
Sesampainya di restoran aku dan ayah langsung di sapa oleh beberapa karyawan ayah, juga di sapa oleh manajer Restoran.
"Selamat Siang, Pak Rafli," sapa mereka.
"Selamat siang." Ayah berjalan ke dalam dan menghampiri seseorang yang kata ayah adalah manajer restoran baru ayah.
Mereka berdua terlihat sedang membicarakan masalah tentang Restoran baru ini. Aku hanya menunggu dan duduk di kursi yang berada di ruangan tersebut sambil membuka-buka ponselku.
"Oh ya Teguh, ini Lisa putriku. Kami mau makan siang di sini aku minta siapkan menu spesial dan recomended di sini." Ayah menyuruh manajernya yang bernama Teguh untuk menyiapkan makan siang.
"Siap pak! Nanti saya akan menyuruh koki untuk membuatkan menu makan siang yang spesial di sini," jawab Teguh.
Aku dan ayah keluar menuju tempat duduk. Aku memilih tempat yang dekat dengan jendela, karena pemandangannya bagus. Ada taman bunga di sebelahnya, jadi terlihat indah. Aku duduk menghadap jendela dan masih saja memikirkan kata-kata ayahnya. Terdengar suara seorang pria memanggil ayahku.
"Rafli ...!" Seru seseorang yang baru saja masuk ke dalam Restoran. Dia adalah Om Arif dengan keluarganya. Iya, Om Arif papanya Hendrik. Mereka berjalan mendekati meja kami.
"Benar-benar jodoh sekali, kita bertemu lagi, Pak Rafli." Tante Marta berkata dengan diiringi senyum bahagia.
Aku hanya mengernyitkan dahi, mendengar perbincangan mereka. Terlihat Hendrik, Lyra dan calon suami Lyra masuk kedalam Restoran dan berjalan menuju ke orang tuanya.
"Lisa, ketemu lagi di sini. Sepertinya kalian benar-benar berjodoh?" ucap Lyra sambil tersenyum padaku.
"Lyra, apaan sih!" tukas ku.
"Ayo gabung saja di sini makan siangnya," ucap ayah.
"Ini restauran ku yang baru, Rif. Sebentar aku panggilkan pelayan untuk menambah menu makanan," imbuh Ayah.
Ayah memanggil pelayan tersebut dan memesan makanan lagi. Kamu makan siang bersama di Restoran baru milik ayah.
"Raf, usaha kuliner mu sangat berkembang pesat sekali. Hebat kamu, Raf," puji Om Arif
"Bisa saja kamu. Ini semua karena mendiang istriku, Rif. Dia yang memulai dulu untuk membuka usaha kuliner. Dari awal warung makan sederhana kami buka. Dan sekarang aku bisa mendirikan Restoran di mana-mana. Maka dari itu aku tak heran dengan Lisa. Di usia yang sekarang ini dia sudah memiliki beberapa butik di sini dan di luar kota. Tapi sayang dia belum mau menikah," ujar ayah sambil tersenyum penuh arti padaku, seakan aku harus segera menikah
"Ayah, kok bilang seperti itu?" ucapku dengan mengerucutkan bibirku.
"Kan kenyataan sayang?" ucap ayah.
"Bagaimana Pak Rafli jika aku minta Lisa untuk jadi menantuku?" Tante Marta lagi dan lagi membahas perjodohan antara aku dan Hendrik. Aku dan Hendrik seketika membulatkan mata saat mendengar ucapan Tante Marta.
"Mama, apaan sih, bahas itu terus?" ucap Hendrik dengan sedikit kesal.
"Kamu juga sama seperti Lisa tidak mau menika-menikah. Apa masih menunggu Vivian yang berulang kali orang tua nya menolak lamaran kamu?" ucap Tante Marta dengan sedikit kecewa.
"Hen memiliki kekasih?" aku bertanya dalam hati.
"Ma, sudah bahas di rumah saja. Kita sedang makan jangan berdebat dulu," lerai Om Arif.
"Iya benar Mba Marta, cinta tak bisa di paksakan. Biarlah mereka berdua saling mengenal mba. Jangan buru buru," ucap ayah.
"Benar katamu, Raf. Mari makan, ini sungguh enak sekali masakannya. Hebat kamu, Raf," puji Om Arif dengan menepuk pundak ayah. Om Arif benar-benar menikmati menu spesial di restoran ayah. Kami menghabiskan makan siang dengan sedikit berbincang hangat.
Hendrik dari tadi selalu mencuri pandang padaku. Begitupun aku juga mencuri pandang pada Hendrik. Tak heran kami seperti itu, dulu kami saling mencintai. Tapi karena kesalahpahaman yang belum terungkap sampai sekarang menjadikan Hendrik membenciku. Cinta Hendrik sudah hilang, dia sudah tidak mencintaiku, yang ada dia membenciku. Berbeda denganku sampai detik ini aku masih mencintai Hendrik walaupun Hendrik membenciku sekali pun. Sebenarnya aku mau di jodohkan dengan Hendrik meskipun Hendrik membenciku. Berada di dekat Hendrik adalah kebahagiaan tersendiri buatku. Walau hanya memandangnya saja. Apalagi bisa hidup bersama.
(P.O.V Hendrik)
Bagaimana mungkin aku di jodohkan dengan Lisa? Ini sungguh menyakitkan. Aku tidak mau dijodohkan dengan wanita yang sudah pernah berbagi dengan pria lain. Aku masih ingat jelas Lisa du jemput pria itu lalu dia ..... Ah sialan aku mengingatnya lagi!
Masih sangat sakit jika mengingat semua itu. Aku tidak bisa menikah dengannya. Aku masih akan menunggu orang tua Vivian merestui hubunganku dengannya. Bagaimanapun hubunganku dengan Vivian sudah seperti layaknya suami istri. Namun, orang tua dia tak mau hubungan ini berlanjut.
"Aku tidak bisa seperti ini, Tuhan."
Aku sesekali memandangi wajah Lisa. Dia memang begitu cantik sekali. Dia tidak pernah berubah. Penampilannya masih sama sederhana seperti dulu waktu sekolah. Walaupun sekarang usia nya sudah 32 tahun.
"Lisa seandainya dulu aku tak melihat kamu dengan pria itu di sana aku masih mau menerima kamu untuk di jodohkan. Menikah dengan mu sama saja aku menikah dengan bekas orang lain."
Lisa terlihat memandangku dan saat aku balik memandangnya dia langsung menundukkan kepalanya.
°°°°°
"Hendrik, apa yang membuat kamu begitu membenciku hingga sekarang?"
Aku harus jelaskan kejadian dulu agar dia tahu sebenarnya siapa Pria yang dulu pernah dia tanyakan padaku. Aku sangat bahagia jika benar akan menikah denganmu, Hen. Walau aku tau kamu sangat membenciku karena masalah yang kamu belum tauhi kebenarannya. Setidaknya aku bisa hidup denganmu walaupun kamu mencintai perempuan lain.