Monalisa

Monalisa
Bab 3 - MONALISA



(Di depan Monalisa Boutique)


Sebuah mobil baru masuk di depan butik Lisa. Rafli ayah Lisa turun dari mobil. Beliau berniat ingin mengajak anaknya makan siang dan sekalian mengecek restoran miliknya.


Saat turun dari mobilnya Ayah Rafli melihat mobil yang tak asing baginya. Iya mobil Arif sahabatnya. Dan mobil sahabatnya itu parkir di sampingnya. Benar dugaan Ayah Rafli itu adalah mobil Arif sahabatnya.Arif terlihat turun dengan seorang laki laki muda.


"Arif? Mau apa dia datang ke butik anak ku. Dan, siapa pemuda di sampingnya?" gumam Rafli.


"Arif?" sapa Rafli.


"Hai, Rafli? tidak kuduga kita bisa bertemu di sini. Kamu mau apa kesini, Raf?" tanya Arif.


"Mau menemui pemilik butik ini," jawab Rafli.


"Pemilik butik ini?" tanya Arif


"Iya, lalu, kamu mau apa ke sini?" jawab Rafli dan bertanya pada Arif.


"Mau menjemput istri dan anak perempuanku. Oh ya, kenalkan ini Hendrik anak sulung ku. Aku kesini akan menemui anak bungsu ku yang sedang fitting gaun pernikahan di butik ini. Dia di dalam dengan istriku dan calon suaminya," jelas Arif.


Arif menjabat tangan Rafli, dan berpelukan. Lalu Hendrik putra sulung Arif juga memberi salam pada Rafli dengan sopan dan menjabat tangan Rafli.


"Kamu mau menemui pemilik butik ini? Bukan kah pemiliknya masih mudah sekali. Mungkin seusia anakku Hendrik." Arif begitu penasaran sekali dengan kedatangan Rafli yang mau menemui pemilik butik.


"Oh jadi begitu? Iya, aku mau mengajaknya makan siang di luar sekalian mengecek restoran ku yang baru bersamanya," jawab Rafli.


"Jangan bilang kamu ada main dengan pemilik butik ini. Kamu bukan pedofil kan, Raf?" Bisik Arif pada Rafli.


"Sembarangan kamu! Ayo masuk, aku ingin segera menemuinya." Rafli menyenggol bahu Arif dan mengajaknya masuk ke dalam butik Monalisa.


Arif hanya mengernyitkan dahinya. Dan mengikuti masuk ke dalam butik. Sesampainya di dalam Arif melihat istrinya yang sedang melihat lihat gaun hasil desain nya Lisa.


"Mama kok sendiri? Mana Lyra dan Denni?" tanya Arif.


"Sedang mencoba bajunya di kamar pas, Pa," jawab Marta.


"Oh ya ma, ini Rafli sahabat papa yang sering papa ceritakan itu. Dia duda ma, dan katanya dia kesini mau menemui pemilik butik ini." Arif memperkenalkan Rafli pada istrinya.


"Salam kenal mba, saya Rafli, sahabat Arif semasa SMA dan kuliah." Rafli memperkenalkan diri pada Marta.


"Salm kenal juga pak Rafli. Apa anda mau menemui pemilik butik ini?" tanya Marta penasaran.


"Iya mba, sepertinya Lisa masih di atas," jawab Rafli.


Indira menemui Rafli yang sedang mengobrol dengan Arif dan Marta.


"Siang pak Rafli? Mau bertemu dengan Mba Lisa?" Sapa indira.


"Iya, panggilkan dia, mumpung ada sahabatku di sini aku akan memperkenalkannya," titah Rafli pada Indira.


"Baiklah pak, mau saya bikinkan kopi pak atau teh?" Indira menawari Rafli minuman.


"Tidak usah, Ra. Nanti saya akan mengajak Lisa makan siang sekalian. Dia belum makan pasti," ucap Rafli.


Marta dan Arof saling memandang. Sepertinya Rafli sudah kenal betul dengan pemilik butiknya. Dengan asistennya Lisa saja kenal baik sekali kelihatannya.


