Monalisa

Monalisa
Bab 25



♥Hendrik♥


Lisa terlihat sangat bahagia pagi ini bertemu Ayahnya, aku mengobrol bersama Ayah di ruang keluarga rumah Lisa. Suasana rumah Lisa pagi ini sangat hangat sekali.


"Hen,bagaimana Lisa, apa dia selalu menyusahkanmu?"


"Tidak yah"


"Ayah titip Lisa, tegurlah jika dia salah padamu nak."


"Iya yah, Lisa gadis baik, dia selalu memberikan yang terbaik untuk hendrik yah, terima kasih yah sudah memberikan Lisa untuk Hendrik."


"Iya hen."


Tak lama kemudian Lisa membawakan ku kopi dan teh untuk Ayah.


"Kalian seru sekali ngobrol nya. Pasti ayah ngomongin Lisa ya?"


"Ada deh...kepo ya yah...?"jawab ku.


"Ihh tuh kan...nih Hen kopinya,ini yah teh untuk ayah."


"Makasih sayang,ayah sangat merindukan teh buatanmu nak."


"Lisa juga merindukan ayah."


Lisa sangat manja sekali jika sedang bersama ayahnya, tapi jika saat bersamaku dia adalah perempuan yang sangat tegar sekali, perempuan yang benar benar mandiri. Aku beruntung sekali mempunyai istri seperti dia, namun aku, betapa bodohnya aku masih menyimpan perempuan lain dalam hidupku dan aku tak bisa melepaskan dia dalam hidupku.


"Maafkan aku Ayah....aku belum bisa seutuhnya mencintai Lisa dan menjaga Lisa." Ucap ku dalam hati.


"Hen kamu tidak ke kantor?" Ucap Lisa mengagetkan lamunanku.


"Sebentar lagi , apa kamu mau ke butik?"


"Iya nanti siangan saja, aku masih rindu suasana rumah Hen."


"Ya sudah lepaskan rindumu di rumah ini nak"


"Iya Ayah, Lisa pamit ke kamar Lisa dulu ya yah, Hen. Lanjutkan ceritanya kalian."


"Iya Lisa."


Aku melanjutkan mengobrol dengan Ayah sementara Lisa masuk ke dalam kamarnya.


♥Monalisa♥


Aku masuk ke dalam kamarku, walaupun baru beberapa hari aku tak di kamarku ini rasanya aku sangat merindukan sekali suasana di kamar ini. Aku membuka lemari ku, dan aku lihat sebuah kotak, aku mengambilnya dan ku buka kotak itu, iya itu kotak dimana aku menyimpan surat suratku dulu dengan Hendrik. Aku buka dan ku baca kembali surat dari dia. Betapa bahagianya dulu saat Hendrik masih mencintaiku.


"Hen, apakah kamu masih menyimpan cinta padaku walau hanya sedikit saja?" Ucapku dalam hati sambil menaruh kotak itu lagi dalam tas ku.


Kotak ini akan aku bawa kerumah saja.


Aku menghampirinya karena aku ingin berpamitan untuk pergi ke butik.


"Ayah...Hendrik...aku ke butik dulu ya? Bolehkan yah aku bawa mobil ku?"


"Boleh sayang, kamu hati hati ya?"


"Oke Ayah" aku berangkat ke butik dan berpamitan dengan ayah lalu mencium pipinya.


"Hen aku berangkat ya."


"Iya Lisa hati hati" jawab hendrik sambil melambaikan tangannya.


Aku mengambil mobilku di dalam garasi dan langsung melajukannya ke butik ku.


♥Hendrik♥


Lisa sudah berangkat ke butiknya, entah kenapa aku masih betah mengobrol dengan Ayah Rafli di rumah Lisa.


Aku yang dari mengobrol akhirnya terhenti obrolanku karena ada telfon masuk dalam handphone ku.


Papah menelfonku, tumben sekali papah menelfonku, aku kira Vian yang menelfonku, karena dari tadi pagi tak ada kabar dari dia. Tumben sekali biasanya dia selalu menelfonku pagi pagi sekali. Aku angkat telfon dari papahku.


{Hallo pah. Ada apa?}


{Kamu tidak ke kantor?}


{Mau ke kantor, tapi ini masih dirumah ayah Rafli, sebentar lagi pah, ada apa pah?}


{Ohh iya papah tunggu di kantor saja, salam buat Ayah Rafli.}


{Oke pah}.


Aku mengakhiri telfon dengan papahku. Akhirnya aku pamit pada ayah Rafli untuk ke kantor karena papah sudah menunggunya.


.


.


.


.


.


.


.


♥happy reading♥