Monalisa

Monalisa
Bab 32



Hendrik masih duduk di tepi ranjang, dia membuka buku diary Lisa yang diberikan oleh Aldi. Dia mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu. Karena, dia tau masih ada keluarganya dan keluarga Lisa di ruang tamu.


Dia membuka buku diary Lisa lembar demi lembar, membaca semua apa yang dicurahkan Lisa pada buku diary nya.


"Mengapa aku jahat sekali dengan Lisa, dia masih mau bertahan hingga saat ini di sampingku meski aku menyakitinya," gumam Hendrik dalam hati.


Dia menemukan selembar kertas yang terlipat di dalam buku diary Lisa. Dia membuka lembaran itu, Sepertinya dia ingat dengan warna kertas itu. Hendrik terus memutar otaknya, dimana dia melihat kertas ini. Dia membukanya dan dia mengingatnya. "Lisa, kamu masih menyimpan surat dariku ini? Apa kamu benar-benar masih mencintaiku Lisa, hingga aku sering menyakitimu dan kamu tetap berada di sampingku. Maafkan aku Lisa. Salah paham ini benar-benar menyiksa batin mu hingga sekarang. Tuhan maafkan aku. Apa aku masih pantas berada di samping Lisa, setelah sekian lama aku menorehkan luka mendalam untuk Lisa?" Hendrik berkata lirih, tak terasa Hendrik meneteskan air matanya.


Di ruang tamu Lisa masih saja berdiam diri, Ayah Rafli yang dari tadi mencoba menenangkan putrinya kini menatap Lisa dan mengelus kepalanya.


"Kamu mau bermalam di sini menemani Hendrik?" tanya Ayah Rafli.


"Ayah membolehkannya jika aku di sini dengan Hendrik?" Lisa balik bertanya pada Ayahnya.


"Lisa, dia suamimu nak. Ayah percaya Hendrik akan membuka hatinya untuk kamu."


"Ayah, maafkan Lisa. Lisa masih saja membuat Ayah selalu kecewa, Lisa belum bisa membuat ayah bahagia," ucap Lisa sambil memeluk Ayahnya.


"Bahagia ayah karena melihat kamu bahagia nak. Ayah mendukung apa keputusan kamu." Ayah Rafli memeluk erat putrinya.


Beliau sangat menyayangi Lisa, apapun keinginan Lisa pasti diturutinya.


Papah Arif yang melihat Ayah Rafli begitu dekat dengan putrinya dia merasa malu. Karena, Ayah Rafli adalah sesosok Ayah yang bijaksana, tak pernah mengambil keputusan saat emosi, semua di selesaikan dari hati ke hati. Papah Arif dari dulu memang selalu mengagumi sahabatnya itu.


Sejak SMA jiwa bijaksana Ayah Rafli sudah kelihatan. Pantas saja ibunya Lisa tidak mau melepaskan Ayah Rafli walaupun hubungan mereka ditentang oleh kedua orang tuanya, baik orang tua Ayah Lisa dan orang tua Ibu Lisa. Cinta mereka begitu kuat bahkan sampai sekarang Ayah Lisa tak mau mencari pengganti Ibu Lisa. Sifat itu menurun pada putrinya, Lisa. Dia selalu mencintai Hendrik walau dirinya selalu disakiti oleh Hendrik.


"Rafli, maafkan aku, maafkan perbuatan anak ku. Aku janji Raf akan membuat putrimu bahagia, aku akan menyayangi dia seperti aku menyayangi Lyra." Gumam Papah Arif dalam hati.


"Pah, kok melamun?" Mamah Marta mengagetkan Papah Arif.


"Papah sangat malu mah, papah gagal mendidik Hendrik. Dia benar-benar membuatku sangat malu. Terlebih pada Rafli."


"Kenapa mesti malu dengan ku Rif?" tanya Ayah Rafli.


"Aku malu sudah membuat putrimu seperti itu karena Hendrik."


"Sudah Rif, pasti Hendrik akan berubah. Percayalah."


Semua masih berkumpul di ruang tamu rumah orang tua Mamah Marta. Mba Nur yang sudah selesai memasak untuk makan siang memanggil semuanya untuk makan siang.


"Bu Marta, makan siang sudah siap, silahkan makan siang dulu."


