
♥Hendrik♥
"Lisa dengan siapa? Pria itu, seperrinya aku mengenalnya."lirihku sambil meminum jus alpukat yang aku pesan.
Aku tak menyangka mereka begitu akrab, Vian dan Lisa sepertinya dia semakin akrab. Begitu pula dengan 2 orang pria itu. Mesra sekali Lisa dan pria itu juga Vian dan pria itu. Aku harus mencari tau siapa 2 pria itu.
"Kenapa harus dengan 2 wanitaku, iya aku mencintai Vian sangat mencintai, tapi saat melihat Lisa dengan pria lain hati ini lebih sakit sekali."gumamku dalam hati.
Aku putuskan untuk menunggu mereka pulang.
Akhirnya mereka pun pulang, aku harus mengikuti siapa dulu aku bingung sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti Vian dengan pria itu.
Aku mengikutinya, aku abaikan Lisa yang sudah pergi dengan pria itu.
"Vian mau kemana?kok ke arah apartemen ku."ucapku lirih.
Mobil vian berhenti di parkiran, mereka turun dari mobil nya dan langsung masuk ke dalam apartemen. Aku mencoba diam diam mengikuti nya.
Vian masuk ke unitnya bersama pria itu. Aku kehabisan akal, aku harus bagaiman, aku tak tau...apa aku harus masuk ke dalam, atau pergi begitu saja. Kenapa dia membawa seorang pria masuk kedalam apartemen ini.
"Hendrik....lakukan sesuatu, kamu harus tau apa yang di lakukan Vian di dalam."ucapku frustasi.
Aku terdiam sejenak, sesak dadaku menghadapi situasi seperti ini.
"Apa ini karma untuk ku?"ucapku lirih.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Di Apartemen Vian dan Eric sedang berbincang, Eric memastikan apakah Vian masih berhubungan dengan Hendrik atau tidak.
"Vian."
"Iya Ric."
"Vian, apa kamu masih berhubungan dengan Hendrik?"
"Eric, kamu tau aku mencintainya?"
"Aku tau Vian, sedalam apapun hubungan kamu dengan nya dan sedalam apapun cinta mu dengan dia, aku tak akan melepaskanmu Vian, kamu gadis yang pertama aku sentuh, aku bertahun tahun mencarimu dan akhirnya Tuhan mempertemukan aku dengan orang tuamu."jelas Eric.
"Maafkan aku Ric."
"Jangan meminta maaf Vian, aku yang salah, aku yang sudah membuatmu seperti ini. Vian aku mencintaimu"
"Ric, aku sudah tak pantas untukmu."
"Siapa bilang, aku tak peduli keadaanmu sekarang Vian."
"Ric kamu harus tau sebenarnya Hendrik....."ucapa Vian terpotong karena pintu Apartemen terbuka, dan ya Hendrik masuk kedalan Apartemen nya.
"Vian, sedang apa kamu dengan pria ini, dia siapa Vian?"ucap Hendrik.
"Hen, duduklah akan aku jelaskan semuanya."lirih Vian sembil menangis.
"Vian, jangan menangis sayang, kamu harus menjelaskan ini semua dengan Hendrik."ucap Eric.
"Sayang? kalian sebenarnya... arrrggghhtt....Vian....siapa dia..!" Seru Hendrik dengan marah.
"Hen, maafkan aku, sebenarnya dia adalah tunanganku, saat aku di jepang aku bertunangan dengan Eric."jelas Vian.
"Vian, kamu mengkhianatiku? Vian jawab..! Kamu sedang bercanda kan Vian?"ucap Hendrik dengan marah.
"Aku tidak bercanda Hen, dia calon suami ku. Maafkan aku, kembalilah pada Lisa, dia mencintaimu Hen, aku tak bisa meneruskan hubungan ini. Bagaimanapun kamu sudah memiliki istri Hen." Vian berkata sambil menangis.
"Vian, aku tak bisa, aku tak mencintai istriku. Vian aku tak bisa, aku mencintaimu."ucap Hendrik.
"Hen, kamu bilang mencintaiku, tapi kamu sudah beristri, apa kamu bisa Menceraikan istrimu demi aku? Tidak kan? Tidak bisa."
"Iya aku tak bisa menceraikannya."
"Sama aku juga tak bisa memutuskan pertunanganku Hen, hubungan ku dengan kamu tidak direstui orang tuaku Hen, kamu tau itu, aku tidak mau hanya menjadi seorang wanita keduamu Hen. Lisa mencintaimu Hen, dia mencintaimu. Kamu harus bisa menerima istrimu."jelas Vian.
