
Pagi hari, monalisa terbangun dari tidurnya, yang pertama dia lihat adalah ponselnya, dia mengharapkan Hendrik membalas pesannya. Namun tak ada pesan balasan masuk ke ponsel Lisa dari Hendrik.
"Hen,kamu dimana? Hen,pulanglah ini semua salah faham Hen, Aldi adalah sepupuku."lirih Lisa dalam isak tangisnya.
Lisa keluar dari kamarnya, dia melihat Aldi yang sudah menatakan sarapan untuk Lisa di meja makan.
"Pagi Lisa, saralan dulu sayang, jangan terlalu di fikirkan, nanti kita cari Hendrik. Aku akan mejelaskan semua padanya."ucap Aldi.
"Pagi juga Al, ayo kita sarapan dulu. Aldi, apa Hendrik akan meninggalkanku?"
"Lisa, jangan memikirkan yang tidak tidak dulu, bisa kita selesaikan masalah ini bersama. Jangan khawatir, aku akan membantu menyelesaikan nya, karena bagaimanapun, aku juga ikut bersalah dalam hal ini."jelas Aldi.
Lisa dan Aldi sarapan bersama, setelah selesai sarapan Lisa memutuskan untuk mencari Hendrik ke Apartemennya.
"Al, kita cari Hen di apartemen nya ya setelah ini."
"Oke...aku antar nanti, aku akan jelaskan semuanya."
"Baiklah, aku akan mandi dan siap siap terlebih dahulu."
"Aku juga mau mandi dulu."
Lisa dan Aldi bersiap siap untuk pergi mencari Hendrik ke Apartemen nya.
Mereka sudah siap untuk berangkat mencari Hendrik.
"Sudah siap Lisa?"
"Sudah Al."
"Tenangkan hati mu kita berangkat."
"Okey aku baik baik saja Al."
Aldi melajukan mobilnya ke apartemen Hendrik. Sesampainya di sana Aldi memarkirkan mobilnya Aldi dan Lisa masuk ke dalam apartemen, mereka menaiki lift dan sampailah mereka di depan unit milik Hendrik.
Aldi mengetuk pintu apartemen Hendrik, namun tak ada sahutan dari dalam.
"Lisa, apa Hen tidak disini?"
"Aku tak tau Al, yang aku tau dia sering disinu bersama Vian."
"Vian? Vian tunangan Eric?"
"Emmm iya, sebenarnya dia sudah lama menjalin hubungan dengan Vian, setelah aku dan Hen menikahpun Hen masih menemui Vian bahkan....."Lisa berhenti berbicara, dia kembali menangis dan Aldi membawa Lisa dalam pelukannya.
"Bahkan apa Lisa? Ceritakan lah pada ku Lisa. Sebenarnya kamu tak bahagia kan menikah?"
Tangis Lisa semakin pecah, Aldi semakin erat memeluknya.
"Ayo kita kembali ke mobil, kita cari tempat yang nyaman untuk kamu bercerita."ajak Aldi.
Aldi mengajak Lisa pergi dari Apartemen Hendrik, mereka berjalan menuju tempat perkir untuk mengambil mobil nya.
Mereka masuk ke dalam mobil, dan Aldi melajukan mobilnya menuju rumah Lisa untuk mengajak Lisa berbicara masalah nya dengan Hendrik.
Sesampainya di rumah Lisa mereka turun dari mobil dan masuk kedalam rumah Lisa.
"Lisa, sudahlah jangan menangis."ucap Aldi yang melihat Lisa duduk di kursi ruang tamu sambil menangis.
"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi Lisa."sambung Aldi lagi.
"Al, sebenarnya aku dan Hendrik dulu saling mencintai sewaktu SMA, tapi aku tau kenapa tiba tiba dia membenciku Al."
"Lalu kenapa kamu bisa menikah dengan Hendrik Lisa?"tanya Aldi.
"Ayah dan papah nya Hendrik ternyata sahabat dekat Al, dan mamah nya Hendrik sangat menginginkan aku menjadi istri Hendrik."jelas Lisa.
