
*Di Kediaman Rafli*
Seperti biasa saat malam Rafli sibuk dengan berbagai file laporan dari Restorannya. Begitu juga Lisa yang sibuk dengan desain-desain barunya. Juga email laporan yang di berikan manager butiknya dari luar kota baik dalam kota. Mereka sepasang Ayah dan Anak yang giat berbisnis.
Tak heran Lisa tidak pernah memikirkan untuk menikah. Dia hanya cukup mencintai Hendrik saja dalam hatinya. Apalagi dia tahu sekarang Hendrik adalah anak dari sahabat ayahnya. Walaupun tak dapat memiliki Hendrik, setidaknya dia masih bisa memandangnya atau tahu keadaan Hendrik lewat Lyra atau Ayahnya.
Telepon rumah berdering sangat nyaring. Rafli langsung beranjak dari kursinya dan mengangkat telfon tersebut.
[Hallo selamat malam dengan saya Rafli Santoso, ini dengan siapa?]
[Raf, ini aku Arif.]
[Eh, kamu Rif, ada apa, Rif? Tumben menelepon ke telepon rumah. Biasanya pakai WhatsApp.]
[Ponselmu tidak aktif, Raf. Aku mau mengundangmu makan malam besok dengan Lisa. Sekalian membahas pernikahan Lisa dan Hendrik.]
[Oh, iya Rif, ponselku lowbat. Maksudmu pernikahan Lisa dan Hendrik?]
[Hendrik menyetujuinya. Bagaimana dengan Lisa?]
[Lisa? Dia sebenarnya … sebenarnya dia setuju-setuju saja. Dia hanya tidak enak dengan Hen. Jadi ya semua Lisa serahkan pada Hen.]
[Hen setuju menikah dengan Lisa, Raf. Sampaikan salam ku untuk calon menantuku. Sampai jumpa besok malam.]
[Oke Rif.]
Ayah Rafli menutup teleponnya, dia langsung ke kamar menemui Lisa yang terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Sayang, ayah boleh masuk?"
"Iya, ayah, silakan masuk." Teriak Lisa dari dalam kamar.
Rafli membuka pintu kamar Lisa saat sudah di setujui putrinya untuk masuk ke dalam kamarnya. Rafli duduk di depan putrinya yang masih berkutat dengan laptop di depannya.
"Lisa, besok kita di undang Om Arif dan Tante Marta untuk makan malam di rumahnya."
"Ada acara apa mereka mengundang kami, Yah?"
"Lisa, apa kamu setuju jika kamu menikah dengan Hendrik, putra Om Arif?"
"Yah, Lisa tidak keberatan dan setuju kalau itu yang ayah pilihkan untuk Lisa, dan itu yang terbaik untuk Lisa."
"Secepat itu, Yah?"
"Iya, Hen setuju menikah denganmu. Dan, mungkin pernikahanmu dengan Hen akan di percepat sebelum Lyra menikah."
"Yah, aku sayang ayah, kalau aku menikah nanti ayah dengan siapa?"
"Nak, ayah masih banyak kerabat. Mungkin Aldi nanti ayah suruh tinggal disini. Nanti ayah bicara dengan paman dan bibimu."
"Aldi kan di Jepang, Ayah? Mana mungkin mau. Dia juga sudah mau menikah dengan Velicia."
"Aldi bilang masih lama menikahnya. Karena Veli masih melanjutkan studinya."
"Hemm terserah ayah lah."
"Yasudah, kamu istirahat, jangan begadang. Lnjutkan besok pekerjaanmu ini sudah jam 10 malam."
"Iya yah. Ayah juga jangan malam-malam tidurnya. Jangan di porsir bekerja. Lisa gak mau Ayah sakit."
"Iya sayang, selamat tidur. Mimpi indah putriku yang cantik." Rafli mencium kening Lisa sebelum meninggalkan kamar Lisa.
"Iya ayah, selamat tidur juga".
Rafli bersyukur, karena Lisa setuju dengan keputusannya untuk di jodohkan dengan Hendrik. Sudah bertahun-tahun Rafli mengharapkan putrinya menikah. Dan, akhirnya, Lisa akan menikah juga.
MONALISA P.O.V
Aku bahagia Hen akhirnya mau Menikah denganku. Aku akan berusaha meluruskan masalah yang dulu. Dan aku akan mencari tahu kenapa Hen sampai sangat membenciku.
"Hen, terima kasih kamu menyetujui permintaan mamamu untuk menikah denganku, walaupun aku tau kamu sangat membenciku. Tapi, aku bahagia bisa setiap hari melihatmu, Hen."
Aku membuka buku Diary ku. Buku ini berisi curahan hatiku saat merindukan Hen. Bahkan aku masih menyimpan foto-foto Hen saat masih SMA. Surat dari Hen dulu masih aku tata rapih dalam kotak surat ku.
Aku selalu mengingat dia setiap hari hingga detik ini. Dan, saat aku berdoa kepada Tuhan aku selalu menyebut namanya agar akau bisa di pertemukan kembali dengannya. Tuhan tak pernah tidur. Tuhan telah menjawab doaku. Meski Hen hadir dalam hidupku penuh dengan kebencian terhadapku.
Malam ini sebelum tidur aku menuliskan kebahagiannku dalam buku Diary ku. Aku sangat bahagia karena aku akan menikah dengan orang yang aku cintai. Terima kasih Tuhan.
Aku mematikan lampu kamar dan mengganti dengan lampu tidur. Aku bersiap siap untuk tidur. Doa sebelum tidur, selalu aku ucapkan, agar aku tertidur dengan mimpi yang indah.