
Aku keluar dari apartemenku dan langsung menuju tempat parkir untuk mengambil mobilku.
Aku masuk ke dalam mobil dan melajukannya untuk pulang. Aku menghubungi sekretarisku di kantor bahwa aku tidak kembali ke kantor karena tidak enak badan.
Tak beberapa lama kemudian aku sampai rumah. Aku parkirkan mobil ku di halaman rumah ku. Aku masuk ke dalam rumah, saat akan membuka pintu ternyata pintu masih terkunci dan Lisa pasti Belum pulang. Aku mengeluarkan kunci dari saku celana ku dan ku buka pintunya. Aku masuk kedalam rumah. Aku tutup kembali pintunya dan ku kunci kembali. Saat aku akan melangkahkan kaki masuk kedalam kamar terdengar bel berbunyi.
"Siapa yang datang.?" Aku berkata lirih dan aku langsung membukakan pintu.
Betapa kagetnya ternyata dia yang datang.
"Vian....! Kenapa kamu disini?"
"Keget sayang aku datang? Bilang mau ke kantor tapi pulang menemui Istri kamu?"
"Vian lebih baik kamu pulang sebelum Lisa pulang."
"Sayang ... kamu tega mengusirku?"
Mata Vian berkaca kaca, aku tak bisa memaksakan dia pulang. Dan aku tak bisa melihat dia menangis.
Aku tarik dia dalam pelukanku.
"Ayo masuklah..."
Dia memeluku erat dan tiba tiba dia mencium bibirku dengan penuh gairah. Bagaimana aku tak tergoda dengannya. Aku membawa dia ke kamarku dan aku lanjutkan aksiku dengan nya.
Sungguh dia sangat membuat gairahku naik dan melambung tinggi. Dia sangat pandai membuatku berkali-kali melakukan pelepasa hasrat ku.
"Hen...."
"Iya sayang....love you."
"Love you too Hen...ummmhhh.."
Dia selalu menyebut namaku dalam setiap desahannya. Aku semakin bersemangat menghajarnya dengan kenikmatan. Hingga kami berdua terkulai lemas. Aku dan Vian tertidur pulas sekali hingga sore hari.
Aku terbangun sudah hampir jam 6 aku tertidur dengan Vian. Aku lihat belum ada tanda tanda Lisa pulang. Aku masuk ke dalam kamar ku lagi dan aku membangunkan Vian.
♥Monalisa♥
Sudah petang aku baru menyesaikan pekerjaanku. Aku menutup butik ku dan segera aku kemasi pekerjaanku lalu aku pulang kerumah.
Aku menunggu taxi di depan butik ku. Akhirnya sebuah taxi berhenti di depanku. Aku masuk kedalam taxi.
Akhirnya aku sampai rumah dan terlihat mobil Hendrik sudah di halaman rumah.
"Hendrik sudah pulang. Aku belum memasak lagi. Pasti dia lelah seharian bekerja." Aku langsung masuk ke dalam rumah dan pintu rumah tidak terkunci.
Aku masuk ke dalam kamarku, aku langsung melepas semua pakaian kerjaku dan mengambil handuk lalu ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi aku mengambil bajuku di dalam lemari. Aku memakai mini dres dengan lengan pendek. Aku keluar dari kamarku dan akan menuju ke dapur. Saat akan ke dapur aku mendengar samar samar suara perempuan di kamar hendrik..
"Hen, apa kamu membawa Perempuan ke dalam rumah ini?"
Jantungku berdetak sangat kencang. Tubuhku lemas sekali dan aku mencoba mendekati kamar hendrik. Pintunya terbuka sedikit. Aku mendengar suara rintihan perempuan yang sedang menikmati sebuah permainan dengan laki laki.
"Hen...aku..aahh.."
"Lepaskan bersama sayang..aahhh."
Rasanya Sakit sekali hatiku dengan semua ini. aku terduduk di depan kamar Hendrik sambil manangis. Rasanya lemas sekali badan ini. Hingga aku tak sanggup berdiri.
"Inikah kamu sebenarnya Hen? jika kamu ingin seperti itu dengan Vian tolong jangan dirumah ini." Aku berkata lirih dalam hati.
Aku berusaha untuk berdiri walau sangat lemas sekali.
"Lisa, kamu harus kuat, kamu bukan wanita lemah, ingat itu! Buat hendrik mencintaimu lagi Lisa. Buah dari kesabaran pasti akan indah. Ayo Lisa bangun! Jangan jadi wanita Lemah!"
Aku bangun dan aku melanjutkan ke dapur untuk memasak makan malam. Aku masih terngiang dengan kejadian tadi.
"Anggap semua ini mimpi Lisa."
Aku berkata lirih sambil mengiris sayuran. Dan aku langsung memasak semua sayuran.