"Lalu hubungan nya dengan Vian? Aldi bertanya kembali dan sangat penasaran.
"Dia sudah lama menjalin hubungan dengan Vian Al, namun orang tua Vian tak merestuinya, Hendrik berkali kali melamarnya, tapi selalu di tolak oleh orang tua Vian. Sampai pada suatu saat, orang tua Vian menjodohkan Vian dengan Eric. Dan Eric, dia adalah cinta pertama Vian semasa dulu. Hendrik mencoba mempertahankan hubungan nya dengan Vian hingga saat ini Al."jelas Lisa dengan isak tangisnya.
"Lalu kamu dan Hendrik?" Aldi Semakin penasaran dengan kehidupan Lisa sekarang.
"Aku dan Aldi seperti menjalani drama Al selama ini, dia masih berhubungan dengan Vian, dan 2 hari setelah pernikahan kami, dia membawa Vian kerumah ini, mereka melakukan hal yang seharusnya mereka tidak lakukan. Dia bercinta di hadapanku Al." tangisan Lisa semakin menjadi.
"Aku hanya berpura pura bahagia Al di depan Ayah, tolong jangan beri tahu Ayah tentang kehidupan rumah tanggaku sekarang ini."lanjut Lisa.
"Lisa, kamu mencintai Hendrik?" tanya Aldi.
"A....aku sangat mencintainya Al, dari dulu waktu pertama Hendrik menyatakan cinta kepadaku saat masih SMA, tapi tiba tiba dia membenciku Al, dia bilang aku wanita tak suci lagi, sering di bawa seorang pria ke Hotel, apa aku seperti itu Al? Sedangkan sewaktu aku SMA jarang sekali memiliki teman Pria, hanya kamu teman ku Al."jelas Lisa.
"Sebentar Lisa, ke hotel bersama Pria? Lisa, bukankah dulu kita sering ke hotel waktu itu, karena kita sering bolak balik ke rumah sakit waktu ibumu sakit dulu. Memang kita sering sewa hotel kan Lisa? Apa yang Hendrik lihat adalah aku? Kamu tidak pernah kan Lisa melakukan nya dengan Pria lain?"
"Aldi, bagaimana mungkin aku melakukannya denga pria lain, dengan Hendrik suami ku sendiri saja tidak pernah."ucap Lisa.
"Hendrik sama sekali belum menyentuhmu?"
Lisa hanya menggelangkan kepalanya.
"Bagaimana aku melakukannya, aku tidur saja terpisah Al."jelas Lisa.
"Hendrik, bodohnya kamu Hen...aku akan hubungi Eric, siapa tau Vian sedang bersama nya, kita harus mencari Hendrik sekarang Lisa."
"Sudah Al, aku sudah lelah dengan semua ini, jika suatu saat dia pulang, hendrik masih jodoh ku, jika tidak, aku tak tau harus bagaimana caranya menyampaikan ini semua pada Ayah, mamah Marta dan Papah Arif."ucap Lisa.
"Aku akan selalu membantumu Lisa. Percayalah, aku akan menemukan Hendrik."
"Aku tak tau Al, aku mau istirahat, hari ini aku tidak ke butik dulu. Temuilah Ayah, dia sangat merindukanmu, biarkan aku disini sendiri dulu. Tolong jangan bilang Ayah tentang semua ini."pinta Lisa.
"Iya, aku akan temui om Rafli dan aku tak akan menceritakan nya."
"Janji?"
"Iya Lisa , kapan aku berbohong dengan kamu."
"Terima kasih Aldi."
"Oh iya Lisa, di kulkas ada puding dan salad buah,tadi pagi aku membuatkan untukmu. Makanlah, sudah jangan fikirkan Hendrik, dia pasti baik baik saja. Aku pamit menemui Ayahmu."
"Iya Al, terima kasih. Kamu hati hati, sampaikan salamku pada Ayah."
"Okey."
Aldi keluar dari rumah Lisa, dia melajukan mobil menuju rumah Om Rafli.
Lisa masih saja duduk dan menangis.
