Monalisa

Monalisa
Bab 20 - Kekasih Yang Perhatian



Monalisa


Siang ini aku sangat lelah sekali, pekerjaanku sangat menguras tenaga hari ini. Aku merasa lapar sekali, dan akhirnya aku putuskan untuk keluar mencari makan. Saat aku hendak keluar dari ruangan ku tiba tiba hp ku berbunyi. Aku lihat siapa yang menelfonku.


Aldi?


Aku kegirangan mendapat teelfon darinya. Aku menjawabnya.


{Hai Al, gimana kabarmu, sombong sekali berbulan-bulan tidak mengasih kaba}


{Cie ... Sudah jadi Nyonya sekaran? Nyonya Hendrik. Sayang, aku benar benar sibuk sekali. curang njh kamu? Tega sekali kau mendahuluiku.}


{Hmm, sebegitu sibuknya kah? Sampai lupa menelfon atau mengirim pesan padaku? Maaf Al, aku menikah karena Ayah yang minta, mau gak mau ya aku turuti saja. Kamu kapan menikah dengan Velicia?}


{Iya, iya ... Maaf cantik, aku benar-benar sibuk. Ini maksudmu kamu di jodohkan?}


{Iya, aku dijodohkan, Al. Kamu kapan nikah?}


{Mungkin tahun depan aku menikah dengan Velicia. Oh ya Lisa, bulan depan aku pulang. Aku sudah berjanji dengan ayahmu akan menemani ayahmu dan aku akan lama menetap di Indonesia.}


{Baiklah kalau begitu jadi ayah ada teman dan aku senang sekali bisa bertemu denganmu lama. Al, aku mau cari makan lapar sekaliz, sudah dulu ya? Nanti aku telfon lagi. Bye....}


{Oke sayang, jaga dirimu baikibaik. Bye ...}


Aku menutup telfonku dan aku keluar dari ruanganku.


Aku menemui indira terlebih dahulu untuk pamit keluar.


"Ra aku mau cari makan dulu ya kamu mau nitip?"


"Oke, tidak mba aku sudah makan bakso tadi."


"Ya sudah, aku keluar dulu Ra."


Aku keluar butik dan mencari taxi, sepertinya kalau makan soto daging siang siang gini segar sekali.


Sebuah taxi berhenti di depanku dan aku masuk ke dalam taxi lalu langsung menyuruh sopir taxi mengarah ke tempat soto daging langgananku.


Taxi melaju dengan cepat, hingga tak lama kemudian sudah sampai di tempat yang aku tuju. Aku keluar dari Taxi dan masuk kedalam lalu memesan soto yang aku inginkan.


Aku duduk sendiri sambil menunggu pesananku datang. Pelayan memberikan ku lemon tea yang aku pesan dan tak lama kemudian soto pesananku datang. Biasanya aku kesini dengan ayah. Namun ayah sekarang ada di luar Kota, jadi aku makan sendirian. Aku menikmati soto pesananku. Memang sangat lezat dan segar sekali.


Seorang pria menuju ke arah kasir, dia sepertinya memesan dua bungkus soto untuk di bawa pulang. Dan pria itu aku sangat mengenalnya. Dia memakai kemeja yang tadi pagi aku siapkan, dasi dan celananya juga. Ya, orang itu adalah Hendrik suami ku. Aku memanggil hendrik yang sedang duduk menunggu pesanannya.


"Hendrik." Aku memanggilnya.


"Lisa? edang apa di sini? Sendirian?"


"Sedang makan, iya sendiri mau dengan siapa lagi. Kamu beli soto dua porsi di bungkus untuk siapa Hen?


"Kok kamu tahu?"


"Tadi aku dengar saja waktu kamu berbicara dengan pelayan itu. Untuk vian?"


"Emm ... I--iya, Lis."


"Oh, senang ya punya kekasih yang perhatian sekali."


"Hmm ya seperti itu, aku duluan Lisa."


"Iya hati-hati."


Hendrik pergi menemui Vian lagi. Hen apa sedikit pun kamu tak merasakan rasa sakit ini? Mataku mulai mengeluarkan air mata. Aku langsung menyekanya agar tak terjatuh. Aku sudah selesai makan dan aku langsung membayar pesnaanku lalu aku keluar mencari taxi untuk ke butik lagi.