
Setelah melangsungkan pernikahannya Eric dan Vivian kembali ke Jepang. Mereka membangun rumah tangga mereka di Jepang. Bagaimana Vivian tak bahagia, Eric sosok lelaki yang sangat penyabar dan penyayang. Vivian merasakan kasih sayang Eric yang sungguh luar biasa untuk dirinya.
Perut Lisa semakin membuncit, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke-8. Hendrik bahagia sekali karena kandungan Lisa sehat, dan anak yang ada di kandungan Lisa berjenis kelamin laki-laki. Dia selalu memanjakan istrinya, apa yang Lisa inginkan selalu ia turuti.
"Hen, kamu tidak ke kantor? Sudah siang ini," ucap Lisa sambil memeluk Hendrik dari belakang.
"Pekerjaanku aku bawa ke rumah, jadi aku bisa menemanimu sambil bekerja di rumah," ucapnya.
"Jangan berlebihan seperti itu. Aku di rumah ada bibi, tidak apa-apa kamu ke kantor saja," ucapnya
"Tidak, aku ingin di rumah saja." Hendrik membalikan tubuhnya dan mengusap perut Lisa lalu menciumnya.
"Anak kita masih nakal?" tanya Hendrik. Dari semalam Lisa tidak bisa tidur karena anak yang ada di kandungannya aktif bergerak.
"Tidak, dia tidak nakal. Yang nakal papahnya," ucap Lisa manja.
"Kamu bisa saja. Lisa ayo ikut ke kantor, aku ingin ditemani kamu saat bekerja,"ucap Hendrik.
"Kamu jangan manja gitu dong, sayang. Masa kerja saja harus aku temani?" ucap Lisa. Hendrik seketika cemberut karena Lisa menolaknya ikut ke kantor
"Ya sudah aku ikut, aku temani kamu kerja." Seketika senyum Hendrik terurai di wajahnya saat Lisa mengiyakan ajakannya ke kantor.
Lisa mengikuti apa kata suaminya, dia ikut Hendrik ke kantornya. Sebenarnya Lisa ingin sekali bermalas-malasan di kamar, ingin sekali dia tidur-tiduran di kamar. Tapi, mau bagaimana lagi, Hendrik memintanya untuk menemani di kantor.
"Aku tau, kamu ingin malas-malasan di kamar kan? Kandungan mu sudah besar, harus banyak gerak jangan malas-malasan, sayang," ucap Hendrik sambil mengusap pipi istrinya sambil mengemudikan mobilnya.
"Iya sih, tapi aku ingin rebahan,"ucap Lisa manja.
"Tenang, ada kamar di kantorku, nanti kamu bisa tidur sepuasnya, asal kamu ada di dekatku saat aku bekerja," ucap Hendrik.
Di ruangan Hendrik memang ada kamar pribadinya, kamar itu biasa di gunakan Hen untuk istirahat dan untuk bermanja dengan Vian saat dulu mereka masih bersama. Kadang ingatan itu muncul di memori Hendrik, betapa gila hubungan mereka dulu dengan Vian. Setiap hari dia tidak bisa lepas mengeksekusi tubuh Vian, padahal sudah berkali-kali melakukannya di Apartemen, dia tetap membawa Vian ke kantor hanya untuk melakukan hubungan badan untuk melepaskan hasrat mereka.
Hendrik dan Lisa sampai di kantor Hendrik. Kantor Hendrik cukup besar, dia juga di hormati semua karyawannya. Setiap karyawan yang berpapasan dengan Hendrik pasti memberi salam dan menundukkan kepalanya.
"Istri Pak Hen cantik sekali, beda dengan wanitanya yang dulu." Sebuah celotehan dari karyawan wanita Hendrik terdengar di telinga Lisa.
"Apa yang mereka maksud Vivian?"tanya Lisa dalam hatinya.
Hendrik mengajak Lisa masuk ke ruangan kerjanya, Lisa duduk di depan Hendrik yang sedang sibuk bekerja, dia juga sesekali menuju sofa dan duduk di sana.
"Hen, bosan sekali aku, bolehkah aku keluar?"tanya Lisa.
"Mau apa keluar?" Hen balik bertanya pada Lisa
"Aku ingin membeli jus Alpukat," jawab Lisa.
"Biar aku menyuruh OB untuk membelikan. Kalau kamu ingin istirahat, masuklah ke dalam kamar pribadiku," ucap Hen.
Dengan segera Hen menghubungi OB dan menyuruhnya membelikan jus alpukat untuk istrinya. Lisa juga segera beranjak pergi ke kamar pribadi Hendrik. Dia tersenyum melihat kasur empuk yang ada di kamar pribadi Hendrik.
"Hen, aku mau tidur, nanti kalau jus nya sudah datang bawa ke sini ya?'pinta Lisa.
"Siap kanjeng ratu," ucap Hen sambil mencium pipi istrinya.
Lisa langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dia merasakan nyaman sekali tiduran di kamar Hen. Tak butuh waktu lama Lisa memejamkan matanya dan tertidur di kamar Hendrik.
Hendrik menerima Jus dari OB yang tadi ia suruh untuk membelikannya. Dia segera membawa jus itu masuk ke dalam kamar. Hendrik melihat istrinya tertidur pulas di kamarnya.
