
Pagi-pagi sekali Hendrik terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum melihat istrinya tertidur di pelukannya. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan segera mandi. Setelha selesai mandi dia melihat Lisa masih tertidur pulas. Dia menuliskan puisi pada secarik kertas kecil dan menaruhnya di sebelah Lisa.
Hendrik keluar dari kamar nya,dia pamit dengan Mba Nur keluar sebentar untuk membeli sesuatu.
Hendrik melajukan mobilnya ketempat yang ia tuju. Lisa terbangun dari tidurnya, dia sudah tak mendapati suaminya di tempat tidur. Dia segera memakai bajunya, dan segera turun dari ranjangnya.
"Ahw...sakit sekali." Lisa mengeluh sakit pada pangkal pahanya.
Dia ingat semalam melakukan apa dengan Hendrik. Dia tersenyum sambil mengingat kejadian semalam. Saat hendak turun dari ranjang dia melihat selembar kertas di tempat tidurnya. Lisa membaca puisi dari Hendrik.
DI UJUNG SEPI MALAM
Diujung sepi malam kelam kelelawar mengembik lirih.
Kulukis sunyi hidup sebagai sisa dan ampun darinya.
Tampak cerminkh semakin kusut tua. Terukir air mataku pedih.
Tiada serpihan bahagia kurenggut.
Duhai kau juwita malam.
Pernah kita bertemu bercerita eloknya esok.
Lalu bertengkar kecil tentang kepapaanku.
Dan kaki-kaki kita telah begitu jauh melangkah laju.
Tiba waktu di simpang jalan
Hingga kau jauh di titik hilang.
Maka bila ada salah antara kita adalah aku.
Bila ada dusta antara kita adalah aku.
Dan dosa-sisa serta jelaga noda itulah aku.
Maafkan aku Lisa.
Ajari aku untuk mencintaimu selamanya.
Lisa tersenyum membaca puisi dari Hendrik. Dia keluar menuju dapur untuk menemui Mba Nur dan bertanya kemana Hendrik.
"Mba, Hen di mana ya?tanya Lisa.
"Ohh Mas Hen keluar sebentar katanya, ada yang mau dia beli."jawab Mba Nur.
"Oh ya sudah aku mandi dulu mba, nanti kalau sudah pulang bilang aku mencarinya dan sekarang sedang mandi di kamar."
"Baik Mba Lisa."
Lisa kembali masuk dalam kamarnya, dia segera mandi agar Hendrik pulang dia sudah selesai mandi. Hendrik pulang dengan membawa sebuket mawar merah untuk Lisa. Iya, dia keluar pagi-pagi untuk mencari toko bunga. Hendrik masuk ke dalam rumahnya, terlihat Mba Nur sedang menyiapkan sarapan untuk Hen dan Lisa.
"Mba Lisa sudah bangun?"tanya Hen pad Mba Nur.
"Sudah mas, tadi Mba Lisa tanya Mas Hen kemana, saya bilang sedang keluar sebentar. Lalu, Mba Lisa kembali ke kamarnya untuk mandi."jawab Mba Nur.
"Oh ya sudah mba aku masuk ke kamar dulu."
Hendrik masuk ke dalam kamarnya, Lisa belum terlihat keluar dari kamar mandi, masih terdengar suara gemercik air di kamar mandi. Hendrik mendudukan dirinya di tepi ranjang, dia menyembunyikan sebuket bunga mawar di belakang punggungnya.
"Hen, kamu sudah pulang? Dari mana pagi-pagi sudah keluar?"tanya Lisa.
"Ada sesuatu yang ingin ku beli Lisa."jawabnya sambil berjalan mendekati Lisa.
Hendrik berdiri tepat di depan Lisa, dia terus menatap wajah istrinya dalam-dalam.
"Lisa, terima kasih untuk semalam."ucapnya sambil mencium lembut bibir Lisa.
"Ini untukmu Lisa." Hen memberikan sebuket bunga mawar untuk Lisa.
"Hen....terima kasih, jadi kamu keluar pagi-pagi untuk membeli ini?"
"Iya Lisa, maaf hanya bunga. Oh iya ada satu lagi. Ini untuk mu." Hen memberikan coklat kesukaan Lisa.
"Wah...coklat, terima kasih Hen. Terima kasih juga puisinya, aku suka.
"Iya Lisa sama-sama." Hen menatap tubuh Lisa yang sexy dengan dililit handuk saja.
Dia melingkarkan tangannya ke pinggul Lisa dan mencium lembut bibir Lisa. Hen memperdalam ciumannya. Dan mengambil bunga dan coklat yang di pegang Lisa untuk di taruhnya di meja. Hen merangkul tubuh Lisa lagi, dia melanjutkan mencium bibir Lisa. Lisa membalas ciuman Hen hingga terdengar kecapan dari bibir mereka. Hen membuka handuk yang melilit tubuh Lisa hingga terlepas jatuh ke lantai.
Lisa tak menghiraukannya, dia sekarang tak memakai apa-apa di tubuhnya. Tangan Hen mulai menyentuh setiap inci tubuh Lisa. Dan, tangan Lisa membuka kancing baju Hen hingga terlepas semua dan dada bidang Hen terpampang sempurna di depan Lisa.
"Hen..." Lisa mulai merancau saat Hen semakin ganas memainkan dada Lisa dengan mulutnya.
Hendrik melepas celananya, dan terpampang milik Hen yang kekar, tangan Hen menunutun tangan Lisa agar menyentuhnya, Lisa yang ragu-ragu untuk menyentuhnya akhirnya dia menyentuh juga milik Hen. Lisa mengurut milik Hen dari pangkal Hingga ujung .
"Ohww...Lisa."rancau Hen yang membuat Lisa semangat lagi mengurutnya.
Jari jemari Hen menyusup kedalam milik Lisa, jari Hen dengan lihai bermain di dalam milik Lisa hingga Lisa menikmati setiap permainan jari Hen.
"Ahhw...Hen...." Lisa merancau merasakan nikmat yang dalam.
Hen menggendong tubuh Lisa ke ranjang dan merebahkannya. Hen memulai lagi aktivitasnya. Hen langsung membenamkan miliknya ke dalam milik Lisa. Lisa masih meringis ke sakitan.
"Ahhkk...Hen."
"Iya sayang, tahan sebentar ya." Lisa hanya menganggukan Kepalanya. Hen terus memainkan miliknya. Erangan Lisa semakin keras dan akhirnya mereka berdua mencapai puncak bersama.
"Lisa terima kasih sayang."ucap Hen yang masih di atas tubuh Lisa dengan mencium bibirnya.
Mereka membersihkan badannya bersama di kamar mandi, setelah itu mereka keluat dari kamar menuju ke meja makan untuk sarapan.
Lisa mengambilkan Nasi dan Lauk untuk Hen. Setelah itu tanpa basa basi Lisa langsung menyantap makanan di depannya dengan lahap.
"Lisa, hati-hati makannya. Nanti tersedak."
"Aku lapar sekali hen."jawabnya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Maafkan aku Lisa, aku membuat kamu lelah dan kelaparan seperti ini."
"Hen itu sudah kewajibanku sebagai istri."
"Ya sudah habiskan makananmu, setelah itu aku akan ajak kamu ke suatu tempat lagi."
"Oke."
Lisa dan Hendrik menghabiskan sarapannya. Setelah itu Hen mengajak Lisa ke wisata air panas dan mereka di sana menyewa Villa untuk dua hari.