"Hen, kenapa salah faham ini semakin menjadi, kamu dimana pulang lah Hen." lirih Lisa dalam isak tangisnya.
"Lisa tenanglah, jika Hendrik adalah jodohmu, dia akan kembali padamu Lisa. Kamu harus bisa melanjutkan hidupmu dengan baik, ini bukan akhir dari segalanya Lisa."gumam Lisa dalam hati.
Lisa beranjak dari tempat duduknya, dia pergi ke kamarnya dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Mata Lisa terlihat sembab sekali, Lisa menuju lemari pakaian, dia mengambil pakaian santai untuk di rumah, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian santai favoritnya.
Dia mengambil ponselnya dan mendudukan dirinya di ranjang, lalu menghubungi Indira manajer butik nya bahwa hari ini dia tak pergi ke butik.
(Terhubung)
{Hallo Indira.}
{Iya mba Lisa, ada apa?}
{Ra, aku hari ini tidak enak badan, aku tidak ke butik dulu ya, tolong handle semua pekerjaanku dulu.}
{Baiklah mba Lisa, semoga cepat sehat kembali mba.}
{Oke, terima kasih.}
Lisa mengakhiri telfonnya dengan Indira, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kepalaku pusing sekali, lebih baik aku istirahat dan tidur." ucap nya lirih.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Malam hari nya Lisa masih tertidur, Aldi sudah pulang dari rumah Om Rafli, dia masuk ke dalam rumah Lisa yang tidak terkunci.
"Lisa dimana, pintu tidak di kunci seperti ini."lirih Aldi sambil melangkahkan kaki nya menuju kamar Lisa.
Aldi membuka pintu kamar Lisa yang tidak terkunci.
"Dia masih tidur, wajahnya kenapa pucat sekali?" Aldi mendekati Lisa, dan dia menyentuh kepala Lisa .
"Ya Tuhan, badannya panas sekali, denyut nadinya juga melemah." Aldi panik sekali.
"Lisa, bangun sayang, hei....bangun Lisa..!" seru Aldi membangunkan Lisa.
Namun Lisa sedikitpun tidak membuka matanya.
Aldi menggendong Lisa dan berniat membawa ke rumah sakit.
Aldi merebahkan Lisa di dalam mobil. Aldi melajukan mobilnya sangat cepat menuju rumah sakit.
Aldi sudah sampai di rumah sakit, dia langsung menuji ke depan IGD, Aldi turun dan memanggil beberapa perawat.
"Suster, tolong adik saya!" seru Aldi.
"Baik pak, silahkan bapak menunggu di luar, biar dokter memeriksanya."
Aldi menununggu di depan ruang IGD, die terlihat mondar mandir panik sekali, dia merasa bingung harus menghubungi siapa.
"Bagaimana ini, tidak mungkin aku menghubungi Om Rafli atau keluarga Hendrik, jika aku menghubungi mereka tau sebenarnya masalah Lisa dan Hendrik. Tuhan.....aku harus bagaimana?" lirih Aldi kebingungan.
Aldi mencoba duduk menenangkan diri, dokter belum selesai memeriksa Lisa.
Ponsel Aldi berbunyi, Aldi melihat siapa yang menelfonnya.
"Ada apa Eric menelfonku." gumamnya.
Aldi mengangkat telfon dari Eric.
{Hallo Ric ada apa?}
{Kamu sedang sibuk? Kita ke caffe yuk Al.}
{Lalu kamu dengan Hendrik disitu?}
{Inilah masalahnya Ric, Hendrik dari kemarin malam pergi entah kemana, aku tak tau, masalah Lisa dan Hendrik sangat rumit sekali.}
{Oke, tunggu aku, kamu dirumah sakit mana? Aku akan segera kesitu.}
{Dirumah sakit S Ric}
{Baiklah tunggu aku, aku akan segera menemuimu.}
Aldi menutup telfon dari Eric. Dokter yang memeriksa Lisa keluar dari ruang IGD.
"Anda keluarga Ibu Lisa?" tanya dokter tersebut.
