
Pagi hari di rumah Lisa mereka sudah berkumpul semuanya. Lisa bersiap siap untuk ikut menemui suaminya di Rumah Eyangnya.
Papah Arif, Mamah Marta, Lyra dan suaminya satu mobil besama, mobil mereka sudah melaju terlebih dulu sebagai penunjuk jalan.
Sedangkan Lisa, Ayah Rafli dan Aldi mengikuti di belakang mobil Lyra.
Lisa masih saja menangis dengan menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya.
"Sayang, semua akan baik-baik saja tenanglah."ucap Ayah Lisa sambil menghapus air mata di pipi Lisa.
"Maafkan Lisa pah."jawabnya sambil terisak.
"Iya sayang, mungkin ini cobaanmu nak. Sudah jangan menangis, mana Lisa yang selalu tegar dan selalu ceria. Jangan menangis lagi sayang, pasti Hendrik ketemu nak." Jelas Ayah Rafli.
Lisa menganggukan pelan kepalanya, dia masih bersandar pada bahu ayahnya.
"Maafkan aku Om, Lisa, ini semua karena aku." Ucap Aldi.
"Semua sudah jalannya Al, jangan menyalahkan dirimu sendiri. " jawab Lisa.
"Benar kata Lisa Al, om justru berterima kasih pada kamu, karena kamu kemvali kesini semua bisa terungkap." ucap Ayah Rafli.
Mobil Lyra sudah sampai di halaman Rumah Eyangnya. Aldi memarkirkan mobilnya di samping mobil Lyra.
Mereka berjalan menuju teras Rumah tersebut.
"Bu Marta, selamat Siang." Sapa Mba Nur, seseorang yang Mamah Marta Sewa untuk mengurus rumah orang tuanya.
"Siang mba, oh iya apa Hen di sini?"tanya Mamah Marta.
"Iya sudah hampir satu bulan Hen di sini bu, dia sedang di dalam, dia lebih suka mengurung diri di kamar, makan pun jarang."jelas Mba Nur penjaga Rumah tersebut.
"Ya sudah saya masuk, Mba nanti tolong siapkan makan siang ya?"
"Iya bu."
Mamah Marta masuk ke dalam dan di ikuti semuanya, Mamah Marta langsung masuk ke dalam kamar Hendrik.
"Biarkan aku yang masuk, kalian tunggu di luar." Ucap Mamah Marta.
"Mah, Lisa ingin masuk menemui Hen." Pinta Lisa.
"Iya sudah kamu masuk saja Lisa." Ucap Mamah Marta.
Lisa membuka pintu kamar Hendrik yang tidak dia kunci secara perlahan.
Hendrik terlihat sedang duduk di ranjang membelakangi pintu.
Lisa mendekati Hendrik.
"Sampai kapan kamu tidak pulang Hen?"tanya Lisa.
Seketika Hendrik berdiri dan membalikan badannya mendengan suara yang dia kenal.
"Lisa mau apa kamu kesini? Sudah puas dengan lelaki itu?"
ucapnya dengan menajamkan matanya.
"Hen aku akan jelaskan semuanya, tolong dengarkan."
"Cukup ! aku tak akan mendengarnya."jawab Hendrik dengan kasar.
"Seperti itukah seorang suami? Hen yang kamu maksud pria ini? Bodoh kamu Hen, curiga dengan sepupu Lisa, sedangkan kamu membawa wanita lain di depan Lisa saja dia masih bisa menerimamu. Dimana hati nuranimu Hen?!" Ucap Papah Arif.
Hendrik melihat sekelilingnya, dia begitu kaget melihat papah,mamah dan Lyra serta mertuanya dan Aldi.
"Kalian kenapa kesini semua?"tanya Hendrik.
"Untuk meluruskan semuanya."jawab Aldi.
"Aku tidak bisa kembali padamu Lisa, aku tidak mencintaimu. Tolong kalian semua pulang dari sini." ucap Hendrik.
"Plak.....!" Papah Arif menampar pipi Hendrik.
"Papah kecewa dengan sikapmu yang memperlakukan wanita sebaik Lisa dengan seperti ini, apa belum jelas juga semua sudah memberitahukan siapa Aldi.!" Papah Arif semakin marah.
"Papah, redakan emosi papah, Kak Hen, apa kamu tidak punya hati kak? Aku tau kakak dulu saling mencintai dengan Lisa." ucap Lyra.
"Itu dulu, untuk sekarang sudah tak ada lagi cinta untuknya. Maaf Lisa, aku tidak bisa meneruskan pernikahan yang penuh drama ini."jelas Hendrik.
"Pria bodoh...! Bught...!" Aldi menonjok muka Hendrik.
"Keluar..! Kalian semua....Keluar...!" teriak Hendrik.
Lisa hanya menangis di pelukan Ayahnya.
"Ayah, Lisa gagal maafkan Lisa yah. Ayo pulang yah, Lisa sudah tidak di butuhkan lagi disini."ucap Lisa dengan isak tangisnya.
Lisa melepas pelukan ayahnya dan berlari keluar.
"Lisa, tunggu nak." Ayah Rafli mengejarnya, semua juga ikut mengejar Lisa. Hanya Aldi yang masih di kamar Hendrik.
"Apa kamu masih menginginkan Vian? Kamu bodoh Hen, Lisa wanita baik-baik. Sedangkan Vivian, sebelum denganmu saja sudah pernah degan pria lain."ucap Aldi.
"Dari mana kamu tau."jawab Hendrik.
"Eric tunangannya adalah sahabatku. Satu lagi Hen, pulanglah jika kamu masih ingin bersama Lisa. Sebelum aku mencarikan pria yang lebih segalanya darimu. Dan, baca buku ini, nanti kamu akan tau siapa Lisa sebenarnya." Aldi keluar dari kamar Hendrik dan memberikan buku diary Lisa.
Sementara di ruang tamu Lisa masib saja menangis.
"Lisa, maafkan mamah sayang." Mamah Marta memeluk Lisa.
"Mah, tidak ada yang salah dalam masalah ini mah, ini hanya salah faham saja. Hen memang tidak mencintai Lisa mah, Hen mungkin terpukul karena Vian akan menikah dengan pria lain."jelas Lisa.
"Raf, aku benar-benar minta maaf Raf, aku gagal mendidik Anak laki-lakiku Raf."ucap Papah Arif.
"Sudah Rif, jangan menyalahkan dirimu, dalam sebuah masalah pasti ada jalan keluarnya. Lisa benar mungkin Hen terpukul sekali karena orang yang dicintainya akan menikan dengan Pria lain." Jelas Ayah Rafli.
"Kalau sampai Lisa pisah dengan Hen, kita masih jaga silahturahmi kita kan Raf, kita masih bisa seperti biasa?"
"Rif....Rif...kamu itu bicara apa, tenangkan fikiranmu dulu, jangan pakai emosi saat suasana panas seperti ini. Diminum dulu Rif tehnya biar kamu lebih tenang." Jelas Ayah Rafli.
"Iya Raf."
Mereka masih berada di ruang tamu sambil menikmati teh yang sudah di buatkan Mba Nur.
Sedangkan Hendrik dia membaca catatan hati Lisa di buku Diary nya.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading♥
maaf berhari-hari tidak up. banyak sekali pekerjaan dan lembur terus, maklum akhir tahun.
terima kasih semua yang sudah setia menunggu up nya.