Monalisa

Monalisa
monalisa



sejenak gilang menatap tajam pada wanita yang baru ia temui itu.


"maaf jika pertanyaan ku kali ini sedikit menyinggung perasaanmu, tapi boleh aku tahu alasan kamu menerima kencan buta ini?" tanya Gilang


"aku rasa tidak ada yang menolak kencan buta ini kalau laki-lakinya seperti Gilang" jawaban elena sedikit menggodanya


Gilang hanya tersenyum, menanggapi ucapan elena. dalam hati Gilang sebenarnya tidak suka dengan kencan itu, ia datang hanya terpaksa tapi kalau ia menolak elena, tentu ayahnya akan mengatur kencan buta selanjutnya.


"mari kita mencoba jalani kencan ini, siapa tahu kita akan cocok nantinya" ucap elena Tanpa banyak basa basi


Gilang tidak langsung memberi jawabannya, sejenak ia berpikir apa mungkin ia memang harus mencobanya agar setidaknya ia bisa berusaha melupakan Mona di hatinya.


"apa kamu keberatan?" tanya elena Karena tidak mendapati jawaban dari Gilang


"baiklah mari kita coba jalani" jawab Gilang, yang membuat elena mengukir senyum di wajah manisnya.


setelah pertemuan mereka selesai, elena beranjak dari tempat duduk nya untuk segera pulang. sebelum pergi ia melambaikan tangan mengucapkan Sampai bertemu lagi.


saat berjalan ke arah mobil, Gilang mendapati telpon dari sekretaris nya, kalau ada undangan dari Felly yang merayakan ulang tahunnya malam nanti yang akan di adakan di sebuah gedung milik keluarga Gilang.


Gilang menutup ponselnya setelah panggilan selesai dan kembali ke mobilnya. ia melaju mobilnya dengan kecepatan sedang. sambil sesekali melihat jam di tangannya.


ponsel Gilang kembali berdering kali ini telpon dari ayahnya, namun Gilang memilih untuk mengabaikan telpon itu karena ia suda tahu ayah nya telpon untuk apa.


saat melaju mobilnya, tanpa sengaja Gilang melihat Mona berada di suatu tempat. Gilang penasaran hingga menepikan mobilnya untuk memastikan kalau itu benar Mona


ia keluar dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah Mona, Gilang mengikuti Mona sampai ke suatu tempat yang berada di sebuah rumah yang lumayan besar dengan halaman yang luas, terlihat salah satu laki-laki menghampirinya dan mempersilahkan Mona masuk .


Gilang hanya bisa menunggu di luar karena ia tidak punya alasan untuk masuk, dan ia juga tidak tahu keperluan Mona mendatangi tempat itu.


setelah kurang lebih 30 menit Mona kembali keluar dari tempat itu. sambil membungkukkan tubuh nya di hadapan orang yang ikut keluar bersama dengan nya.


Gilang masih terus mengikutinya hingga Mona Sampai di kediamannya. Gilang melihat tempat tinggal Mona tidak begitu besar tapi sangat terlihat nyaman dengan tampilan minimalis modern.


"jadi di sini tempat tinggal mu selama ini" batin Gilang yang masih berada di dalam mobilnya


setelah memastikan Mona masuk ia Kembali melaju mobilnya dengan kecepan tinggi. malam ini ia di undang ke pesta Felly. pikirnya Mona pasti juga akan hadir.


"apa sebaiknya aku tidak perlu datang?" batin gilang


telpon Gilang kembali berdering, masih dari orang yang sama yaitu ayah gilang. kali ini ia mengangkat telponnya.


