
Keadaan Lisa kian membaik, dan hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumahnya.
Aldi sibuk mengemasi barang-barang bawaan, sedangkang Lisa, dia sedang merapihkan rambutnya dan setelah itu dia membantu menata barang bawaannya.
"Sudah Lisa kamu duduk saja, biarkan aku yang mengemasi nya."
"Paling menata ini saja Al. Kamu tak memberitahu Ayah kan aku di rawat di rumah sakit."
"Tidak Lisa, ayo sudah siap semua, coba teliti ada yang tertinggal tidak?"
"Emmm sudah semua kok Al."
"Ya sudah yuk kita pulang."
"Ayo."
Aldi dan Lisa keluar dari rumah sakit.
Lisa sudah terlihat seperti biasa, dia mencoba menerima semua nya dengan ikhlas hati.
Lisa dan Aldi sudah sampai dirumah Lisa.
Lisa masuk ke dalam kamar nya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan setelah itu dia mengganti bajunya.
Lisa keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke belakang, ia mengemasi pakaian kotor dari Rumah sakit, dia memasukannya kedalam mesin cuci untuk mencucinya.
"Lisa, kamu baru keluar dari rumah sakit, jangan terlalu lelah dulu sayang."tegur Aldi yang melihat Lisa sedang menaruh baju kotor di mesin cuci.
"Tidak apa-apa Al."
"Ya sudah kalau menurutmu tidak apa-apa, kamu mau makan apa Lisa? Aku akan memasakan untuk mu."
"Terserah kamu saja mau masak apa, aku kan tinggal makan saja." ucap Lisa sambil tersenyum.
"Hmm...ya sudah. Ingat jagan terlalu lelah Lisa."
"Iya Al, lagiyan dari kemarin aku tiduran terus, kan capek Al, butuh peregangan otot agar tidak kaku." jelas Lisa.
"Kamu dari dulu seperti itu Lisa tidak pernah berubah."
Lisa hanya mengembangkan senyumannya saja.
Lisa sudah selesai mencuci baju nya, dia menjemur pakaiannya di belakang rumah.
Sementara Aldi sedang menata makan siang di meja makan.
"Wah sepertinya enak nih masakanmu Al,"
"Iya dong,masakan Aldi gak pernah tidak enak."ucap nya sambil tersenyum.
"Ayo Lisa makan dulu, aku sudah ambilkan kamu nasi. Oh ya Lisa setelah ini aku akan bertemu ayah mu di restorannya."sambung Aldi.
"Terima kasih Al, sampaikan salamku buat ayah, aku sangat merindukannya."
"Iya pasti akan aku sampaikan. Makanlah yang banyak supaya cepat sehat Lisa."
"Iya Aldi, kamu cerewet sekali Al."
"Kalau gak cerewet dari kemarin kamu gak sembuh sembuh. Makanlah jangan banyak bicara."
Aldi dan Lisa makan siang bersama.
Lisa sudah tak begitu memikirkan suaminya yang belum juga kembali.
Dia tak mau menyakiti dirinya lagi,karena dia sadar masih banyak sekali tugas yang harus Lisa kerjakan. Dia desainer ternama, butiknya selalu jadi incaran para pejabat dan pengusaha, bahkan beberapa Artis juga.
"Kuatkan dirimu Lisa, jangan karena Hendrik pergi segalanya menjadi hancur, kamu wanita hebat, seberapa berat masalahmu pasti kamu bisa melewatinya." Ucap Lisa dalam hati sambil menyemangati dirinya.
Lisa dan Aldi sudah selesai makan siang, Lisa mengemasai piring dan gelas kotor lalu mencucinya sedangkan Aldi, dia langsung pamit dengan Lisa untuk menemui Om Rafli ayah Lisa.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Keesokan harinya, Lisa sudah memulai aktivitas seperti biasanya, dia sudah sibuk mengunjungi setiap butiknya. Dia sudah sedikit tidak memperdulikan masalah rumah tangganya.
Kepergian Hendrik membuat Lisa semakin tegar menjalani hidupnya.