(Di Ruangan Lisa)


Badanku pegal sekali, benar kata Ayah, kalau sering begadang jadi seperti ini rasanya. Aku masih teridiam duduk di depan meja kerjaku, membuat desain baju yang tak kunjung selesai, karena pikiranku terganggu dengan sebuah kata, yaitu "Menikah."


Aku tak tau, kapan aku akan menyudahi status lajangku ini. Apa aku yang bidoh masih mencintai dia? Dia yang sudah pergi entah ke mana.


Terdengar suara ketukan pintu di ruanganku. Indira, iya, India masuk ke dalam ruangan ku, entah apa yang akan Indira sampaikan lagi padaku.


"Mba, ada Ayah Rafli di luar," ucap Indira.


"Oh, ayah ke sini? Katanya mau berangkat ke Singapura, kok ke sini?" ucapku pada Indira.


"Aku tidak tahu, Mba," jawab Indira.


"Ya sudah sebentar lagi aku keluar, baju-baju untuk keluarga Tante Marta sudah di siapkan, kan?" tanya ku pada Indira.


"Sudah, mba," jawab Indira, dia langsung keluar dari ruanganku.


Aku keluar menemui ayah, aku sedikit berlari dan lansung memeluk ayah. Laki-laki terhebatku.


"Ayah, kok tidak bilang bilang mau kesini?" Aku bergelayut manja pada ayah.


"Kalau bilang namanya bukan kejutan dong sayang?" Ayah mencium keningku dan memelukku.


"Ayah nyebelin, bilangnya siang ini mau ke singapura, malah ke sini," ucapku dengan manja.


"Ayah masih ingin bersama putri ayah yang cantik ini." Ayah mencubit pipiku, ya, seperti itulah, ayah. Dia selalu memberikan kejutan padaku dan selalu memanjakanku.


Aku dan Ayah sampai tak mempedulikan Tante Marta dan dia pria yang berada di samping Tante Marta yang sedang memandang aku dan ayah dengan tatapan penuh kebingungan. Mungkin mereka baru pernah melihat anak perempuan semanja aku ini dengan ayahnya.


"Oh ya nak, ini sahabat ayah, Om Arif dan ini istrinya Tante Marta." Ayah memperkenalkan aku denga Om Arif suami Tante Marta.


"Jadi ini putrimu, Raf? Pemilik butik ini putrimu? Aku kira, pikiranku sudah macam-macam Raf. Aku kira kamu mau menemui kekasihmu pemilik butik ini, yang masih muda sekali. Ternyata, ini anakmu." Om Arif meninju lengan ayah, dia mengira Ayah akan menemui kekasihnya.


"Kamu kebiasaan, Rif. Selalu negatif pikirannya," ucap Ayah.


"Lisa, ini anak tante Hendrik yang tadi tante ceritakan." Tante Marta memperkenalkan aku dengan Hendrik.


Aku melihat Hendrik dengan seksama, aku seperti pernah melihat Hendrik anak Tante Marta


"Dia...? Hendrik yang dulu? Kenapa bertemu lagi? Dan kenapa dulu dia pergi begitu saja?" Dalam hati ku Bertanya- tanya, apakah itu benar Hendrik Lelaki yang aku cintai dulu saat SMA? Dan yang memberi harapan lalu pergi begitu saja tanpa alasan dan tanpa kabar.


"Hendrik ini Lisa anak Om Rafli sahabat papamu. Dia pemilik butik ini." Tante Marta memperkenalkan Hendrik pada ku.


Mungkin Hendrik masih mengingat-ingat nama ku dan wajahku tak asing bagi Hendrik. Iya, tatapan itu menyiratkan Hendrik sedang berpikir tentangku. Dan, dia hanya tersenyum sinis padaku.


"Dia cewek yang dulu waktu SMA aku cintai, tapi dia malah sering pergi dengan pria itu. Aku benci sekali. Sampai sekarang jika mengingatnya rasa sakit ini masih sangat terasa." Hendrik masih memandangi Lisa dengan tatapan Sinis sekali


Hendrik hanya tersenyum dingin dengan Lisa. Lisa sepertinya tau kalau Hendrik masih membencinya.