Monalisa

Monalisa
Bab 10 DILEMA



Sepulang dari rumah Tante Marta, Lisa masih saja memikirkan apa yang di katakan Hendrik.


Pernikahan Lisa sangat mendadak sekali. Ayah Lisa sudah menyiapkan undangan, begitu pula Om Arif dan Tante marta. Mereka sibuk mengurus pernikahan Hendrik dan Lisa.


Lisa masih merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia masih dilema untuk menikah dengan Hendrik, mengingat kata kata Hendrik yang akan membuat Lisa menderita.


"Salah apa aku padamu, Hen? Sehingga kamu sangat membenciku. Asal kamu tahu Hen, aku selalu menjaga cinta ini dari dulu, Lisa, ini pilihanmu, walau nanti setelah menikah yang kamu terima hanya penderitaan, kamu harus terima. Karena yang membuat kamu menderita bukan orang yang kamu benci, melainkan orang yang sangat kamu cintai." Ucap Lisa dalam hati sambil memejamkan matanya.


Monalisa P.O.V


Hari sudah terlihat begitu terik. Aku melihat jam dinding di kamarku, sudah menunjukan pukul 11.30. Aku mendengar suara ponselku berdering. Aku mengambil ponselku yang ada di atas meja dan melihat siapa yang menelfon ku. Lyra, adik Hendrik yang menelfon ku.


"Iya bagaimana, Ra?" tanyaku setelah menggeser tombol hijau di layar ponselku.


"Astaga, aku lupa, Ra? Oke aku siap-siap dulu." Ucapku yang melupakan acara siang ini untuk bertemu leluarga Hendrik di butik, karena akan fitting baju pengantin.


Aku segera mengakhiri panggilanku dengan Lyra. Aku bergegas bangun dari tempat tidurku. Padahal aku sedang sedikit tidak enak badan. Tapi, mau bagaimana lagi? Ada acara siang ini. Apalagi Lyra dan calon suaminya sudah di butikku.


Sebenarnya aku memang benar benar lupa Kalau hari ini dia ada fitting gaun pernikahan.


Buat apa fitting baju? Orang gaun itu sudah aku persiapkan dari dulu? Memang aku dulu mendesainnya sendiri. Sudah bertahun-tahun gaun itu aku buat, aku juga memilih penjahit yang handal untuk membuat gaun itu. Gaun itu masih tertata rapih di dalam ruang kerjaku dan itu adalah gaun terindah yang belum pernah di pakai orang untuk menikah.


Aku segera ke kamar mandi untuk mandi dan setelah selesai mandi aku bersiap siap menuju butik.


Aku bergegas menghampiri ayahku sambil sedikit berlari kecil, "Ayah Lisa mau ke butik, Lyra sudah menunggu Lisa di sana. Ada Om Arif, Tante Marta, dan Hendrik juga nanti. Apa ayah mau ikut?"


"Mau apa mereka di butik mu, Sayang?" tanya Ayah.


"Lyra bilang aku harus Fitting gaun pernikahan. Padahal gaun itu sudah pas sekali untuk aku tetap saja mereka maunya seperti itu." Jawabku.


"Oke ayah iku, ayah tidak mau calon pengantin menyetir mobil sendiri. Ayo ayah temani tuan putri ayah."


"Oke ayah."


Aku ke butik bersama ayahku. Ayah melajukan mobil dengan santai sekali sesekali ayah mengajak aku mengobrol dan bercanda.


"Kamu bahagia sayang?"


"Iya, sangat bahagia"


"Syukurlah, kalau sudah menikah nanti, kamu harus jadi istri yang penyayang, sabar, dan taat pada suamimu."


"Iya, Ayah, itu sudah pasti."


Ku tutupi semua kesedihanku di depan ayahku dan di depan semuanya. Aku tak mau mereka tau bagaimana nanti setelah aku menikah, walau aku tak bahagia tapi aku harus membuat mereka yang aku sayangi bahagia. Tak peduli bagaimana penderitaanku nanti saat hidup dengan Hendrik.