Monalisa

Monalisa
Bab 16 Makan Malam Berdua



Lisa menaruh masakannya di meja makan. Lalu menata piring serta menuangkan air putih dalam gelas. Lisa sudah selesai menata makan malam.


"Hen, makanan nya sudah siap. Kamu mau makan sekarang, kan? Ini sudah aku ambilkan?" ucap Lisa.


"Iya sekarang." Jawab Hendrik singkat.


Hendrik berjalan ke arah meja makan. Lalu ia menarik kursi ku dan duduk di depan Lisa


"Mau lauk apa, Hen?" tanya Lisa.


"Coba tumis buncis nya sama telur dadarnya."


"Oke."


Hendrik merasa, dirinya baru pernah merasakan diperlakukan seperti raja oleh seorang perempuan. Hendrik menyendok makanannya, lalu ia menyuapkan ke mulutnya. Hendrik mengunyah makanannya perlahan, dan merasakan lezatnya masakan Lisa.


"Dia bisa masak? Seenak dan selezat ini masakannya?" Hendrik memuji Lisa dalam hati.


Hendrik memandangi Lisa yang sedang mengunyah makanannya. Lisa terlihat begitu anggun sekali. Lisa pun terlihat seperti biasa saja pada Hendrik, tetap bersikap baik juga padanya. Meski Lisa tahu kalau Hendrik akan menemui Vian.


Selesai makan, Lisa langsung membereskan piring kotor dan gelas. Juga piring saji yang ia pakai untuk menyajikan masakannya tadi. Sedangkan Hendrik dia memilih duduk di ruang tengah sambil menyulut sebatang rokok, dan menonton TV.


Lisa membiarkan Hendrik berbuat semaunya. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai Handrik. Walaupun Hendrik tidak pernah memberi nafkah batin untuknya, Lisa akan tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri untuk Hendrik. Lisa tidak peduli Hendrik mencintainya atau tidak. Karena, dengan melihat Hendrik dan hidup bersama Hendrik Lisa sudah merasa bahagia sekali.


Sebenarnya hati Lisa sakit, bak teriris belati, saat menderngar Hendrik akan menemui Vian, kasihnya. Tapi, Lisa membiarkan sakitnya ia tanggung sendiri, karena ia sangat mencintai suaminya biarlah.


Lisa tidak menyangak Hendrik terlihat begitu lahap sekali saat tadi makan. Apalagu lagi Hendrik terus mengambil tumis buncisnya padahal nasinya sudah habis.


"Sepertinya Hendrik suka dengan masakanku," ucap Lisa sambil mencuci piring dan gelas kotor bekas makan tadi .


Selesai mencuci piring, Lisa kembali ke depan dan melihat Hendrik sedang menonton TV dengan tangan kanannya memegan sebatang rokok.


"Hen, mau aku buatkan kopi?" tanya Lisa.


"Boleh, memang bisa?"


"Aku sudah biasa membuatkan kopi untuk ayah, jelas aku bisa lah?" jawab Lisa.


"Ya sudah, mau deh," ucap Hendrik.


Lisa bergegas ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Setelah dirasa kopi yang ia buat sudah pas rasanya, Lisa membawanya lagi ke ruang tengah. Ia menaruhnya di meja, lalu Lisa langsung pergi ke kamarnya, karena Hendrik tidak ada di ruang tengah. Tapi, ponselnya tertinggal di meja.


Baru saja Lisa mau beranjak dari ruang tamu, ia mendengar ponsel Hendrik berbunyi. Ia melihat siapa yang menelefon Hendrik, dan ternyata nama Vian lagi-lagi muncul di layar ponsel Hendrik. Lisa membiarkan saja, tapi ponsel Hendrik terus berdering, Vian terus menelefon Hendrik tanpa henti. Akhirnya Lisa ke kamar Hendrik, memanggil Hendrik dan membawa ponselnya ke kamar Hendrik. Tidak peduli nanti Hendrik marah saat melihat ia di kamarnya.


"Hen, ponsel mu berbunyi?" Lisa memanggil Hendrik dari balik pintu, tapi tidak ada sahutan Hendrik dari dalam.


"Ada apa kamu di sini, Lisa?" tanya Hendrik.


"Ponsel kamu bunyi. Vian menelfonmu dari tadi," ucapnya sambil memberikan ponsel Hendrik.


"Oh iya, terima kasih," jawab Hendrik.


"Ya sudah aku keluar, itu kopinya di meja depan TV," ucap Lisa.


"Iya, terima kasih, Lisa," ucap Hendrik.


Lisa langsung keluar dari kamar Hendrik. Ia masuk ke kamarnya. Lisa hanya bisa bersabar menahan rasa sakit dan cemburu saat melihay Vian menelefon Hendrik, apalagi mendengar Hendrik akan menemui Vian.


"Tuhan, sakit sekali hatiku, dadaku juga sesak. Apa aku bisa? Apa aku sanggup melewati hari-hariku ini ke depannya? Baru sehari saja sudah sesakit ini," ucap Lisa dalam hati.


Lisa mengambil buku hariannya, lalu menuliskan apa yang ia lalui hari ini. Buku hariannya adalah teman curhat yang paling baik menjaga rahasianya.


Hendrik mengangkat telefonnya dari Vian. Setelah selesai bicara dengan Vian lewat telefon, Hendri bergegas pergi untuk menemui Vian di tempat biasa mereka bertemu. Sebelum pergi, Hendrik minum dulu kopi yang tadi Lisa buatkan untuknya. Ia menyesap kopi hitam yang sangat nikmat aromanya.


"Nikmat sekali kopi buatannya. Apa aku akan tahan dengan kabaikan dia yang seperti ini? Maafkan aku Lisa. Aku tidak bisa mencintaimu lagi." Ucap Hendrik sambil menikmati kopi buatan Lisa.


Setelah selesai minum kopi Hendrik bergegas pergi, tapi ia pamit dengan Lisa terlebih dahulu. Ia mengetuk kamar Lisa.


"Ada apa, Hen?" tanya Lisa.


"Lisa aku mau menemui Vian," jawabnya.


"Oh,ya hati-hati. Apa kamu akan pulang larut malam?" tanya Lisa.


"Sepertinya."


"Ya sudah kamu bawa kunci rumah saja. Biar tidak membangunkan aku, takutanya aku tidak mendengar kamu pulang," ucap Lisa.


"Iya aku bawa saja kuncinya."


"Hen maaf, apa kamu mau sementara tidur di sini kalau mama, papa, atau ayah ke sini, lalu menginap di sini? Karena, kamar ini ternyata mereka siapkan untuk kita," ucap Lisa.


"Oke, itu bisa diatur," jawabnya. "Aku berangkat, ya?" pamit Hendrik.


"Iya hati-hati, Hen," jawab Lisa.


Hendrik keluar menemui Vian. Tapi, entah kenapa kakinya berat untuk melangkah, dan hatinya sedikit gelisah karena memikirkan Lisa yang sendirian di rumah.