"iya..ayah ada apa" jawab Gilang saat telpon suda tersambung


"kenapa baru di angkat telpon dari ayah?" tanya nya sedikit kesal pada Gilang


"aku sangat sibuk hari ini jadi tidak sempat melihat ponsel" alasan Gilang agar ayahnya tidak marah lagi


"bagaimana dengan kencan mu hari ini? apa berjalan lancar?" tanya ayah langsung ke intinya


"iya" jawab Gilang singkat


"apa itu artinya kamu setuju dengannya" tanya ayah merasa sedikit senang, karena ada harapan gilang akan segera menikah


dasar anak ini tidak perna sopan kalau bicara dengan orang tua. keluh ayah kesal pada sikap anaknya. yang terkadang bertingkah seenaknya saja


Mona melihat beberapa koleksi gaun yang ia punya, ia merasa bingung harus memakai yang mana, satu persatu ia coba tapi terasa tidak ada yang benar-benar cocok untuk di pakai malam ini.


entah mengapa Mona terlihat begitu antusias dengan pesta malam ini, tidak seperti biasanya ia terkesan acuh kalau mendengar sebuah pesta.


Gilang yang tadi nya berencana untuk tidak datang, rupanya mengurungkan niatnya. karena kini dia telah berada di acara pesta dengan setelan jas berwarna hitam di padu dengan kemeja berwarna merah gelap, ia terlihat sangat tampan.


kedatangannya di sambut hangat oleh pemilik acara yaitu Felly Clarista.


"hy pak Gilang, terima kasih telah menyempatkan diri untuk hadir" sapa Felly tersenyum ramah dengan menjabat tangan gilang


seketika mata Felly yang tadi tersenyum pada Gilang kini memalingkan pandangannya menghadap ke pintu masuk ia melihat sosok gadis cantik yang tidak lain adalah Mona yang berjalan mendekat ke arahnya.


"bukankah itu Mona" tanya Felly pada Gilang yang tidak menanggapi ucapannya. hingga Felly menoleh ke arah Gilang dan benar saja Gilang juga memandang ke arah Mona dengan tatapan tajam tanpa berkedip sedikitpun.


hingga Felly sedikit memberikan sentuhan pada bahu Gilang agar ia Sadar dari pandangannya yang seakan ingin menelan Mona bulat-bulat.


"ah iya ada apa" tanya Gilang saat ia sadar dari pandangannya


"sepertinya anda begitu terpukau melihatnya malam ini" ujar Felly sedikit menggoda Gilang


Mona yang mengenakan gaun berwarna biru gelap dengan bagian dada sedikit terbuka, ia terlihat begitu seksi dan sangat cantik di balut baju yang membuat tubuh indah nya semakin terbentuk sempurna, tidak heran semua mata lirih memandang nya dengan tatapan mengesankan.


Mona melihat Felly atasan nya berada dekat di samping Gilang, hingga ia harus menyapa keduanya.


Gilang mencoba mengalihkan pandangannya mana kala Mona suda berada di dekat Felly.


"kamu terlihat sangat cantik malam ini" puji Felly dengan sedikit mencubit pipi manis mona yang di balut riasan tipis tapi sangat cocok di wajahnya.


Gilang terlihat seakan acuh tidak perduli dengan gadis cantik di dekatnya, meski di hatinya ia sangat bergemuruh ingin sekali mendekap tubuh mona agar tidak di lihat banyak mata yang ia sadari sedari tadi memandangi Mona sejak ia berjalan masuk.


"Gilang..." terdengar suara panggilan dari seorang gadis yang mengenal Gilang.


Serly gadis yang memanggil nama Gilang, ia mendekat ke arah gilang seraya mengajak nya untuk berdansa bersama.


"aku tidak bisa dansa" ujar Gilang menolak ajakan Serly


"ayolah", Selly menarik Gilang paksa untuk berdansa dengannya


Mona hanya memandang kepergian Gilang tanpa bisa mengatakan apapun meski dihatinya ada sedikit rasa risih.


"kenapa hanya diam saja, atau kamu kesal ya melihat Gilang bersama Serly" ujar Felly meledek Mona


"kenapa aku harus kesal" jawab Mona dengan sedikit mengernyitkan keningnya


mereka bukan hanya sekedar atasan dan bawahan tapi sejak bekerja pada Felly, mereka suda seperti saudara. begitu juga felly ia memperlakukan Mona seperti adiknya sendiri.


bagi Mona, Felly adalah sosok penyelamat hidupnya, kehidupannya yang kini ia jalani berkat kemurahan hati dan kebaikan Felly padanya telah berubah jauh lebih baik.