Monalisa

Monalisa
Bab 24



♥Monalisa♥


"Ini buka mimpi kan?" Gumamku dalam hati. Pasalnya saat ak membuka mata setelah bangun tidur orang yang aku lihat pertama adalah Hendrik. Iya dia suami ku. Aku melihat setiap lekuk wajahnya. Dia masih tampan seperti dulu. Aku membelai pipinya, sungguh aku sangat bahagia sekali bisa melihat dia tertidur nyaman sambil memeluku.


Aku singkirkan dengan hati hati tangan Hendrik yang masih melingkar di pinggangku. Entah kenpa aku bisa tidur berhadapan dengan dia. Padahal semalam aku tidur membelakangi nya. Aku perlahan bangun dari tidur ku. Hendrik yang masih tertidur tiba tiba menarik tanganku.


"Vian....jangan bangun dulu aku masih ingin memelukmu."


Betapa sakitnya hati ini. Rasa bahagia ini hilang seketika seperti di telan bumi. Aku hempaskan tangan Hendrik dengan kasar yang masih memegangku.


"Aku Lisa bukan Vian.!" Seruku sambil beranjak dari tempat tidur.


"Lisa...maafkan aku.."


"Iya...sudah kalau kamu mau melanjutkan tidurmu. Aku mau memasak untuk sarapan."


Aku ke kamar mandi mencuci muka ku dan setelah itu aku keluar dari kamar ku langsung menuju ke dapur untuk memasak.


♥Hendrik♥


Mengapa aku menyebut nama Vian tadi saat memeluk Lisa. Aku sungguh merasa sangat bersalah sekali, lagi lagi aku membuat Lisa sedih dan menangis.


"Hen....cobalah menerima Lisa Kembali..cintailah dia lagi hen seperti dulu. Lupakan masa lalu itu." Aku berkata lirih sambil *** rambutku karena sangat frustasi dengan ke adaan ini.


Aku keluar dari kamar Lisa dan masuk ke kamarku. Lagi lagi aku sudah melihat baju kerja ku yang sudah di siapkan oleh Lisa di tempat tidurku. Dan baju kotor ku pun sudah tidak ada. Mungkin Lisa suadah membawa ke keranjang tempat pakaian kotor.


Aku masuk ke kamar mandi untuk mandi dan setelah itu aku memakai baju yang sudah di siapkan oleh Lisa.


Aku sangat beruntung mempunyai istri seperti Lisa. Tutur katanya yang lembut, perhatian, rajin, pandai memasak, dan satu lagi dia bisa mengendalikan emosinya walaupun dia sedang sangat marah sekalipun, walaupun aku selalu menyakiti hatinya.


Aku keluar dari kamarku. Ku lihat Lisa sedang menata makanan di meja makan. Aku membantunya mengambil piring dan gelas lalu menatanya dan mengisi gelas dengan air putih.


"Lisa..."


"Iya Hen..."


"Terima kasih..."


"Untuk?"


"Semua nya...."


"Hmmm...iya... ini nasinya Hen..."


"Terima kasih Lisa. Kamu hari ini ke butik?"


"Mungkin siangan. Ohh ya Hen minggu depan pernikahan Lyra kan? Apa kamu mau kalau kita memakai pakaian yang sama saat pernikahan Lyra nanti?"


"Emmm..boleh....aku hampir lupa adik ku mau menikah...Lisa apa mau aku antar ke Butik?"


"Tidak usah hen...aku mau mampir kerumah ayah mau ambil mobilku, pakai taxi terus boros sekali.."


"Ya sudah habis sarapan kamu siap siap, mandi dandan kita ke rumah ayah, aku anterin."


"Hmmm apa tidak merepotkan mu? Kamu mau ke kantor kan?"


"Tidak sama sekali tidak. Iya aku ke kantor sehabis mengantar kamu."


"Ya sudah nanti antar aku ke rumah ayah.."


"Okey..habiskan dulu sarapanmu."


"Okey."


Aku sudah menghabiskan sarapan ku. Lisa benar benar pandai memasak. Tumis brokoli buatan nya benar benar nikmat sekali.


♥Monalisa♥


Aku menyelesaikan sarapanku. Hendrik sudah selesai sarapannya dan dia terlihat lahap sekali memakan masakan ku. Padahal tadi aku mengambilkan nasinya agak banyak dari biasanya.


Aku membereskan piring kotor dan gelas kotor bekas kami makan tadi. Aku membawanya ke dapur dan langsung mencucinya. Hendrik membawa sisa makanan dan dia taruh di dalam lemari makan di dapur. Setelah itu aku di kagetkan oleh hendrik yang tiba tiba memeluku dari belakang.


"Lisa...maafkan aku tadi pagi saat bangun tidur."


"Lupakan itu Hen."