"Hen, jika kamu masih mau mendengarkan alasanku pulanglah Hen, aku masih bisa menerima semua keburukanmu di masa lalu mu. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu, hingga aku menutup mata."lirih Lisa dalam hatinya sambil mencorat coret sketch book nya, dan terciptalah desain baju wanita yang sangat cantik.
Lisa memberikan desain bajunya pada penjahit andalannya untuk menjahitkan beberapa baju yang telah di desainnya.
"Indira, aku mau keluar sebentar menemui ayah, jika ada yang mencariku bilang saja aku kembali jam 2 siang." pamit Lisa pada Indira.
"Baik mba Lisa."
Lisa pergi meninggalkan butiknya untuk menemui ayahnya.
Di restoran Lisa menemui ayahnya, dia masuk ke dalam ruangan ayahnya.
"Ayah, sedang sibuk kah?"
"Sedikit, tumben sekali kamu datang, bagaimana kabarmu, apa kamu baik baik saja?"tanya ayah Lisa sambil membolak balik dokumen yang sedang beliau baca.
"Seperti yang ayah lihat, Lisa baik baik saja. Ayah, Lisa ingin ke Jepang."
"Ke Jepang? Untuk apa? Bagaimana suami mu nanti jika kamu di jepang?"
"Hanya 3 minggu saja yah, ada kontes busana disana, Lisa ingin mengikutinya, itu kalau ayah mengizinkannya."jelas Lisa.
"Kamu sudah bilang suami mu?"
"Sudah, dia menyetujuinya." Lisa terpaksa berbohong .
"Ya sudah kalau dia setuju ayah bisa apa. Lalu kapan kamu kesana?"
"Masih lama yah satu bulan lagi." Ucap Lisa sambil tersenyum.
"Lisa....Lisa...itu masih lama sayang."
"Kan biar tidak mendadak bilang dengan ayah, pumpung Lisa ada waktu dan belum sibuk yah. Ayah sudah makan siang?"
"Sudah, kamu sudah?"
"Belum, Lisa belum lapar yah. Ayah, Lisa kembali ke butik ya?"
"Kamu kesini hanya mau bilang itu?
"Iya yah, sekalian Lisa memastikan Ayah baik-baik saja atau tidak, ya sudah yah, Lisa pamit dulu." Lisa mencium tangan dan pipi ayahnya.
"Kamu hati-hati nak."
"Iya ayah."
Lisa meninggalkan restoran ayahnya, dia kembali ke butiknya. Sebelum kembali ke butiknya dia membeli makanan favoritnya untuk makan siang.
"Lisa." Sapa seorang wanita di sebuah kedai Soto.
"Vian, kamu dengan siapa?"tanya Lisa.
"Dengan Eric, bagaimana ada perkembangan dari Hendrik?"
"Aku gak tau Vian."
"Aku akan mencoba mencari informasi lagi Lisa."
"Terima kasih Vian, aku duluan ya Vian, aku sudah di tunggu orang di butik."
"Iya Lisa hati-hati."
Lisa meninggalkan kedai soto favoritnya, Vian memang berusaha membantu Lisa selama ini, namun Vian dan Eric belum bisa menemukan dimana keberadaan Hendrik.
Vian kembali duduk di depan Eric, dia menikmati makanannya kembali.
"Vian, apa kamu sudah menghubungi teman Hendrik atau siapa."
"Belum Ric."
"Kasihan Lisa, aku tau di balik senyumnya hati dia sangat terluka sayang."ucap Eric.
"Iya Ric, aku akan mencoba mencari informasi tentang Hendrik."
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sudah hampir satu bulan Hendrik tidak ada kabar, keluarga Hendrik sudah mulai curiga dengan Lisa yang seakan akan menutupi masalahnya tersebut.
Pagi hari di rumah papah Arif, mereka sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Mah, aku curiga dengan Lisa, dia sepertinya menyembunyikan sesuatu."
"Maksud papah?"