"Sayang, kamu bilang siapa tadi? Lisa? Lisa yang tadi bertemu di restoran,pemilik restoran tadi?"ucap Eric semakin penasaran.
"Iya Ric, dia istri Hendrik."jawab Vian.
"Pergi kamu dari sini Vian.! Pergi..!" Hendrik mengusir Vian dari apartemennya.
"Iya aku memang kesini mau mengemasi barangku Hen, maafkan aku sekali lagi, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini Hen."ucap Vian sambil masuk kekamar mengemasi barang barang miliknya.
"Pergi Vian.! Pergi...!"teriak Hendrik frustasi .
Hendrik duduk di kursi sambil menjambak rambutnya, dia terlihat begitu frustasi sekali
Vian mengemasi barang barangnya ditemani dengan Eric.
"Apa kamu tak memikirkan lagi keputusanmu ini Vian?"ucap Eric.
"Iya Ric aku akan meninggalkan Hendrik, dia sudah beristri, aku tak mau menjadi perusak rumah tangga orang."jelas Vian dalam isak tangisnya.
"Jangan menangis vian." Eric memeluk Vian.
"Maafkan aku Eric."
"Jangan meminta maaf lagi. Aku mencintaimu Vian, hidup lah bersamaku."ucap Eric.
"Terima kasih Eric. Ayo pergi dari sini."
"Iya, tinggal lah dirumah ku Vian."
"Aku akan cari apartemen untuk aku tinggal sementara sebelum kita menikah."
"Iya besok aku carikan, malam ini kamu menginap dirumah ku."
"Iya, sekali lagi terima kasih Ric."
"Aku calon suami mu, aku akan selalu memberi kenyamanan untuk calon istriku Vian."
"Ric, terima kasih untuk semuanya."
"Ayo kita keluar."ajak Eric.
Hendrik masih terlihat frustasi, disisi lain istrinya dengan pria lain dan Vian meninggalkannya.
"Arggghht.....kenapa serumit ini hidupku.!"teriak Hendrik.
"Hidupmu akan tenang jika mencintai Istrimu Hen, aku pamit Hen." Vian pergi meninggalkan Hendrik.
Hendrik terdiam dan membaringkan tubuhnya di sofa. Dia tak menyangka hubungannya dengan Vian akan berakhir seperti ini.
"Vian, kamu mengingkari semuanya, iya semua ini aku yang salah, aku mempunyai istri, aku harus merelakan Vian pergi."ucapnya lirih.
Hendrik keluar dari apartemennya, dia kembali pulang kerumahnya.
♥♥♥♥♥♥
Lisa dan Aldi pulang dari restoran, malam ini Aldi menginap di rumah Lisa, sekalian ingin berkenalan dengan Hendrik suami Lisa.
"Hen masuklah."
"Oke..Om Rafli memang selalu mengabulkan apa permintaan putri Semata wayangnya."ucap Aldi sambil memandangi setiao sisi ruangan rumah Lisa.
"Maksudmu Al.?"tanya Lisa penasaran.
"Ini bukannya rumah impianmu?"
"Ayah mu yang bilang dengan ku dulu."
"Iya ini rumah impianku."
"Kamu tau ayahmu rela mengikuti lelang rumah ini dulu, sebenarnya ini sudah di beli ayahmu sejak dulu Lisa, untuk hadiah pernikahanmu, tapi kamu tidak menikah menikah, jadi Om Rafli menyewa orang untuk merawatnya."jelas Aldi.
"Kenapa ayah tak pernah bilang."
"Kamu itu ya, bagaimana mau bilang, ini kejutan Lisa."ucap Aldi.
"Hmm...lupakan lah, mari aku tunjukan kamar kamu."Lisa menunjukan kamar untuk Aldi.
"Ini kamarmu, sebelum aku antar kamu ke rumah ayah bermalamlah disini dulu."ucap Lisa.
"Baiklah, kamar ini luas sekali. Om Rafli memang mengerti apa kesukaanmu lisa, dari desain rumah, kamar begitu juga kamar mandinya."jelas Aldi.
"Seperti itulah ayah, mandilah dulu, mau aku buatkan kopi?"
"Boleh, sudah lama aku tak minum kopi buatanmu Lisa."
"Oke baiklah aku buatkan."
Lisa ke dapur membuatkan kopi untuk Aldi.
Tak selang beberapa lama, Hendrik pulang, dia langsung mencari Lisa.
