Monalisa

Monalisa
Bab 38



Lima bulan berlalu, hubungan Lisa dan Hendrik semakin membaik. Dan, Lisa di nyatakan positif hamil. Kandungannya sudah berusia 4 Minggu. Hendrik sangat bahagia begitupun orang tua Lisa dan Hendrik karena sebentar lagi mereka akan mendapatkan cucu. Hendrik semakin over protektif pada Lisa, apalagi kandungan Lisa sedikit lemah. Aldi sudah tak menetap di Jepang lagi, dia sudah resmi menikahi kekasihnya Velicia.


Hari ini adalah Hari pernikahan Vivian dan Eric, Lisa dan Hendrik terlihat sedang siap-siap untuk datang ke resepsi pernikahan Vivian dan Eric.


"Sudah siap sayang?" tanya Hendrik.


"Sudah, kamu? Apa sudah siap hatimu di tinggal kekasihmu menikah?" Lisa menggoda suaminya yang sedang merapihkan rambut Lisa.


"Jangan berkata seperti itu sayang," ujar Hendrik.


"Huuhh...."Lisa menghembuskan nafas dengan kasar.


"Kenapa?" tanya Hen.


"Tidak apa-apa," jawab Lisa.


"Jangan khawatir, aku sudah tidak mencintai Vian, Lisa." Hen memeluk istrinya.


"Ayo, Itu Aldi dan Velicia sudah menunggu kita." Hendrik mengajak istrinya keluar dari kamar.


Hendrik menggandeng tangan Lisa keluar kamar, Lisa terlihat sangat cantik sekali, dia menggunakan baju hamil yang cantik, walaupun perutnya belum kelihatan, tapi baju itu tetap cantik di pakai untuk ke pesta. Lisa mendesain nya sendiri dan di jahit oleh penjahit yang terbaik.


"Kamu cantik sayang, terlihat sexy sekali," ucap Hen lirih di telinga Lisa.


"Jangan mulai gombal, ini mau pergi sayang," ucap Lisa.


"Kalau tidak mau pergi kenapa?" tanya Hen dengan menggoda.


"Mungkin kita bisa melanjutkannya di kamar."


"Sudah pintar sekarang ya kamu."


"Kan kamu yang mengajariku, Hen."


Hendrik terkekeh mendengar ucapan istrinya. Lisa semakin hari terlihat semakin menggemaskan tingkah lakunya. Yang membuat Hendrik selalu ingin ada di dekatnya. Bukan Lisa yang selalu meminta Hen untuk selalu ada di sisinya. Tapi, Hen yang sering meminta Lisa menemani dia saat bekerja. Dia seakan tak mau jauh dari istri nya dan calon anaknya yang masih ada di dalam perut Lisa


Mereka berangkat ke resepsi pernikahan Vivian dan Eric. Aldi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia ingat, dia membawa banyak nyawa. Velicia juga sedang hamil, usia kandungannya malah lebih tua dari usia kandungan Lisa.


"Lisa, apa kamu sering ngidam, minta hal-hal yang tidak jelas dan konyol pada Hen?" tanya Aldi.


"Ehm,,,tidak. Paling aku seringnya minta di belikan rujak di dekat kantor Hen," jawabnya.


"Justru Hen lah yang suka manja, dia selalu ingin di temani ku saat bekerja. Aku sampai jarang sekali ke butik karena dia sering memintaku menemaninya di kantor. Iya kan sayang." jelas Lisa dan bertanya pada suaminya.


"Iya memang seperti itu, apa kamu ngidam Veli?" tanya Hen.


"Awal hamil iya, sering meminta di belikan ini itu. Dan, ujung-ujungnya tidak aku makan," jawab Velicia.


"Iya begitulah, ujung-ujungnya aku yang makan Hen," sahut Aldi dengan terkekeh.


Mereka masih mengobrol hingga sampai di rumah Vivian. Rumah Vivian di sulap menjadi indah dengan hiasan warna putih. Terlihat Vivian dan Eric bahagia dia atas pelaminan. Hen tak lepas menggandeng istrinya itu, Aldi dan Velicia berjalan mendahului Lisa dan Hendrik. Mereka menuju pelaminan untuk memberikan selamat pada kedua mempelai.


"Hai bro....selamat, akhirnya kalian menikah juga," ucap Aldi sambil menjabat tangan Eric dan memeluk Eric.


"Tentu lah, biar ada Aldi junior," ucap Aldi sambil tertawa.


"Selamat Eric, Vian. semoga bahagia," ucap Veli.


"Terima kasih Veli, Aldi. Silahkan menikmati sajian yang ada.


"Oke..."ucap Veli.


Hen juga memberikan selamat pada Eric dan Vian. Hen terlihat gugup melihat Vian. Dan, mata Vian berkaca-kaca melihat kedatangan Hen dan Lisa.


"Selamat ya, Ric. Semoga kalian bahagia dan lekas di beri momongan," ucap Hendrik sambil menjabat tangan Eric.


"Iya terima kasih Hen. Semoga Lisa juga lekas hamil menyusul Veli."ucap Eric


"Istriku sedang hamil Ric, usia kandungannya baru 4 bulan," jelas Hen.


"Wah, selamat Hen, kamu akan menjadi Ayah."


"Iya Ric. Syukurlah. Hai Vian ,selamat ya, semoga kamu selalu bahagia," ucap Hen.


"Iya Hen, selamat juga untuk kehamilan istrimu."


"Iya Vian, sama-sama. Selamat ya, semoga bahagia selalu."ucap Lisa.


Mereka turun dari pelaminan menyusul Aldi dan Veli yang sedang menikmati hidangan yang ada di acara resepsi pernikahan Eric dan Vian.


Hendrik tak mau melepaskan tangan Istrinya. Dia masih menggandeng istrinya. Vian yang melihatnya seperti merasa iri.


"Dulu waktu denganku tak pernah dia seperhatian itu. Bahkan dia tak pernah menyuapi aku. Dia begitu mencintai Lisa, ahhh...kenapa harus seperti ini rasanya," gumam Vian dalam hati.


Eric yang melihat istrinya seperti masih menyimpan rasa dengan Hen, dia hanya berdehem mengagetkan. lamunan istrinya.


"Ehem....kamu kenapa? kok wajahnya seperti itu?" tanya Eric


"Eemm...ti...tidak apa-apa."jawabnya gugup.


"Apa karena ada Hen?"tanya Eric


"Tidak," jawab Vian singkat.


"Aku tahu perasaanmu. Tapi, keadaan sudah beda Vian, dia sudah menjadi suami orang, dan status kita


juga sudah menikah," jelas Eric.


"Iya Ric. Maafkan aku."


"Aku tahu sayang perasaanmu bagaimana." Eric merangkul Vivian dan mengecup kening Vivian.


"Tuhan, terima kasih, Engkau telah menghadirkan sosok laki-laki yang baik dan menerimaku apa adanya seperti Eric," gumam Vian dalam hati.