Monalisa

Monalisa
Bab 11 GAUN PERNIKAHAN



Tak lama kemudian aku dan ayah sudah sampai di butik ku, ayah memarkirkan mobilnya di samping mobil Lyra. Aku dan ayah masuk ke butik terlihat Lyra dan Denni menunggu kami.


"Hay Lyra, Maaf menunggu lama. Mana tante dan om?"


"Iya Lisa tidak apa-apa, gimana sudah enakan badannya? Mama sama papa sedang di jalan."


"Iya sudah lumayan enakan Ra. Oh yasudah kita tunggu di sana sembari ngeteh nanti aku suruh karyawanku untuk membuatkan teh untuk kita," ucapku


"Eh, Om Rafli ikut juga?" sapa Lyra pada ayah.


"Iya dong ikut? Kan mau lihat Lisa mencoba gaun yang dia simpan dari dulu. Akhirnya dia pakai juga itu gaun," jawab ayah.


"Kok ayah tahu?" tanya Lisa.


"Tau lah? Kamu sudah buat 5 tahun yang lalu kan, Sayang?"


"Ih ayah ... Dari mana ayah tahu?"


"Dari siapa lagi kalau bukan asisten sekaligus manajer kamu sendiri yang ngasih tahu ayah?"


"Maksud ayah Indira?"


"Iya, siapa lagi kalau bukan dia? Ayo kita ngeteh dulu."


Indira selalu saja melapor pada ayah apa yang aku bicarakan.


"Dasar tukang ngadu!" aku berdecak lirih sambil berjalan menuju kursi tamu di pojok ruangan.


Aku mencari karyawanku untuk membuatkan teh untuk ayah, Lyra, Denni, Om Arif, Tante Marta, dan Hendrik.


Kami sedang menunggu teh datang sambil mengobrol bersama Lyra. Tak lama kemudian Om Arif, Tante Marta, dan Hendrik datang dan menghampiri kami.


"Maaf menunggu lama, Raf. Tadi lumayan macet jalannya." Ucap Om Arif dengan menyambut papa dengan pelukannya.


"Santai saja tehnya saja belum jadi kok. Mari duduk." Ayah mempersilakan Om Arif duduk bersama Tante Marta dan Hendrik.


Kami duduk bersama sambil mengobrol ayah dan Om Arif sesekali bercanda dan mengenang dulu saat masih muda. Aku memandangi wajah calon suami ku yang dari tadi tertawa karena ulah papahnya dan ayahku yang sedang asik bercerita masa lalunya.


Senyum yang sangat menyejukkan hati sekali. Tak pernah berubah senyumannya, masih sama seperti dulu saat aku melihatnya. Aku masih mencuri pandang senyuman Hendrik.


"Hen apa setelah menikah nanti kamu akan tersenyum seperti itu kepadaku?"


Karyawanku datang membawakan teh dan sedikit cemilan. Ya, memang di butik ku selalu menyediakan minuman dan cemilan untuk tamu yang datang.


Mereka meminum tehnya masing masing. Dan mengambil cemilan yang tersedia.


"Lisa, ayo sekarang coba gaunnya? Tante sudah penasaran dengan gaun pernikahanmu," pinta Tante Marta yang sudah tidak sabar.


"Baik, sebentar Lisa ambil dulu." Jawabku sambil beranjak dari tempat dudukku.


Aku ke atas menuju ruangan ku dan mengambil gaun milikku yang aku buta lima tahunan yang lalu. Aku di bantu oleh Indira, dia juga mengambilkan beberapa setelan jas untuk mempelai pria.


Aku menuruni anak tangga satu per satu sambil membawa gaunnya. Aku memperlihatkan gaunnya pada semua keluarga yang datang.


"Lisa, cantik sekali gaunnya," ucap Lyra.


"Lisa, ayo dicoba sekarang, pasti cocok denganmu. Kamu juga, Hen, ayo coba jas milikmu juga." Tante Marta mengajak kami ke kamar pas untuk mencoba.


