Monalisa

Monalisa
Bab 5 - MONALISA



Aku tersadar dari lamunanku. Mengenang dulu saat bersama Hendrik. Meski dalam sekejap, namun cinta itu masih melekat erat di hatiku hingga saat ini


"Kalian kenapa saling diam dan menatap?" Tante Marta membuyarkan lamunan ku yang sedang mengingat peristiwa dulu.


"Em ... tidak apa apa tante," jawabku.


"Apa kalian saling menyukai?" tanya Tante Marta dengan meledek kami.


"Mama apaan sih, gak lucu!" tukas Hendrik.


"Kalian sama-sama sendiri lho, pa bagaimana kalau kita jodohkan saja Hendrik dengan Lisa," ujar Tante Marta


Aku sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Tante Marta. Pun dengan Hendrik. Dia juga terlihat kaget dengan apa yang di katakan mamanya. Terlihat jelas raut wajah Hendrik yang kesal dan marah kala itu. Aku tidak habis pikir, Tante Marta bisa bicara seperti itu.


"Tante, jangan gitu," ujar ku pada Tante Marta.


"Iya, mama, gak lucu ah," tukas Hendrik dengan kesal.


"Menurutku ada benarnya ucapan mamamu, Hen, ya gak Raf?" ucap Om Arif.


"Aku terserah mereka. Ya, aku juga sudah menginginkan Lisa menikah," ujar Ayahku.


"Tuh kan, Pak Rafli juga sudah setuju, tinggal kalian saja bagaimana?" imbuh Tante Marta.


"Mama! udah dong? Gak lucu tahu?!" seru Hendrik dengan nada marah.


"Tante, ayah, Om Arif, jangan seperti itu. Hendrik pasti tidak mau dijodohkan dengan Lisa. Lisa juga belum siap menikah. Lagian pasti Hendrik sudah punya kekasih pastinya." Aku mencoba memberi pengertian pada mereka.


"Tante mau jodohin kalian pokoknya. Dan, kamu harus mau, Hendrik!" tukas Tante Marta.


"Ma, tapi kan?" ucapan Hen terhenti saat Tante Marta menukas nya.


"Tidak ada tapi-tapian!" sergah Tante Marta.


"Benar ucapan mamamu Hen," imbuh Om Arif.


"Ayah, Lisa tidak mau," ucapku dengan manja pada Ayah.


"Kita bicarakan nanti ya, Sayang," ucap ayah sambil memelukku.


"Papa, mama, bagaimana gaunnya?" Lyra keluar dengan gaun cantiknya menunjukkan pada kami yang sedang berdebat masalah perjodohan.


"Wah putri mama cantik sekali, gaunnya sangat cantik. Lisa is the best pokoknya," ucap Tante Marta dengan sangat puas.


"Terima kasih tante," ucapku dengan mengembangkan senyum bahagia karena dipuji oleh Tante Marta.


"Cantik sekali kamu Lyra." Aku memuji Lyra yang benar-benar sangat cantik memakai gaun hasil karyaku. Benar kata Tante Marta, gaun ini memang bagus dan cantik sekali.


"Ini berkat kamu, Lis, terima kasih." Lyra memelukku karena puas dengan hasil gaun yang aku buatkan untuknya.


"Kak Hen, kapan kamu ngajak calon istrimu fitting gaun?" ucap Lyra dengan meledek Hendrik yang masih saja menampakkan wajah sadisnya.


"Sebentar lagi, Hen sudah ada calonnya kok," jawab Tante Marta.


"Mama!" sergah Hen dengan kesal.


"Lisa calonnya," ucap Tante Marta dengan mudahnya berkata aku adalah calon Hen.


Lyra mengernyitkan keningnya seraya berkata pada mamahnya, karena tidak percaya. "Mama tidak bercanda?"


"Tidak, mamah menjodohkan dia dengan Lisa anak Om Rafli." Tante Marta semakin meyakinkan Lyra.


"Tante, jangan seperti itu. Hen mana mungkin mau dengan Lisa," ucapku dengan sedikit tidak enak hati karena Hen menatap aku dengan tajam.


"Harus mau dong Kak Hen, apa kurangnya Lisa coba? Iya kan, mah?" Lyra semakin semagat mendengar aku akan di jodohkan dengan kakaknya.


