
tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu, asisten Gilang membukakan pintu dan menyuruh mereka semua masuk, satu persatu model yang tadi tampil di acara Felly masuk ke ruangan Gilang, dan salah satunya adalah Mona.
saat Mona melangkah masuk dan melihat ke arah Gilang ia hanya terpaku mematung menatap Gilang ia sangat kaget tidak menyangka dengan apa yang ada di depannya
Gilang yang tadi memang suda melihat mona tidak merasa kaget lagi saat mona masuk ke ruangannya ia bersikap acuh seolah-olah tidak pernah mengenal Mona sebelumnya.
Felly meminta semua model nya memperkenalkan diri pada pak Gilang. dan mereka pun satu persatu mengenalkan diri termasuk Mona yang juga ikut mengenalkan diri.
Gilang hanya menatap tajam kearah Mona, tanpa mengatakan apapun, bahkan ia meminta Mona mengulangi perkenalan dirinya karena ia tidak mendengar dengan jelas
Mona melihat ke sekelilingnya merasa kesal pada Gilang yang sepertinya sengaja membuatnya mengulang perkenalan diri.
Mona lalu kembali maju dan mengenalkan dirinya lagi..
tanpa mengatakan apapun pada Mona setelah ia selesai mengenalkan diri untuk ke dua kalinya, Gilang langsung menanda Tangani beberapa proposal kerja sama mereka dan memperpanjang untuk brand Felly
"baiklah kita suda sepakat dalam kerja sama ini, kedepannya kita akan sering bertemu untuk membahas pakaian terbaru mereka, saya harap kerja sama kita kedepannya selalu berjalan lancar" sambil mengulurkan tangan pada felly yang menyambut tangan gilang dengan rasa senang
Gilang lalu pergi keluar dari ruangan itu, dan Mona hanya menunduk saat Gilang keluar, ia tidak berani menatap ke arah gilang.
Gilang kembali ke ruang kerjanya, ia termenung di depan laptopnya kembali teringat dengan Mona, entah ia merasa senang atau sedih karena bertemu Mona kembali. ia suda berusaha keras melupakan Mona tapi malah mereka bertemu lagi yang membuat perasaannya kembali berdebar.
"kemana saja kamu selama ini? kenapa kita akhirnya bertemu lagi?" batin Gilang sambil melihat ke ponselnya seperti nya ia melihat foto Mona yang masi tersimpan di ponselnya
****
Mona pulang ke rumah setelah selesai acara dan pekerjaannya. ia saat ini sudah punya rumah sendiri hasil dari kerja kerasnya selama ini.
setibanya di rumah Mona langsung ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terlihat nyaman.
kehidupan Mona sekarang jauh lebih baik, saat ia bertemu dengan Felly dan bekerja untuknya.
saat ini Mona pokus mencari ayahnya, ia kini suda pindah ke pusat kota, tempat terakhir kali ayah nya mengatakan ia ingin merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. hingga Sampai sekarang ayahnya belum juga kembali
tidak bisa dipungkiri kadang rasa rindu Mona kepada sang ayah yang telah lama tidak ia temui membuat hatinya terasa sakit.
"ayah aku suda pindah ke kota sekarang, tapi ayah Dimana? aku sudah berusaha mencari ayah tapi tak kunjung ketemu" batin Mona dengan wajah sedihnya
Gilang sedang duduk melamun memperhatikan layar laptop di meja kerjanya,
meski rasa kecewa masih terasa di hatinya tapi ia tetap merindukan Mona, perasaannya masih berdebar saat mengingat tentang Mona apalagi mereka kini kembali bertemu.
lamunan Gilang disadarkan oleh kedatangan sekretarisnya yang membawa setumpuk berkas yang tebal untuk segera diselesaikan
"apa sebanyak itu berkas yang harus di perbaiki" tanya Gilang pada sekretaris yang menaruh setumpuk berkas sambil menganggukkan kepala kalau itu adalah berkas tambahan yang kemarin belum sempat diselesaikan dan besok mereka akan ada rapat
sekretaris sepertinya sudah paham kalau pada akhirnya ialah yang akan kerepotan mengerjakan semua berkas. oleh sebab itu ia suda menyiapkan beberapa keperluan yang ia butuhkan untuk lembur
setelah beberapa jam pekerjaan mereka akhirnya selesai, Gilang merentangkan tangan dan punggungnya merasa keram
hari suda menunjukan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, ia menyuruh sekertaris nya merapikan semua pekerjaan mereka dan pulang.
