Monalisa

Monalisa
Bab 7 - MONALISA



*Di rumah Pak Arif*


Malam ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga membicarakan pernikahan Lyra anak bungsu pak Arif.


"Hen, bagaimana, kamu mau kan menikah dengan Lisa?" tanya mama Marta.


"Ma, jangan bahas ini. Hen tidak mencintai Lisa. Hen tetap pada Vivian. Hen akan membuktikan pada orang tua Vivian ma?" jawab Hen.


"Hen, malu lah sedikit dengan keluarga Vivian. Lamaran kamu sudah di tolak 3 kali, Hen. Mau ditaruh mana muka kami jika mencoba melamar Vivian lagi, hah? Kamu laki-laki Hen, jangan seperti itu. Harga dirimu mau di taruh di mana?" tutur Pak Arif.


"Apa kurangnya Lisa, Kak Hen? Bahkan dia lebih cantik dari Vivian menurutku," sambung Lyra.


"Aku tak mau bahas ini, sudah terserah kalian saja. Percuma Hen menolak juga tetap di paksa," ucap Hen kesal.


"Bukan mama memaksa mu, Nak. Mama mau yang terbaik buat kamu. Kamu laki-laki. Mama tidak mau kamu di injak-injak oleh keluarga dari istrimu kelak. Vivian cantik dan baik. Mama suka, tapi orang tua mereka, Nak? Keluarga kami hanya pengusaha biasa. Mereka pengusaha kaya raya. Mama tidak mau anak mama di injak-injak oleh keluarga Vivian. Walaupun kita hidup sederhana tapi kita harus punya harga diri, Nak," jelas Mama Marta dengan tatapan sendu pada Hendrik.


"Hen, kamu tahu , papa mendirikan sebuah perusahaan ini dengan susah payah bersama mamamu. Dan, papa bangga sekali walau perusahaan kita tak sehebat yang lain. Makanya papa tidak mau kalau kamu di pandang sebelah mata oleh keluarga Vivian. Iya, papa akui Vivian gadis yang baik, papa suka kamu dengan dia. Tapi papa tidak suka dam tidak terima anak papa di injak-injak oleh keluarganya. Papa tak mau itu terjadi nak," ucap Pak Arif.


"Kak, cinta bisa tumbuh jika sudah terbiasa hidup bersama. Percayalah, suatu saat kamu bisa mencintai Lisa, Kak," tutur Lyra.


"Ya sudah, apa yang terbaik untuk keluarga ini. Aku menurut saja. Tapi maaf, Hen tidak bisa mencintai Lisa," ucap Hendrik sambil berlalu meninggalkan mereka ke kamar.


"Hen, mama doakan kamu dan Lisa akan hidup bahagia jika menikah nanti," ucap Mama Marta.


"Hmmm," Hendrik hanya bergumam.


Hendrik masuk ke dalam kamarnya. Dia masih belum bisa menerima perjodohan ini. Hanya Vivian yang ia cintai, bukan Lisa.


♡Hendrik♡


"Arrgghht...! Maafkan aku Vivian. Aku harus bagaimana? Aku tidak tega meninggalkanmu. Hubungan kita sudah melebihi batas, walaupun bukan aku yang mengambil keperawanan mu. Tapi, apa harus dua kali aku hidup dengan wanita yang sudah didahului oleh pria lain?"


Hatiku memberontak. Aku ingin sekali menolak semua keinginan mama dan papa, tapi apalah dayaku. Aku memang sudah di rendahkan sekali oleh keluarga Vivian. Memang keluarga Vivian kaya raya. Jadi ayahnya ingin Vivian dengan lelaki yang sepadan hartanya.


Vivian memang pernah melakukan dengan pria lain sebelum aku. Tapi, kenapa aku tak sedikit pun marah dengan dia? Aku bisa menerimanya hingga bertahun tahun dengan dia. Sedangkan aku yang dulu melihat Lisa dengan Pria itu keluar dari sebuah hotel, aku sangat marah sekali dan aku sangat membencinya hingga sekarang, apalagi sekarang aku harus menikah dengan dia. Aku akan di jodohkan dengan Lisa.


"Lisa, dulu aku sangat mencintaimu, bahkan mungkin di hati ku yang paling dalam ini masih ada sedikit bekas rasa cintai untukmu. Apa rasa ini akan tumbuh lagi? Ataukah kebencian untukmu akan terus bertambah? Aku tak bisa Tuhan, aku tak bisa menikah dengan Lisa."


Aku berkata lirih dalam hatiku. Ini sungguh berat sekali jika aku harus menikah dengan Lisa. Aku juga tidak bisa menolak, karena ini permintaan mamah.


Terdengar suara orang mengetuk pintu kamarku. Aku hanya diam, membiarkannya.


"Hen, ini mamah. Boleh mamah masuk?"


"Masuklah mah."


"Hen, kalau kamu setuju kita harus cepat cepat memberitahu om Rafli."


"Iya beritahu saja mah." Aku tidak percaya akan menjawab seperti itu. Aku tidak percaya bibir berucap seakan menyetujui perjodohan ku dengan Lisa.


"Baiklah, mamah keluar."


"Hemm..."


Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Jalan satu-satunya aku harus menuruti orang tuaku. Aku tau mereka sudah kecewa sekali dengan keluarga Vivian. Aku tak mau mengecewakan mamah dan papah lagi. Aku takut papah akan kambuh Darah tingginya jika aku terus membangkang pada mereka.


"Sekali lagi maafkan aku, Vivian". Tak terasa aku meneteskan air mataku saat aku mengingat Vivian.