Monalisa

Monalisa
Bab 2 - MONALISA



(Monalisa Boutique)


Jam 9 pagi aku sudah sampai di butik ku. Aku turun dari mobilku dan masuk ke dalam butik.


"Pagi Mba Lisa," sapa Indira.


"Pagi Ra." Aku langsung bergegas masuk ke ruanganku di atas.


Aku duduk di kursi dan mulai membuat desain. Aku masih mengingat kata kata ayahku. "Menikah" satu kata yang masih jelas di telingaku.


Siang ini tante Marta datang dengan anaknya yang bernama Lyra akan ke sini. Lyra yang sebentar lagi mau menikah. Dia bersama calon suaminya datang ke butik ku untuk fitting gaun pengantin yang kemarin di pesannya.


"Gaun ini sangat cantik sekali. Ah… kenapa aku memikirkan kapan aku memakai Gaun ini ?" gumamku sambil menata dan melihat gaun milik Lyra.


Aku keluar dari ruang kerjaku dan turun ke bawah. Disana sudah terlihat Lyra dan Tante Marta juga calon suaminya. Aku mendekati mereka.


"Selamat siang Tante Marta, Lyra," sapaku.


"Siang Lisa, tambah cantik sekali kamu, nak. Hampir satu bulan tidak bertemu kamu makin cantik saja." Tante Marta memeluku dan mencubit pipiku. Aku merasa nyaman di peluknya mungkin karena aku merindukan pelukan ibuku.


"Tante bisa saja," ucapku.


"Mana gaunku Lisa?" tanya Lyra.


"Ini gaunnya? Bagamana menurutmu, cantik tidak? Apa masih ada yang harus ku perbaiki?" Aku menunjukan gaun milik Lyra yang sudah berhasil aku buat secantik mungkin.


Lyra melihat detail gaun pengantinnya. Terlihat senyum yang mengambang pada wajah Lyra, yang menandakan dia puas dengan gaun buatanku.


"Diluar dugaanku, Lisa. ini sangat cantik sekali dan anggun sekali." Lyra reflek memeluku karena suka sekali dengan gaunnya.


"Terima kasih kalau kamu suka," jawabku.


"Sangat suka dan sangat puas." Dia kembali memelukku karena dia meras puas dengan gaun itu.


Aku juga memperlihatkan jas untuk calon pengantin pria.


"Ini jas untuk calon suami mu. Di coba dulu pas atau tidak nanti kalau kurang pas biar di perbaiki lagi," ucapku sambil memberikan jas yang di pesan calon suami Lyra.


"Lisa suamimu kerja dimana? Pasti suamimu bangga sekali memiliki wanita cantik sekali dan pintar seperti kamu," tanya Tanta Marta.


"Emmm tante, maaf, Lisa masih sendiri, Lisa belum menikah," jawabku dengan sedikit malu pada Tante Marta.


"Sayang, maafkan tante, kenapa belum menikah sayang?" tanya Tante Marta lagi.


"Yah mungkin Tuhan belum memberikanku jodoh tante." Aku hanya berkata seperti itu dan tersenyum agak berat pada Tane Marta.


"Sabar sayang, mungkin belum saatnya. Anak tante juga belum menikah. Dia kakak nya Lyra. Mungkin seusiamu. Anak laki laki tante mungkin terlalu memilih jadi seperti itu. Dia juga mau kesini nanti dengan ayahnya. Baju untuk keluarga juga sudah jadi kan?"


"Iya tante sudah jadi. Sedang di siapkan oleh pelayan. Memang anak laki laki tante umur berapa?"


"Emmm 32 tahun, kalau kamu?"


"Sama tante. Ya, mungkin belum saatnya menikah tante. Lisa yakin semua akan indah pada waktunya."


"Iya Lisa, bersabarlah."Sebentar tante Lisa tinggal dulu, mau lihat baju yang untuk keluarga sudah siap belum."


"Oke, baiklah."


Aku masuk mengecek baju untuk keluarga tante Marta dan besannya. Aku memepersiapkannya satu persatu bajunya.


"Mba siapkan sebaik mungkin bajunya jangan sampai ada yang lupa soalnya ini banyak sekali," titahku pada pelayan butikku.


"Baik Mba Lisa," jawabnya.


"Aku tinggal sebentar ke ruanganku, ya? Nanti kalau sudah siap panggil aku, aku mau istirahat sebentar," ucapku.


"Iya, Mba. Mba sedang sakit? pucat sekali wajah Mba Lisa?"


"Mungkin kecapaian dan kurang tidur saja. sudah siapkan baju-bajunya aku ke ruanganku sebentar."


aku masuk ke dalam ruanganku. Aku merasa lelah sekali. Aku mengambil roti dari dalam tasku. Aku tidak bisa kalau telat makan, pasti asam lambungku langsung naik apalagi semalam aku meminum kopi. Aku menikmati roti selai kacang yang ku bawa dari rumah dan meminum teh yang tadi aku buat.


"Kenapa semua orang menanyakan kapan aku menikah? Ahhh...Lisa....! Move on lah, dari pria itu. Mau di cari ke ujung dunia pun tak akan kamu bertemu. Dia sudah kecewa denganmu dan mungkin sudah lupa bahkan sudah menikah dan hidup bahagia dengan anak dan istrinya." Aku berkata lirih dan tak henti aku mengunyah roti yang aku bawa.