"Mba Lisa cantik sekali ...," ucap Indira


"Kamu bisa saja, Ra? Memang aku cantik, kan?" ucapku dengan tersenyum membanggakan diri.


"Mba Bahagia?"


"Iya bahagia."


"Jangan bohong? Mba tidak terpaksa menikah dengan Hendrik?" tanya Indira.


"Tidak lah, yuk sudah selesai, bisa keluar kan sekarang, kan?"


"Iya sudah, ayo kita keluar, Mbak?" ajak Indira.


Aku keluar dari kamar pas. Semua mata melihat ku memakai gaun pernikahanku.


"Wah .... Lisa .... kamu cantik sekali? Mah gaunnya lihat cantik sekali mah?" ucap Lyra dengan terkagum-kagum padaku.


"Calon memantu mama cantik sekali? Hen sini berdiri di samping Lisa mamah ingin mengambil foto kalian." Pinta Tante Marta dengan menarik lengan Hendrik agar mendekatiku.


Hen diam saja, tapi Tante Marta memaksanya. Diraihnya lagi tangan Hendrik oleh mamahnya untuk menuju sampingku dan Tante Marta mengambil foto kami. Aku tahu Hendrik tidak suka, aku lihat dari raut wajahnya.


"Cocok sekali mereka berdua ya, Raf?" puji Om Arif


"Iya, Rif, gak terasa putri kecilku akan menikah, dia cantik sekali seperti ibunya." Aku mendengar ayah memujiku dengan tersenyum bahagia.


"Raf, jangan menangis."


"Aku meneteskan air mata karena bahagia, Rif, semoga Lisa selalu bahagia. Aku minta tolong bantu jaga anak semata wayang ku, Rif."


"Iya Raf, itu pasti. Sudah jangan bersedih lagi."


Aku melihat ayah menatapku dengan tatapan sendu sekali, aku mendekati ayahku.


"Ayah, jangan sedih, Lisa kan mau menikah, Lisa sayang ayah." Ucapku dengan mengeratkan pelukanku pada ayah.


Aku memeluk ayah, dan seketika itu aku langsung menangis, menumpahkan seluruh air mataku yang dari kemarin terbendung.


"Ayah bahagia akhirnya kamu akan menikah, Nak?"


"Ayah, terima kasih untuk semuanya. Lisa sangat mencintai ayah. Lisa sangat menyayangi ayah. Ayah jangan sedih lagi, Ya?"


"Ayah bahagia, sangat bahagia. Kamu jangan menangis gini, nanti cantikmu hilang."


Aku mencoba tersenyum kembali dan menatap ayahku. Dia laki-laki terhebat di dunia ini. Ayah adalah segalanya bagiku.


Semua yang melihat ku dengan ayah juga meneteskan air matanya.


Akhirnya selesai juga acara Fitting bajunya. Kami melanjutkan meminum teh dan mengobrol hangat.


Setelah semua selesai keluarga Om Arif berpamitan untuk pulang, lalu aku dan ayah langsung keluar dari butik menuju resto & spa milik ayah. Ayah melajukan mobilnya sambil bercerita denganku. sesekali kami tertawa dan bercanda bersama di dalam mobil. Sesampainya di Resto & Spa milik ayah, aku melakukan treatment di sana. Semua pelayan melayani ku dengan baik. Ayah setia menungguiku di sana sambil mengecek keuangan dan berbincang-bincang dengan managernya.


Ayahku memang pebisnis yang giat. Ayah membuka Resto & Spa ini karena aku dan ibu dari dulu hobi pergi ke spa, yah tempat ini di buat saat ibu masih ada. Begitu banyak kenangan dengan ibu ku disini. Daripada menghabiskan banyak biaya ke tempat spa, ayah langsung ada ide membuat usaha ini dan sudah ada enam cabang usaha Resto dan Spa milik ayah di kota kami. Dan belum lagi ayah membuka di luar kota dan luar jawa.