Monalisa

Monalisa
Bab 17 Menemui Pacar



Monalisa POV


Sebenarnya hati ini sangat sakit sekali. Tapi mau bagaimana lagi. Aku menyetujuinya. Jika aku menolak menikah dengan Hendrik tidak aku saja yang kecewa tapi Ayah, papah, mamah, dan Lyra akan sangat kecewa dengan aku.


"Ini takdir yang harus aku jalani. Kuatkan aku Tuhan."


Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang di kamarku. Harusnya pengantin baru malam ini adalah malam yang bahagia. Tapi ini adalah malam yang sangat menyakitkam hati. Bagaimana tak sakit, suamiku malah menemui wanita lain di luar sana. Walaupun dia kekasihnya tapi aku adalah istri resminya.


Aku mengambil buku Diaryku. Aku tuliskan semua yang aku rasakan di dalam hatiku.


Setelah selesai aku mencurahkan semua nya,ku taruh buku ku kembali di lemari. Aku keluar ke dapur mengambil air putih.


Aku kembali ke kamar untuk tidur.


Hendrik POV


Aku menemui Vian di apartemenku, Iya apartemen yang aku beli tanpa sepengetahuan Papah dan Mamah. Apartemen itu selalu ku gunakan saat bersama Vian.


Aku buka pintunya. Terlihat Vian sudah menungguku. Dia langsung memeluku dan menangis.


"Apa kamu sudah menikah Hen?"


"Maafkan aku Vian, iya aku sudah menikah, aku tak mencintai istriku Vian, ini semua karena aku menghargai orang tuaku dan orang tuanya."


"Pastinya sayang," aku memeluk dia erat dan mencium nya.


"Hen ... aku mencintaimu." Dia mencium bibirku dengan penuh gai rah. Dan memainkan lidahnya di dalam mulutku. Aku membalas ciuman itu hingga kami terhanyut.


"Aku juga mencintaimu Vian." Aku membawa dia ke kamar. Aku melanjutkan kegiatanku. Berminggu-minggu aku tidak membelai tubuhnya. Aku benar-benar haus sekali. Biasanya tiga hari sekali aku bercinta dengan Vian. Aku benar-benar tidak kuat dengan hasratku. Aku merebahkan nya di tempat Tidur kami. Aku membuka semua penutup tubuhnya hingga tak ada satu pun kain menempel di tubuhnya. Dan aku mulai melepas baju dan celanaku. Tubuh kami menyatu, hangat yang aku rasakan. Kami melakukannya tanpa henti dan berkali-kali. Aku berkali-kali melakukan pelepasan di dalam rahim Vian.


Tubuhku terkulai lemas. Aku tidur di samping Vian yang terlihat sudah pulas sekali tidurnya. Aku peluk dia.


"Hen ... Sadar kamu punya Istri. Ini malam pertamamu dengan Istrimu bukan dengan kekasih mu Vivian." bati Hendrij


Aku mencoba memejamkan mataku. Namun aku tak bisa. Aku masih Terbayang wajah Lisa yang sendu, aku tau dia berusaha tersenyum walau sakit sekali hatinya.


"Kenapa wajah Lisa selalu terbayang?"


Aku keluar dari kamarku karena tak bisa tidur. Aku membuat kopi dan setelah itu aku duduk di meja makan dengam menikmati Kopi yang ku buat.


"Rasanya beda sekali dengan buatan Lisa. Kenapa Lisa lagi? Dia sedang apa di rumah? Apa dia menangis atau sudah tidur? Arrrggtt ... kenapa Lisa lagi Lisa lagi." Lirihku sambil meminum kopi ku.


Aku masuk ke kamar lagi. Aku tidur di samping Vian dan aku memeluknya. Aku mencoba memejamkan mataku sambil memeluk Vian. Aku belum hisa memejamkan mataku. Dan aku masih saja memikirkan Lisa yang sedang dirumah. Ingin aku pulang, tapi tidak tega meninggalkan Vian. Aku memeluknya erat sekali. "Maafkan aku Vian." Aku pun tertidur dengan memeluk Vian hingga pagi.