu dia menelfon lagi Hen."ucap Lisa dengan suara lemas.


"Sebentar aku angkat dulu." Hendrik memberikan mangkuk sup pada Lisa dan dia mengangkat telfon dari Vian di samping Lisa.


{Hallo Vian, ada apa?}


{Kok lama jawabnya, pakai tanya ada apa lagi. Kenapa dari kemarin kamu tak menghubungiku Hen, apa kamu sudah melupakan ku? Melupakan hubungan ini?}


{Hei....kamu bilang apa barusan? Vian, apa kamu dari kemarin juga menghubungiku? Tidak kan? Dan bahkan kamu tak menghubungiku sampai sekarang.}


{Kamu beda ya Hen setelah menikah dengan Lisa, dulu walau aku tak menghubungi kamu, kamu selalu datang setiap pagi ke apartemen, tapi sekarang?}


{Iya mungkin aku berbeda karena aku sudah menjadi seorang suami Vian, kamu harusnya mengerti Vian.}


{Hen....kamu janji tidak akan meninggalkan ku, tapi apa Hen, kamu bilang kamu terpaksa menikahi Lisa, tapi sepertinya kamu mencintainya.}


{Alasan saja, aku mau kau sekarang kesini Hen, please.....}


{Tunggulah di sana, aku sedang sibuk, sebentar lagi acara selesai.}


{Iya aku tunggu}


Hendrik menutup telfonnya, dan Lisa yang dari tadi mendengar percakapan Hendrik dan Vian yang samar samar lewat telfon hanya bisa terdiam dan melihat Hendrik yang sedang kacau.


"Hen"


"Iya Lisa"


"Pergilah, temui Vian."


"Hei....kamu itu bilang apa, kamu sedang seperti ini dan Lyra juga sedang mengadakan pesta pernikahan aku harus pergi menemui dia.?"


"Iya kan biasa nya kalau dia memintamu datang ke apartemen kamu langsung kesana menemuinya."


"Iya, tapi kan sedang seperti ini Lisa. Sudah jangan fikirkan itu, kamu sudah selesai makan nya? Kenapa masih utuh Lisa, sini aku suapi lagi."


"Sudah Hen, aku sudah kenyang."


"Lisa.....maafkan aku Lisa, habiskan makananmu ya?"


"Minta maaf untuk apa? Aku sudah kenyang Hen."


"Aku belum bisa untuk meninggalkan Vian, aku sangat mencintainya."


"Iya Hen."


Lisa hanya terdiam menahan air mata yang akan terjatuh dari sudut matanya.


"Lisa....tahan Lisa....jangan sampai kamu menangis di depan Laki Laki seperti Hendrik, kamu mencintainya tapi jangan sampai kamu mengemis cinta pada nya." Lisa berkata dalam hatinya.


Wanita mana yang tak sakit hatinya, memiliki suami yang tak mencintainya. Dan berkata jujur di hadapannya bahwa dia mencintai wanita lain.


"Lisa." Hendrik mengagetkan lamunan Lisa.


"Emmm iya Hen"


"Aku keluar sebentar ya."


"Iya."


Hendrik keluar dari kamarnya meninggalkan Lisa. Seketika tangis Lisa pecah, air mata Lisa sudah tak bisa di bendung lagi.


"Hen, kenapa kamu seperti itu, apa sedikitpun tak ada aku di hati kamu Hen?" ucap Lisa dalam isak tangisnya.


Lisa masih saja mengeluarkan air mata jika mengingat kata kata hendrik tadi. "Aku sangat mencintai nya Lisa" kata kata yang berhasil menusuk hati Lisa yang dalam, kata kata menyakitkan yang teramat memyakitkan. Lisa terdiam sambil memandagi setiap sisi kamar hendrik dengan tatapan kosong.


♥Hendrik♥


Lisa maafkan aku, aku sadar aku sudah sangat menyakiti mu Lisa. Tapi ini kenyataannya, aku sangat mencintai Vian, aku belum bisa meninggalkannya bahkan mungkin aku tak bisa meninggalkannya.


Aku keluar dari kamarku, aku tau Lisa menahan tangisannya saat aku bilang aku sangat mencintai Vian. Aku keluar berbaur dengan keluargaku yang sedang merayaka pesta pernikahan Lyra adik ku.


"Lisa sudah makannya?"ucap mamah marta.


"Sudah mah, dia sedang istirhat."


"Ohhh....bawakan dia salad buah, ada di kulkas, semalam mamah membuat tapi belum sempat Mamah makan."ucap mamah Marta.


"Iya mah, nanti Hen bawakan, biarlah Lisa istirahat dulu." Jawabku.


Aku menemui teman teman kantorku, yang di undang papah ke pesta ini. Aku bergabung di sana sebentar dan setelah aku menemui mereka aku ingat pesan mamah untuk mengantarkan salad buah untuk Lisa. Aku bergegas ke belakang mengambil salad buah di kulkas dan mengantarkannya ke kamar untuk Lisa.


Aku masuk ke kamar dengan membawakan salad buah untuk Lisa.


Ku lihat Lisa sedang duduk dan matanya terlihat habis menangis.


"Lisa" suara ku menyadarkan lamunannya.


"Iya hen ada apa?"jawabnya tanpa menolehku, karena dia mengahapus jejak air mata yang masih keluar di sudut matanya.


"Aku bawakan salad buah, ayo cicipi."


"Taruh di situ saja nanti aku makan."


"Lisa, aku suapi ya?"


Lisa hanya menggelengkan kepalanya tanpa melihatku.


"Lisa, kamu menangis? Lisa maafkan aku, aku tak akan menemui Vian."


"Aku tadi hanya tertidur, dan teringat ibuku Hen, sudah jangan terlalu sering meminta maaf kalau kamu masih mengulangi kesalahan mu lagi." Ucap Lisa yang membuatku langsung membungkam tanpa berkata kata apa lagi.


"Oh ya Hen, mana saladnya aku ingin memakannya"


"Ini Lisa, mau aku suapi?"


"Tidak aku bisa makan sendiri."


"Makanlah, aku akan menungguimu disini."


Lisa sangat menikmatai salad buah buatan mamah, aku pandangi wajah cantik nya. Matanya yang sangat sendu sekali, padahal dulu Lisa sangat ceria sekali. Perempuan yang mengalihkan dunia ku saat masih di SMA. Tapi semenjak hadirnya pria itu aku sangat membencinya, dan mengapa Tuhan memberikan nya pada ku untuk menjadi istriku sekarang.


Sudah hampir satu bulan aku tak menyentuhnya walaupun kadang aku tidur bersamanya. Aku tak tau apakah dia masih suci, atau sudah menyerahkan semuanya pada pria itu.


.


.


.


.


.


.


.


♥happy reading♥