"Iya, benar juga kata adikmu, Hen," jawab Tante Marta.


Aku semakin tidak mengerti dengan mereka, bagaimana aku bisa menikah dengan Hendrik. Iya, aku mencintainya. Hingga sekarang aku mencintai Hendrik. Namun, entah kenapa dulu Hendrik tiba-tiba meninggalkanku tanpa sebab yang pasti.


"Raf, datanglah ke pernikahan Lyra dan Denny nanti minggu depan. Jangan lupa bawa putrimu yang cantik ini." Om Arif mengundang ayah dan aku untuk menghadiri pernikahan Lyra minggu depan.


"Oke, nanti aku datang dengan Lisa," jawab ayahku.


"Ya sudah kami pamit dulu, Raf, Lisa," pamit Om Arif.


Aku dan ayah mengantar mereka sampai depan butik. Mereka meninggalkan butikku. Aku masih terngiang ucapan Tante Marta soal perjodohan aku dan Hendrik. Aku juga masih terbayang oleh tatapan Hen padaku yang begitu tajam dan menyiratkan kemarahan mendalam padaku. Entah apa yang membuat dia marah aku tidak tahu.


Ayah menepuk pundak ku, aku terjingkat, karena memang aku sedang melamun mengingat wajah Hen yang begitu marahnya terhadapku.


"Lisa, bersiaplah kita akan makan siang dan mengunjungi restoran baru kita." Ayah mengajakku makan siang di restoran baru ayah.


"Siap ayah!" Aku bergegas masuk ke dalam butik dan mengambil tas di ruanganku.


Aku menaiki anak tangga untuk ke ruaganku. Aku sejenak berpikir soal Hendrik. Bagaimana bisa aku bertemu lagi dengan Hendrik? Laki-laki yang selama ini masih aku cintai. Aku senang karena dijodohkan dengan Hendrik. Bahagia rasanya, apalagi tante Marta dan Lyra sangat baik sekali. Tapi, mana mungkin Hendrik mau? Dia sepertinya sudah kecewa dengan ku dari dulu, setiap aku ingin menjelaskan dia selalu menghindariku dan memilih dengan perempuan lain.


Entahlah, melihat dia kembali saja aku sudah bahagia sekali. Aku membayangkan wajah Hendrik yang masih sangat tampan, sambil menuruni anak tangga. Lalu menghampiri ayah yang sedang menungguku sambil membaca surat kabar. Kami langsung berangkat untuk makan siang.


Di dalam mobil aku masih berfikir, bagaimana nanti kalau ayah dan Om Arif benar-benar menjodohkan aku dengan Hendrik? Hendrik sudah begitu kecewa sekali pada ku. Tatapan matanya saja sudah membuktikan kalau dia sangat membenciku.


Aku masih memikirkan semua itu dengan menatap jendela mobil ke arah jalan..


"Lisa, kamu kenapa melamun?" Ayah tiba-tiba menyadarkan lamunanku.


"Lisa tidak melamun, ayah," jawabku dengan mengulas senyuman pada Ayah.


"Kamu masih memikirkan tadi? Ayah memang setuju sekali jika kamu menikah dengan Hendrik, anak Om Arif. Apalagi ibunya sangat menyukaimu, terlebih Lyra adik Hendrik," ujar ayah.


"Yah, mana mungkin Hen mau denganku. Aku perawan tua, Yah. Sedangkan di sana banyak sekali wanita yang lebih cantik dariku. Pasti Hen juga sudah mempunyai kekasih," sanggahku pada ayah.


"Siapa bilang, kalau belum apa kamu mau menikah dengannya?" tanya Ayah.


"Yah, Lisa gak mau bahas ini ah," jawabku pada ayah


"Ya sudah, ayah hanya ingin yang terbaik untukmu saja, nak. Ayah sangat menyayangimu. Siapapun nanti jodoh kamu, yang ayah harapkan dia adalah laki-laki yang menyayangimu," ucap ayah.


"Iya ayah, buat apa Lisa menikah dengan orang yang tidak sayang pada Lisa, iya kan?" ucapku.


Ayah tersenyum dan mengusap kepalaku dengan sayang. Setelah kepergian ibuku, aku semakin dekat dengan ayah. Ayah adalah hidupku, kesayanganku.