
Hujan deras menemani perjalanan mereka. Lisa dan Hendrik semakin akrab saja, dalam setiap obrolan mereka terselip canda tawa yang membuat Lisa tertawa bahagia.
Sesampainya di rumah hujan masih sangat deras sekali.
Lisa dan Hendrik berlari kecik dari mobil menuju teras rumahnya.
Mereka masuk ke dalam rumah, Lisa langsung menuju ke belakang mengambil vas bunga untuk menaruh mawar pemberian Hendrik. Lisa menata bunga mawar itu dan akan menaruhnya di kamarnya.
Saat hendak masuk ke dalam kamarnta Hendrik menghentikan langkah Lisa.
"Kenapa ditaruh di kamar situ?" tanya Hendrik.
"Iya, aku ingin setiap aku bangun tidur melihat bunga mawar darimu."jawab Lisa.
"Oh....ya sudah lah. Lisa aku tunggu kamu di ruang tamu, aku ingin berbicara denganmu."
"Oh iya sebentar aku mandi dan ganti baju dulu."
Lisa masuk ke dalam kamar dia langsung mandi dan setelah selesai menghampiri Hendrik ke ruang tamu. Saat di ruang tamu, Lisa tak mendapati adanya Hendrik. Dia pergi ke kamar Hendrik memastikan dia ada di kamar atau tidak. Lisa masuk ke dalam kamarnya, Dia tak mendapati Hendrik di kamrnya.
"Di mana Hen?" ucap Lisa lirih, dia mendengar suara gemercik air di kamar mandi Hendrik.
"Oh..sepertinya dia sedang di kamar mandi. Aku tunggu di luar saja lah." Saat Lisa akan keluar dari kamarnya Hendrik keluar dari kamar mandi dan memanggil Lisa.
"Lisa, kamu di sini?" tanya Hen.
"Habisnya aku cari kamu di ruang tamu tidak ada, ya aku cari ke kamar. Dan, ternyata kamu sedang mandi. Ya sudah aku mau keluar lagi."jawabnya.
"Di sini saja jangan keluar."
"Pakai bajumu dulu aku akan keluar menunggu kamu di ruang tamu."
"Lisa, aku mau kamu tetap di sini."
"Masa aku mau lihat kamu ganti baju."
Hendrik mendekati Lisa, dia memegang pinggang Lisa dan mereka saling bertatapan.
"Lisa, aku suami mu, mau aku telanjang di depanmu juga tak apa-apa." Wajah Hendrik semakin mendekati wajah Lisa hingga jarak antara wajah mereka hanya beberapa centi saja.
"Hen jangan seperti ini."
"Lisa apa kamu tak menginginkannya?"
"Menginginkan apa Hen?"
Hendrik tak menjawab pertanyaan Lisa, di langsung mencium bibir Lisa dengan lembut dan ********** Lisa langsung melepaskan diri dari Hendrik dan menjauhinya.
"Lisa, maafkan aku."
"Iya Hen,maafkan aku juga. Hen jika hatimu belum siap menerimaku, jangan lakukan itu. Aku takut ketika aku semakin dalam mencintaimu kamu akan kembali lagi pada Vian. Aku tau kamu hanya merasa bersalah terhadapku saja. Tapi, hatimu lain Hen. Aku tau kamu masih mencintai Vian dan mungkin mengharapkannya kembali."jelas Lisa.
"Kamu salah Lisa, apa kamu lupa akan mengajariku mencintaimu Lisa?"tanya Hendrik.
"Aku tak lupa Hen."jawabnya.
"Kalau tidak lupa mengapa seperti itu kata-katamu Lisa?"
"Aku tak ingin kamu mencintaiku hanya rasa kasihan terhadapku Hen."
"Lisa, aku akan terus belajar mencintaimu kembali Lisa. Aku akan buang semua kenangan dengan Vian, tolong pegang kata-kataku ini."ucap Hendrik meyakinkan Lisa.
"Iya Hen aku pegang kata-katamu. Kamu mau pakai baju apa,biar aku ambilkan."ucap Lisa.
"Terserah kamu, aku pakai saja nanti."
Lisa mengambilkan kaos dan celana pendek untuk Hendrik.
"Pakailah, nanti dingin, di sini dingin sekali Hen, curah hujannya juga tinggi." Lisa melihat kearah jendela sedangakn Hendrik memakai baju di belakang Lisa.
"Iya memang seperti ini."jawab Hendrik sambil memakai baju.