"Iya saya kakak nya dok."
"Ibu Lisa mengalami dehidrasi berat pak, dia harus di rawat dulu sementara. Tidak perlu khawatir, sebentar lagi ibu Lisa sudah bisa di pindahkan ke ruangan pasien."
"Tidak ada masalah yang lain nya dok."
"Tidak pak, ibu Lisa harus di jaga juga pola makan nya dan jangan terlalu banya fikiran dulu."
"Iya dok, terima kasih."
"Sama sama pak."
Aldi mengikuti perawat yang akan memindahkan Lisa keruangan pasien.
Sekarang Lisa sudah berada di ruangannya, Aldi duduk di samping Lisa yang masih menutup matanya.
"Lisa, jangan buat aku khawatir sayang, please buka matamu Lisa." lirih Aldi sambil mencium kening Lisa.
Eric dan Vian sudah berada di rumah sakit, mereka mencari ruangan Lisa yang mereka tanya kan tadi di receptionist.
"Aldi" sapa Eric yang sudah masuk ke ruangan Lisa.
"Bagiamana Lisa Al ?" tanya Vian.
"Dia belum sadarkan diri, tapi suhu tubuhnya sudah mulai menurun" jawab Aldi.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Lisa?"tanya Eric.
"Lisa seperti ini mungkin banyak fikiran Ric, Hendrik pergi entah kemana dari kemarin malam, aku dan Lisa tadi pagi mencari Hendrik ke apartemen nya,namun setelah sampai sana Hendrik sepertinya sudah tidak ada di unitnya. Kami memutuskan kembali pulang ke rumah Lisa, dan Lisa menceritakan semua pada ku tentang rumah tangganya bersama Hendrik dan maaf, hubungan Vian dan hendrik juga Lisa ceritakan" jelas Aldi.
"Maafkan aku Al, ini semua karenaku."ucap Vian.
"Jangan menyalahkan dirimu, ini semua adalah kesalah fahaman yang sudah bertahun tahun terpendam hingga sekarang."ucap Aldi.
"Maksudmu kesalah fahaman apa Al?"tanya Eric.
"Lisa dan Hendrik sewaktu SMA dulu saling mencintai, Hendrik mungkin sangat cemburu padaku, karena aku sering menjemput Lisa di sekolahan nya dulu, mungkin dia mengikuti kami, dan pada waktu itu, kami masuk ke sebuah hotel yang dekat dengan rumah sakit dimana ibunya Lisa dulu di rawat sewaktu sakit. Kami memang menyewa hotel untuk kami tempati beberapa hari, disaat itu mungkin Hendrik mengikuti dan Lisa, dia menganggap Lisa wanita yang tak Suci lagi, dia membenci Lisa, sampai sekarangpun Hendrik membencinya. Lisa mencoba menjelaskan dari dulu kepadanya namun Hendrik tak mau mendengarnya. Dia belum pernah sedikitpun menyentuh Lisa, bahkan mereka tidur terpisah selama mereka menikah, pernikahan mereka hanya sebatas drama, karena mereka tak mau mengecewakan orang tua mereka masing masing." jelas Aldi.
"Hendrik sungguh keterlaluan."ucap Eric.
"Aku akan membantu menemukan Hendrik." ucap Vian.
"Iya, aku butuh bantuanmu Vian, aku bingung Lisa seperti ini, aku tak berani memberitahu keadaannya pada Ayah nya atau keluarga Hendrik."
"Al, apa Lisa mencintai Hendrik?"
"Dia sangat mencintainya Vian, sejak dulu, bahkan dia rela tidak mencintai pria lain dalam hidupnya."jelas Aldi.
"Aku janji akan membantu mencarikan Hendrik. Sayang, ijinkan aku membantu Lisa, sudah banyak kesalahan yang aku lakukan pada Lisa." Vian meminta izin pada Eric.
"Iya boleh, aku juga akan membantumu mencari Hendrik."jawab Eric.
"Terima kasih sayang."
"Iya Vian sama sama."