Setelah selesai aku menatanya di meja makan. Terlihat hendrik berjalan ke arahku. Namun dia sangat kaget sekali melihatku sudah dirumah dan menata makanan di meja.
"Hen, makan dulu. Panggil Vian sekalian."
Aku menyuruh hendrik makan malam dan aku sengaja menyuruh hendrik mengajak Vian sekalian.
"Vian? Dari mana kamu tahu dia di sini?"
"Aku sudah tau Hen,dan sudah mendengarnya kamu melakukan apa dengan nya. Sudah panggil saja dia. Kita makan malam bersama."
"Lisa, aku bisa jelaskan."
"Aku sudah tahu, tidak apa-apa hen Sudah panggil dia saja."
Hendrik terdiam sejenak, saat dia akan memanggil Vian ternyata Vian keluar dari kamar Hendrik.
"Sayang, lama sekali ambil air put ... tihnya? Sayang, kenapa ada Istrimu tidak bilang."
"Hai Vian, ayo makan malam dulu. Aku sudah memasak." Aku mengajak mereka makan malam. Walau hati ini sangat sakit sekali. Aku sebisa mungkin harus mengendalikan emosi ku dan jangan sampai menangis di depan Hendrik. Aku tahu diri, aku lah penyebab mereka berpisah. Seharusnya aku tak memaksakan untuk menikha dengan Hendrik.
"Ayo Vian kita makan dulu." Hendrik mengajak dia makan malam. Hendrik menarik kursi di depan ku dan Vian duduk di samping Hendrik.
"Hen, ini nasinya, kamu mau lauk apa?"
"Tumis jamurnya sama ayam kecap nya."
"Okey..." Aku mengambilkan Hendrik nasi dan lauknya.
"Ayo Vian makan lah. Jangan sungkan-sungkan."
Kami bertiga makan malam bersama dan sambil mengobrol.
"Oh ya Hen,Vian, sebelumnya aku minta maaf pada kalian. Emmmm kalau mau melakukannya lagi jangan di rumah ini. Kalian berdua punya apartemen kan? Bukan nya aku tidak boleh kalau kamu ke sini Vian. Tapi rumah ini milik ayahku dan papah mamahnya Hendrik. Kalau mereka kesini dan ada kamu apa kamu tak malu Vian? Berungtung aku yang mendengarnya, coba kalau papah,mamah atau ayahku? Bagaimana? Jika ke sini jadilah tamu yang baik Vian. Jangan seperti itu. Cukup kali ini saja. Kalau kalian mau melakukannya Lagi silahkan, tapi jangan dirumah ini. Ini bukan rumah ku atau rumah Hendrik. Ini milik orang tua kami." Aku berbicara panjang lebar dengan mereka. Mereka hanya terdiam. Sepertinya Hendrik sangat marah dengan ucapanku. Aku menghabiskan makananku di piring.
"Lisa...aku minta maaf"
"Iya Vian."
"Vian ayo aku antar kamu pulang setelah ini."
"Iya Hen".
Kami menyelesaikan makan malam nya. Setelah selesia aku mengemasi semua piring kotor dan gelas kotor, serta sisa lauk nya.
Aku ke dapur menaruh piring kotor dan gelas kotor di tempat cucian piring. Aku membuang sedikit sisa makanan tadi. Karen memang sisa sedikir jadi aku buang saja.
Aku mencuci piring dan gelas, tak teras air mataku mengalir deras sekali. Dadaku sesak sekali. Aku menangis sambil mencuci piring.
"Lisa, aku antar Vian dulu, ya?" ucap Hendrik dan aku mengangguk saja. "Lisa kamu menangis?"
"Tidak, sana antar Vian pulang." Ucapku serak tanpa menolehnya.
"Kamu menangis?"
"Tidak."
Hendrik mendekatiku. Dan dia menatap wajahku dari samping.
"Lisa....maafkan aku..."
Hendrik memeluk ku dari belakang.
"Lepaskan Hen." Hendrik semakin erat memeluku dan aku mencuci tanganku yang terkena sabun. Aku lepas paksa pelukan Hendrik.
"Maaf Hen jangan seperti ini."
"Lisa...maafkan aku."
"Iya aku memaafkanmu."
"Aku mau mengantar Vian pulang dulu, ya?"
"Iya. Hati-hati. Bawa kunci saja barangkali kamu mau menginap di apartemenmu itu."
"Apa kamu mengikutiku tadi siang?"
"Hmmm iya. Sudah sana antar Vian pulang. Dan tolong ingat kata-kataku tadi Hen. Aku tak mau mengecewakan papah dan mamahmu serta ayahku jika mereka tau sandiwara ini."
"Iya Lisa."
Hendrik pergi mengantar Vian. Dan aku kembali meneteskan air mataku. Setelah selesai aku masuk ke kamar ku. Dan aku masih saja menangis hingga aku tertidur dalam tangisanku.