"Iya Mba Nur. Mba sudah makan Siang juga?"


"Belum Bu nanti saja makan nya."


Semua keluarga berkumpul di meja makan untuk makan siang terkecuali Hendrik, dia masih berada di kamarnya dan masih belum selesai membaca buku diary Lisa.


"Lisa panggil Hen dulu, dia juga belum makan kan?"


"Iya panggil suamimu Lisa, kita makan bersama." jawab Ayah Rafli.


"Iya yah, Lisa panggil Hen dulu."


Lisa menuju kamar Hen dan memanggilnya untuk makan siang. Lisa mengetuk pintu kamar Hendrik.


Hendrik yang mendengar ketukan pintu dia langsung menyimpan Buku diary Lisa di laci meja di kamarnya.


Hendrik bergegas membukakan pintu kamarnya.


"Hen makan siang dulu, sudah di tunggu semua di meja makan."


"Lisa bisa kita bicara sebentar?"


Lisa menaikan alisnya sambil menatap Hendrik.


"Sekarang?" tanya Lisa.


"Iya, masuklah ke dalam, ada yang ingin aku bicarakan."


Lisa masuk ke dalam kamar Hendrik, dia duduk ditepi ranjang, Hendrik pun duduk di samping Lisa. Mereka saling terdiam cukup lama, tak ada yang memulai membuka percakapan diantara mereka.


Lisa akhirnya yang memulai lebih duluberbicara pada Hendrik.


"Ada apa Hen?" tanya Lisa.


"Lisa, aku minta maaf. Aku selalu menyakitimu, aku tak pernah mendengarkan penjelasan mu. Maafkan aku Lisa." Hendrik menundukkan wajahnya dan meneteskan air matanya.


"Aku memaafkan mu, Hendrik."


"Terima kasih Lisa." Hendrik tak berani menatap Lisa, dia masih saja menundukkan wajahnya.


"Hen makan dulu, hampir satu bulan kamu di sini, kamu terlihat sangat kurus."


"Iya nanti aku makan, Lisa, apa aku masih pantas berada di sampingmu? Setelah aku menorehkan banyak sekali luka di hatimu? Lisa carilah lelaki yang lebih baik dari aku Lisa."


Lisa membuang napasnya perlahan, Lisa memegang tangan Hendrik.


"Hen, seburuk apa pun kamu, sebanyak apapun kamu menyakiti aku, kamu masih suamiku sampai kapan pun. Aku tau kamu tak mencintaiku Hen, aku tau cintamu untuk Vian sangat besar. Tapi, jangan menyuruhku untuk pergi dari sampingmu, Hen. Maafkan aku, aku sangat mencintaimu." Jelas Lisa, dia beranjak dari tempat tidur Hendrik dan berjalan keluar. Hendrik tiba-tiba menarik tangan Lisa.


"Lisa, ajari aku mencintaimu lagi seperti dulu."


Lisa tersenyum ke arah Hendrik, dia memegang bahu Hendrik dan berkata "itu pasti Hen. Ayo makan dulu Hen."


"Iya Lisa, ayo kita keluar."


Hendrik dan Lisa keluar untuk makan siang bersama keluarganya. Papah Arif yang masih sangat marah membuang muka pada anak laki-lakinya.


Hendrik duduk di samping Lisa. Lisa mengambilkan Nasi dan lauk untuk Hendrik.


"Ini Hen nasinya."


"Iya Lisa terima kasih."


"Ayah, sini Lisa ambilkan nasinya."


Lisa mengambilkan nasi untuk ayahnya juga.


"Terima kasih sayang," ucap Ayah Rafli.


"Lisa, hatimu terbuat dari apa sih, masih saja peduli dengan anak ini." Ucap Papah Arif dengan kesal.


"Rif, jangan berkata seperti itu. Hen sudah kamu makan saja biar papamu mau bicara apa." Ayah Rafli mencoba menenangkan suasana makan siang yang hampir memanas.


Hendrik sangat merasa bersalah sekali. Walaupun, dia menyakiti Lisa namun ayah mertuanya masih membelanya.


"Ayah, maafkan menantu mu ini. Aku janji akan membahagiakan putrimu." Gumam Hendrik dalam hatinya.