***
setiba di rumahnya, Gilang melihat ayahnya suda menunggu untuk bertemu.
"ayah...kenapa tidak bilang dulu kalau ingin mampir, kalau aku tahu aku bisa pulang lebih awal"? ujar Gilang sambil menaruh tas dan duduk di sofa dekat ayahnya
"ayah suda menelpon mu tapi kau tidak mengangkat telpon ayah"
"ah...sepertinya hp Gilang masih di mode diam jadi aku tidak tahu kalau ayah telpon" jelas gilang
"tapi ada perlu apa ayah datang ke mari"? tanya nya penasaran
"ayah akan mengenalkan mu dengan seorang gadis, besok kamu harus datang dengan pakaian rapi pukul dua siang, di alamat yang suda ayah kirim di ponselmu" jelas ayah Gilang dengan nada yang tegas
"perjodohan lagi? ayolah ayah suda berapa kali Gilang katakan kalau urusan wanita Gilang bisa menentukan sendiri, Gilang tidak mau di jodohkan, apa ayah mau gilang melakukan hal yang sama seperti dulu lagi"? ungkap Gilang merasa keberatan dengan permintaan ayah nya yang selalu ikut campur tentang urusan pribadinya.
"ayah menyuruhmu untuk menemuinya dulu bukan langsung menggelar pesta pernikahan, ayah tidak akan memaksa kalau kamu tidak suka dengannya, tapi tentu ayah akan mengenalkan mu dengan perempuan yang lainnya Sampai kamu bisa menerima salah satu wanita itu dan menikahinya" ujar ayah mendesak Gilang agar ia cepat menentukan pilihan
"cukup ayah, aku tidak mau menikahi perempuan yang sama sekali tidak aku kenal terlebih lagi aku tidak menyukainya"
"kalau begitu mau sampai kapan kamu akan melajang? usiamu Suda bukan anak remaja belasan tahun lagi, ini suda waktunya kamu menikah, apa kamu mau ayah mati dulu sebelum melihat mu menikah?"
Gilang hanya bisa menghela napas panjang mendengar ucapan ayahnya yang tidak tahu harus ia jawab apa.
"kamu temui dulu perempuan itu, nanti baru kamu tentukan pilihan kamu setela kamu bertemu, ayah rasa kali ini kamu akan menyukainya" ungkap ayah yakin dengan pilihannya untuk gilang
Gilang masuk ke kamarnya setela ayahnya pulang, ia memikirkan ucapan ayahnya yang menginginkan ia cepat menikah.
"andai ayah bisa mengerti, aku akan segera menikah tanpa membantah andai gadis itu adalah Mona" batin Gilang sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.
"tapi tunggu bagaimana bisa aku masih memikirkan untuk bersamanya dia bahkan tega meninggalkan ku begitu saja, tidak aku tidak boleh berharap tentang Mona, aku harus melupakan tentang nya" ujar Gilang sambil menggelengkan kepala nya karena pikirannya selalu tertuju pada Mona yang kembali hadir dalam hidupnya
disisi lain Mona juga sedang memikirkan gilang yang ia temui hari ini.
"andai kamu tahu betapa senang nya aku bisa bertemu kamu lagi, tapi sayang mungkin saat ini kamu masih membenci ku, kamu terlihat tidak begitu senang melihat kehadiranku" batin Mona
bersambung....