"Lisa.."panggil Hendrik.
"Iya Hen, kamu sudah pulang? Mau aku buatkan kopi.? Kamu kenapa kucel sekali Hen? Dari mana kamu? Mandilah sana, aku akan buatkan kamu kopi."ucap Lisa.
"Iya buatkan aku kopi, aku mau bicara denganmu sekarang, aku tunggu di ruang tengah."
"Baiklah.."
Lisa membuatkan kopi untuk Hendrik dan Aldi. Namun Hendrik belum mengetahui jika Aldi ada di rumahnya.
Lisa membawa 2 cangkir kopi ke ruang tengah, Hendrik sudah menunggu Lisa disana.
"Kok 2 buatnya? Untukmu?"
"Bukan, ada seseorang yang akan aku kenalkan denganmu, dia sedang mandi di kamar tamu."
"Siapa?"
"Nanti aku kenalkan."
"Oh ya Lisa, kamu habis keluar?"tanya Hendrik.
"Iya,kenapa?"
"Dengan laki laki?"
"Kok kamu tau?"
"Kamu masih berhubungan dengan dia Lisa? Kamu sudah bersuami Lisa, tidak seharusnya kamu pergi tanpa seizin ku menemui seorang pria.!" Hendrik marah dan menatap tajam Lisa.
"Hen dengarkan aku, dia masih saudaraku Hen."
"Saudara? Semesra itukah? Dari dulu kamu dengan dia Lisa, dia lelaki itu yang membuat aku benci denganmu."Hendrik pergi ke kamar nya.
"Hen....kamu salah paham, jadi kamu sangka dia...."
"Diam kamu Lisa.!"bentak Hendrik.
Terdengar keributan di luar, Aldi keluar dari kamar nya.
"Lisa, ada apa? Dia suami mu?"tanya Aldi.
"Iya aku suami nya, dan kamu yang sudah merenggut kesucian Lisa bukan? Lisa sudah bersuami, kenapa masih saja kamu menemuinya."ucap Hendrik.
"Maksud kamu apa, aku sepupu Lisa."
"Tak ada maling yang mengaku, sepupu? Sejak kapan seorang sepupu berlaku mesra dan sering kehotel bersama sepulang sekolah dulu."
"Hen maksud kamu apa? Aku tak mengerti apa yang kamu katakan."
"Lisa....Lisa....maling mana mau ada yang mengaku, Lisa, masih untung aku mau menikahimu."
"Hen...Hendrik...kamu mau kemana?"
"Bukan urusanmu, urus saja laki laki simpanan mu itu."
"Hen....dia sepupuku, Hen....jangan pergi." Lisa memeluk Hendrik dari belakang, momohan agar Hendrik tidak pergi.
"Lisa...lepaskan.!"
"Hen, dia sepupuku Hen...percayalah.."
"Lisa, lepaskan.! Aku tak butuh penjelasan omong kosongmu." Hendrik melepaskan kasar tangan Lisa.
Lisa menjatuhkan tubuhnya di lantai, dia menangis sejadi jadinya.
"Lisa, kenapa suami mu seperti itu?"
"Al....dia pergi, Al...kenapa dia membenciku Al..."
"Lisa sudahlah....besok cari Hendrik dimana, tenangkan dirimu sayang....jangan menangis lagi okey.."Aldi membawa Lisa dalam pelukannya.
"Aldi....kenapa Hen tak mau mendengar penjelasanku, kenapa Dia bicara seperti itu kepadaku,aku belum pernah melakukannya dengan pria lain Al, aku berani bersumpah, tapi dia selalu bilang aku sudah tak suci lagi."ucap Lisa dalam isak tangisnya.
"Besok,kita cari Hendrik ya, sudah kamu istirahat, mungkin dia sedang kecewa melihat kita Lisa, dia sangka aku adalah pria simpanan mu. Tidurlah sudah malam."
"Iya Al, tolong jangan bilang Ayah, aku tak mau Ayah sedih karena ku."
"Iya aku tidak bilang om."
Lisa pergi kekamarnya dan dia mecoba untuk tidur, namun dia tak bisa memejamkan matanya, dia masih memikirkan Hendri.
Lisa mencoba menghubungi nomor Hendrik. Tetapi tidak di angkatnya.
Akhirnya dia mengirim pesan pada Hendrik.
[Hen, kamu dimana? Hen tolong dengarkan penjelasanku."]
Namun tidak ada balasan dari Hendrik, Lisa menunggu balasan darinya hingga dia tertidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading♥