"Sekali lagi maafkan aku." Hendrik memeluku sangat erat dan dia menaruh kepalanya di bahuku yang buat aku terkejut dia mencium pipi Kanan ku.


"Aku maafkan kamu Hen. Tapi tolong lepaskan ini. Aku sudah selesai mencuci piring nya.. aku mau mandi dulu."


"Ohh iyaa maaf Lisa."


"Iya Hen.."


Aku setengah berlari masuk ke dalam kamarku. Jantungku mulai bergemuruh. Detak jantungnya sudah mulai tak beraturan.


Aku masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi aku mengambil dres selutut berwarna mocca. Aku memakainya,memang dres ini sangat anggun sekali saat aku kenakan. Ini dres favoritku. Aku biarkan rambutku tergerai bebas dan ku sematkan jepit rambut berwarna maroon di samping rambutku. Ku ambil tas ku dan Aku keluar dari kamar ku.


Hendrik tak berkedip memandangku yang sedang mengambil Hells ku di lemari sepatu. Ayah memang tau apa yang aku butuhkan. Dia sangat tahu sekali aku mengoleksi banyak sepatu. Dan Ayah pasti yang menaruh lemari sepatu di pojok ruang tengah.


"Sudah siap?" Ucap Hendrik saat aku selesai memakai Hells ku..


"Sudah...ayo..maaf kamu jadi menunggu lama."


"Tidak apa apa Lisa. Ayo berangkat jangan lupa bawa kunci rumah."


"Iya udah...."


Hendrik mengeluarkan mobilnya dari garasi. Dia turun dari mobilnya lalu membukakan pintu dan menyuruhku masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo Lisa masuk.."


"Terima kasih..."


Aku duduk di depan. Hendrik masuk ke dalam mobil dan dia memasang seat beltnya..


"Lisa sudah pasang seat belt nya?"


"Sudah Hen."


"Yasudah kita berangkat ke rumah ayah.."


Hendrik melajukan mobilnya menuju rumah Ayah. Dia sesekali mencuri pandang padaku. Akupun demikian sebaliknya.


♥Hendrik♥


Pagi ini Lisa terlihat begitu manis dan cantik dengan dres berwarna mocca di padukan hells yang tidak terlalu tinggi membuatnya sempurna sekali. Aku dari tadi tak henti hentinya memandangi Lisa.


Begitu anggun sekali dengan rambut yang yang terurai rapih sekali. Mamah dan papah tidak salah memilihkan istri untuk ku. Tapi, aku masih punya Vian. Aku berat sekali untuk melepasnya. Aku sangat mencintainya, sangat menyayangi nya. Andai orang tua Vian merestui hubungan ini aku mungkin sudah menikah dengannya.


"Vian...tumben sekali dia tidak menghubungiku, biasanya pagi pagi sekali dia sudah menelfon atau mengirim Pesan." Gumamku dalam hati.


Kenapa jika aku dengan Lisa memikirkan Vian dan begitu pula sebaliknha saat aku dengan Vian hanya ada Lisa di fikiranku.


Aku dan Lisa sudah sampai di rumah ayah Rafli. Lisa masuk tanpa mengetuk pintu dan dia langsung berlari memeluk ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tengah rumah nya.


"Ayah....lisa sangat merindukan ayah..ayah sehat kan? Sudah sarapan?"


"Anak ayah.....baru datang langsung introgasi ayah.."


"Pagi ayah..." sapaku sambil mencium tangan Ayah Rafli.


"Pagi Hen bagaimana kabarmu sehat? Kalian bahagia?"


"Hen sehat. Hen bahagian,terima kasih ayah sudah ikhlas memberikan putri ayah yang baik untuk Hen yang mungkin masih belum bisa buat putri ayah bahagia."


"Sama sama Hen...kalian ada apa kesini?"


"Lisa kangen ayah....(memeluk erat.)"


"Ayah juga kangen kamu nak..jangan manja seperti ini, gak malu ada suami mu?"


"Ayah.....kan Lisa kangen...ayah sudah sarapan?"


"Sudah...kamu sudah?"


"Sudah dong...yah Lisa mau ambil mobil biar gak bolak balik pakai taxi waktu ke butik. Kalau sama Hendrik kasihan dia bolak balik ke butik Terus ke kantornya, kan berlawanan arah yah.."


"Iya ambil lah...itu mobil mobil kamu sendiri"


"Oke yah....aku mau buat kopi. Ayah mau? Dan Hen kamu mau aku buatkan kopi?"


"Buatkan ayah teh saja nak.."


"Okey...hen...mau teh apa kopi?"


"Kopi hitam sedikit gula."


"Okey...."


Aku ke dapur membuat kan teh untuk ayah dan kopi untuk Hendrik.


Sementara di ruang tengah Hendrik dan ayah sedang mengobrol.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥happy reading♥