
Sebuah taxi berhenti di depanku. Dan aku langsung masuk kedalam taxi lalu memberitahu sopir taxi kemana tujuanku. Ya aku akan kembali ke butik ku lagi. Tapi, saat di jalan aku melihat mobil hendrik berhenti di depan mini market.
"Pak, berhenti sebentar." Aku menyuruh sopir taxi memberhentikan taxi nya.
Aku melihat Hendrik keluar dari mini market dan menjijing kantong plastik entah apa yang ada di dalam kantong plastik tersebut. Dia masuk dalam mobilnya dan melajukan mobilnya entah kemana.
"Pak bisa ikuti mobil di depan?"
"Baik nona."
Taxi yang aku tumpangi melaju mengikuti mobil Hendrik.
"Hendrik mau ke mana?" Aku bertanya tanya dalam hatiku.
Aku melihat mobil hendrik menuju sebuah Apartemen. Aku yakin dia akan menemui Vian disini.
Kenapa aku makin penasaran dan ingin mengikutinya? Bukankah kamu sudah ikhlas jika memang Hendrik seperti itu?
Aku lihat hendrik menghentikan mobilnya. Dia keluar dari mobil dengan menjinjing dua kantong plastik.
"Pak berhenti di sini saja. Ini pak uangnya. Kembalian nya buat bapak saja."
"Iya non terima kasih."
Aku keluar dari taxi, perlahan aku ikuti Hendrik masuk ke dalam. Dan dia berhenti di sebuah unit Apartemen. Dia masuk ke dalam nya. Dan sudah aku tak melihatnya keluar lagi entah sedang apa dia di dalam dan dengan siapa.
Sampai suatu ketika saat aku hendak keluar dan pulang, Hendrik keluar dari Unit apartemen itu dengan seorang perempuan, aku tahu pasti itu Vian.
Aku langsung menyelinap di samping dinding. Untung saja hendrik tidak melihatnya. Setelah Hendrik sudah tidak ada dari pandanganku aku pun pergi dan kembali ke butik ku dengan menggunakan Taxi.
Hendrik
Aku tak enak sekali bertemu Lisa di Kedai Soto daging tadi. Harusnya aku yang menemani dia makan di sana,bukan menemani wanita lain.
Aku kembali ke Apartemenku, aku tau Lisa mengikuti aku tadi, dan ya benar dia mengikuti. Aku melihat dia mengendap di balik dinding, saat aku keluar dengan Vian tadi.
"Lisa maaf aku tidak bisa mencintaimu lagi."
"Hen, kenapa sotonya gak dimakan? Kamu melamun?" Vian mengagetkan ku.
"Emm ... tidak. Aku hanya memikirkan pekerjaan kantor saja. Soalnya benar benar banyak sekali pekerjaanku hari ini."
"Ohh, bukan memikirkan istrimu? Emmm siapa namanya? Lisa kah?"
"Iya Monalisa."
"Ohhh, kamu mencintainya?"
"Tidak, aku hanya mencintaimu?"
"Yakin?"
"Yakin, sudah habiskan dulu makananmu."
"Iya..."
Aku benar benar tak habis fikir, kenapa bayangan Lisa masih saja ada di depan mataku. Matanya yang sendu, tutur kata nya yang lembut, dan senyuman nya yang sangat manis sekali.
Lisa, apa rasa cinta yang sudah menjadi benci ini akan tumbuh kembali seperti dulu? Lisa, siapa lelaki itu, yang dulu bersamamu di dalam hotel
itu?
Pikiranku sangat kacau akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang kerumah saja untuk istirahat. Dan semoga saja Lisa sudah pulang dirumah.
"Vian aku akan kembali ke kantor dulu, banyak sekali pekerjaan yang aku tinggalkan."
"Ya sudah lah...."
"Please jangan marah Vian."
"Iya tidak..."
"Ya sudah aku pulang dulu." Aku berpamitan pada Vian, aku peluk Dan aku cium dia. Sepertinya dia tahu kalau aku sedang memikirkan Lisa dari tadi.