"Lisa, aku minta tolong ambilkan ponsel ku di meja sampingmu itu."
"Oh iya...." Lisa mengambil ponsel Hendrik dan melihat wallpaper ponselnya adalah foto dirinya dan Hendrik saat mereka berada di pesta pernikahan Lyra. Dia dulu mengambil foto tersebut karena di paksa oleh Mamah Marta, padahal saat itu Lisa sedang tak enak badan.
"Kenapa kamu tersenyum?"tanya Hendrik.
"Ini foto siapa di Wallpaper kamu Hen?"
"Fotoku dengan istriku. Siapa lagi Lisa?"
"Oh...istrimu." ucapnya sambil duduk di samping Hendrik dan memberikan ponselnya.
Hendrik membuka ponselnnya, di layar tampilan ponselny juga menggunakan foto Lisa yang sedang duduk di pohon yang tumbang di tepi danau. Lisa yang melihat langsung menyahut ponsel Hendrik.
"Dari mana kamu dapat fotoku ini?" Tanya Lisa.
"Dari akun media sosialmu Lisa." jawabnya.
"Oh....." Lisa hanya ber oh saja.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menggunakan foto kamu?"
"Boleh Hen."
Lisa terdiam menatap suaminya.
"Hen, kamu berubah kali ini saja atau selamanya? Aku takut kamu kembali pada Vian lagi Hen. Aku tau kamu masih mencintainya." gumam Lisa dalam hati.
"Lisa, mulai detik ini aku akan buktikan bahwa aku benar-benar akan menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan mencintaimu Lisa. Aku janji." gumam Hendrik dalam hati.
Mereka hanya terdiam. Hendrik yang menyadari Lisa sedang melamun langsung menggoda Lisa. Dia mencium pipi Lisa hingga Lisa terkejut dengan perlakuaannya.
"Hen...mengagetkan saja kamu."
"Makanya jangan melamun." Hendrik membawa Lisa ke dalam pelukannya.
Lisa berada di atas badan Hendrik dan wajah mereka saling bertatapan. Hendrik membelai lembut wajah Lisa dan mengecup bibirnya. Lisa tersadar dan melepaskan pelukan Hendrik.
Namun, Hendrik masih erat memeluknya. Dia membalikan tubuh Lisa dan sekarang tubuh Lisa tertindih tubuh Hendrik. Hendrik melanjutkan mencium bibir Lisa.
"Hmm...Hen..jangan seperti ini."
"Lisa, aku menginginkannya."
"Hen aku..emm..." Hendrik mencium bibir Lisa lagi, Lisa semakin mengimbangi ciuman Hendrik. Hingga kecapan mereka terdengar nyaring di kamar. Hendrik mencium leher Lisa dan ******* telinga Lisa. Memberika Lisa tanda merah di leher Lisa.
"Uhmm..Hen..."
"Iya Lisa."
Hendrik melepaskan kancing baju Lisa satu-persatu hingga terlepas semuanya. Lisa langsung menutupi dadanya dengan tangan namun Hendrik mencegahnya.
"Kenapa di tutupi Lisa."
"Hen aku malu...Please jangan sekarang. Aku belum...."
"Belum siap?" tanya Hendrik dan Lisa hanya mengangguk saja.
"Lisa, siap tidak siap kita akan melakukannya. Aku suamimu Lisa."
"Iya Hen lakukanlah."ucap Lisa menyerah.
Hendrik kembali mencumbu tubuh Lisa, dia bermain di dada Lisa lama sekali hingga Lisa meleguh menikmati setiap sentuhan dari Hendrik.
"Hen...." Lisa melemah saat tangan Hendrik menyusup ke ****** ***** Lisa dan menyentuh bagian paling sensitif di tubuh Lisa.
"Iya Lisa..." Hendrik melepaskan semua baju Lisa dan bajunya. Tak ada sehelai benangpun di tubuh mereka. Derasnya hujan menyamarkan suara ******* mereka.
"Sakit Hen, tolong hentikan, perih sekali Hen"
"Lisa, sakitnya hanya sebentar, tahan sayang."
Lisa hanya mengangguk pasrah. Dan benar dia sudah tak meraskan sakit lagi. Hanya kenikmatan yang Lisa dapatkan. Mereka melakukannya berkali-kali hingga ujung malam.
"Lisa, kamu benar-benar menjaganya untukku. Terima kasih Lisa." gumam Hendrik dengan mendekap tubuh istrinya yang kelelahan