Mereka duduk memandangi Lisa yang masih belum membuka matanya.
"Hen...."ucap Lisa lirih.
"Lisa, kamu sudah sadar?"ucap Aldi mendekati Lisa.
"Al, aku dimana? Dimana Hendrik?" Lisa memandangi sekitar ruangan nya.
"Kamu di rumah sakit sayang, Hendrik dia belum pulang, sebentar aku panggilkan dokter dulu ya."ucap Aldi.
Aldi keluar memanggil dokter.
Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan Lisa dan memeriksa Lisa secara detail.
"Ibu Lisa, jangam banyak fikiran dulu, dan jaga pola makan."ucap dokter.
"Baik dok."ucap Lisa dengan suara lemah.
Dokter dan perawat pergi meninggalkan ruangan Lisa.
"Sayang minum dulu, kata dokter kamu juga dehidrasi, harus banyak minum." Aldi memberika air putih pada Lisa.
Vian mendekati Lisa dan duduk di kursi sebelah pembaringan Lisa.
"Hai Lisa, aku sudah tau ceritamu dari Aldi. Aku akan coba membantu mencarikan Hendrik, kamu fokus dengan kesehatanmu dulu Lisa, jangan terlalu banyak fikiran, percayalah Hendrik akan pulang." jelas Vian.
"Terima kasih Vian."ucap Lisa.
"Kamu mau makan bubur Lisa? Atau buah?" Aldi menawarkan Lisa untuk makan.
"Al, bawakan bubur itu kesini aku mau makan." pinta Lisa.
"Okey, biar aku menyuapimu."
Aldi menyuapi bubur pada Lisa.
Vian terlihat sedang mengupas Apel untuk Lisa.
Setelah Aldi selesai menyuapi bubur pada Lisa, Vian memberikan Apel yang telah di kupasnya tadi.
"Lisa makanlah apel ini."
"Terima kasih Vian."
Lisa memakan Apel yang Vian berikan.
"Al.."panggil Lisa.
"Iya Lisa."
"Ayah tau aku di rumah sakit?"
Aldi menggelengakan kepalanya dan menjawab.
"Aku tak memberitahukan keadaanmu Lisa. Aku bingung, masalah ini sungguh pelik, bagaimana bisa aku menjelaskan semua pada Om Rafli, aku takut kesehatan beliau juga terganggu karena memikirkanmu."jelas Aldi.
"Iya Al, jangan beritahu Ayah dan juga keluarga Hendrik."
"Ya sudah, kamu juga harus cepat cepat sehat Lisa, perjuangan kamu masih panjang."
"Iya Al."
Mereka masih di ruangan Lisa sambil mengobrol, hari sudah semakin larut Vian dan Eric berpamitan untuk pulang.
"Lisa, kami pamit dulu ya, cepatlah sehat, aku akan membantumu mencari Hen."
"Terima kasih Vian."
"Oke sama sama, aku pamit pulang dulu, besok pagi aku akan menjengukmu lagi."
"Hmmm baiklah kalian hati hati ya?"
"Iya Lisa."
"Lisa kami pulang dulu ya."
"Iya Eric hati hati, terima kasih."
"Al jaga Lisa, kami pulang dulu."
"Itu pasti Ric. Kalian hati hati."
"Oke."
Eric dan Vian keluar dari ruangan Lisa, mereka berdua pulang kerumah Eric.
"Tidurlah Lisa sudah malam, jangan memikirkan yang berat dulu. Aku akan selalu membantu mu Lisa."
"Iya Al, terima kasih. Maaf merepotkanmu."
"Kamu itu, seperti dengan siapa saja. Aku tak pernah merasa di repotkan kamu Lisa. Sudah tidurlah, aku juga akan tidur di sofa."
"Baiklah, selamat tidur Aldi, mimpi indah."
"Iya Lisa, mimpi indah juga sayang."ucap Aldi dengan mencium kening Lisa.
Lisa memejamkan matanya untuk tidur, dan Aldi merebahkan dirinya di atas Sofa yang ada di ruangan Lisa.
.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading♥