"Yah, dia tidur, katanya minta jus. Ya sudah aku letakan saja di atas meja, biar kalau bangun dia langsung meminumnya."ucap Hen lirih. Hendrik menaruh jus alpukat di atas meja dan dia melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Enak sekali, Hen benar-benar membelikannya," ucap Lisa dengan mengurai senyum di bibirnya.
Dia melihat sebuah lemari baju mini di pojok kamar Hendrik, dia membukanya dan melihat banyak sekali pakaian wanita dan pakaian dalam wanita di dalamnya.
"Apa ini? Pasti ini milik Vian dulu, kenapa dia masih menyimpannya, apa dia masih mencintainya?" gumam Lisa dengan setengah kecewa di hatinya.
Lisa melihat pakaian milik Vian, dia sangat merinding melihatnya, karena semua pakaian yang ada di lemari itu pakaian sexy yang transparan dan menggelikan menurut Lisa.
"Ya Tuhan, gini semua pakaiannya." Lisa mengobrak-abrik isi lemarinya dan membuang semua pakaiannya ke lantai. Dia juga menemukan beberapa foto Vian dengan Hendrik. Foto-foto dengan pose yang sangat romantis, dan penuh nafsu. Iya, di situ terlihat Hen sedang bertelanjang dada dan Vian menggunakan Lingerie yang transparan juga sedikit terbuka. Betapa sakitnya hati Lisa melihat semua itu. Ternyata suaminya masih menyimpan barang-barang yang berhubungan dengan Vivian.
"Ini yang namanya sudah melupakan? Ini yang namanya kamu sekarang hanya mencintaiku, Hen?" Seketika air mata Lisa keluar tanpa permisi. Dia merasa telah di bohongi suaminya. Dia mengira Hen juga masih berhubungan dengan Vian.
Hendrik masuk ke dalam kamar memastikan istrinya apa dia sudah bangun dari tidurnya. Hendrik membuka pintu kamarnya, begitu terkejutnya dia melihat kamar yang berantakan dan baju-baju sexy Vian berserakan serta foto-foto mereka juga ikut berserakan.
"Lisa…apa yang kamu lakukan?" tanya Hen dengan suara meninggi.
"Apa yang kau lihat? Ini yang aku lakukan! Kenapa memangnya kalau aku membuang sampah ini?! ucap Lisa dengan nada tinggi juga.
"Lisa, aku bisa jelaskan semuanya, sayang," ucap Hen sambil memegang bahu Lisa, dengan kasar Lisa menepiskan tangan Hen.
"Jelaskan apa? Ini yang kamu bilang kamu sudah melupakan? Ini yang kamu bilang kalau kamu tidak mencintainya lagi?" ucapan Lisa semakin meninggi dan buliran air mata lolos dari matanya.
"Lisa, please, jangan seperti itu, iya aku akan buang, aku belum sempat membuang semua ini. Jangan seperti itu, kasihan anak kita." Hen mencoba menenangkan Lisa, tapi kemarahan Lisa semakin memuncak.
"Belum sempat atau sengaja, hah?" tukas Lisa.
"Pekerjaan ku banyak sekali, dan aku juga baru melihat kamar ini setelah aku dan Vian berpisah. Percayalah, sayang." Hendrik terus menenangkan istrinya.
"Ambilkan kantong plastik," perintah Lisa dengan nada kasarnya.
Hen segera pergi dan meminta kantong plastik pada OB-nya. Hen kembali dengan membawa kantong plastik besar dan memberikannya pada Lisa. Lisa langsung menyaut kasar plastik yang Hen pegang. Dia langsung memunguti semua barang-barang Vivian dan memasukannya ke dalam kantong plastik tersebut.
"Panggilkan OB kemari." Lisa menyuruh suaminya memanggil OB masuk ke ruangannya. Hen memanggilkan OB dan Lisa segera memberikan barang-barang Vian pada OB itu.
"Pak, tolong bakar habis semua yang ada di kantong plastik. Tak usah membukanya, nanti bapak kena Virus. Ini Virus mematikan sekali yang ada di dalam kantong plastik. Bakar sampai habis jangan tersisa sedikitpun!" perintah Lisa dengan sedikit kasar pada OB.
"Baik, nyonya. Saya permisi," ucap OB tersebut.
"Ingat, langsung di bakar tanpa sisa." Lisa mengulang lagi kata-katanya.
"Iya, nyonya." OB keluar dari ruangan Hendrik. Hendrik melihat istrinya kali ini benar-benar garang tak ada lemah lembutnya seperti biasanya.
"Dia kerasukan setan apa, bisa seperti itu," ucap Hendrik dalam hati.
Lisa duduk di sofa sambil mengatur kembali detak jantungnya yang masih berdegup kencang karena emosinya masih memuncak.
"Sayang, makan ya? Kamu belum makan. Aku sudah memesankan makanan untukmu," ucap Hendrik lembut dengan mendekati Lisa.
"Hmmm…" Lisa hanya berdehem saja.
"Ayo makanlah." Hen mohon pada Lisa agar dia mau makan.
"Aku suapi ya?" Hen menyendok kan makanan Lisa dan mengarahkan ke depan mulut Lisa
"Ayo buka mulutmu. Kasihan dedeknya kalau kamu marah-marah terus. Maafkan aku, please…" Hendrik masih saja memohon pada istrinya untuk memaafkan dirinya. Lisa membuka mulutnya dan memakan makanan yang Hendrik pesankan hingga habis, Hendrik dengan telaten menyuapainya. Tapi, Lisa masih saja terdiam belum mau bicara dengan Hen.