"Hendrik sudah hampir satu bulan tidak pernah ke kantor, setiap aku hubungi telfonnya dia tak pernah menjawab, dan saat papah hubungi Lisa, dia menjawab sudah pergi ke kantor, aneh kan?" jelas papah Arif.
"Pah,apa kita sebaiknya bicarakan ini dengan pak Rafli juga."ucap mamah Marta.
"Baiklah, papah akan menghubungi Rafli, kita bertemu di rumah Lisa nanti malam, pasti dia di rumah."
"Mamah ikut pah."
"Lyra juga pah."
Mereka merencanakan kerumah Lisa nanti malam untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Lisa dan Hendrik.
Malam hari di rumah Lisa, dia sedang berada di kamarnya, seperti biasa dia menuliskan selirih isi hatinya di dalam buku diary.
Aldi terlihat sedang duduk santai di teras rumah Lisa. Dia menikmati secangkir kopi dan rokoknya.
Dua mobil terlihat memasuki halaman rumah Lisa, iya itu mobil milik ayah Rafli dan papah Arif.
Mereka memarkirkan mobilnya di halaman rumah Lisa yang luas, mereka semua turun dan berjalan menghampiri Aldi yang sedang duduk di teras rumah
"Om Rafli dan Om Arif, mereka kesini mau apa? Ada tante Marta juga dan Lyra."gumam Aldi dalam hati. Dia terlihat kebingungan, dan merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
"Malam Om Rafli, Om Arif, Tante Marta." sapa Aldi
"Malam Aldi, kami semua ingin bertemu Lisa, apakah dia di rumah?"tanya Om Arif.
"Iya dia di dalam kamarnya, silahkan masuk Om, Tante, Lyra dan Doni."ucap Aldi.
Mereka masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke ruang tengah. Aldi memanggil Lisa yang sedang menulis diary nya di dalam kamar.
"Lisa, ada ayahmu sama papah Arif juga Tante Marta dan Lyra serta suaminya. Keluarlah sebentar." panggil Aldi.
"Ada apa mereka kesini Al?" tanya Lisa.
"Aku tak tau Lisa."jawabnya.
Lisa keluar dari kamarnya tanpa menutup pintun kamarnya. Aldi melihat buku diary Lisa yang masih terbuka, Aldi masuk ke dalam kamar Lisa, dia membaca apa yang Lisa tulis, dan Aldi membaca semua apa yang Lisa tulis dalam buku diary Lisa.
"Ya Tuhan, Lisa begitu menyedihkan hidupmu, tapi kamu masih memperlihatkan dirimu baik baik saja di depan orang."ucap Aldi lirih.
Dia membawa buku diary Lisa ke kamar nya dengan tujuan jika suatu saat bertemu Hendrik dia akan memberikannya pada Hendrik agar dia tau bagaimana Lisa sebenarnya.
Aldi keluar dari kamarnya setelah menyimpan buku diary Lisa dalam tas kerjanya.
Dia menuju ruang tengah menemui keluarga Lisa dan Hendrik.
"Baik kita sudah berkumpul semua."ucap ayah Rafli.
"Lisa katakan pada kami, ada yang kamu sembunyikan?" Papah Arif bertanya pada Lisa dan menatap Lisa tajam.
"Katakan sejujurnya Lisa."sambung papah Arif.
Air mata Lisa keluar tanpa permisi, Lisa menunduk dan menangis.
"Lisa, sudah saat nya mereka semua tau, jangan di pendam masalahmu sendiri. Ayo Lisa katakan."tutur Aldi pada Lisa.
"Sejak kapan Lisa kamu berani berbohong pada Ayah, kamu selama ini tidak baik baik sajakan?" ucap ayah Rafli.
"Sayang jelaskan pada kami apa yang terjadi padamu dan Hendrik."ucap mamah Marta.
"Baiklah Lisa jelaskan, Hendrik, dia pergi sudah hampir satu bulan, ini adalah kesalahfahaman kita dari dulu, sebenarnya waktu kami SMA, kami sudah menjalin hubungan, tapi karena........."tangis Lisa pecah, Lisa tidak kuat menjelaskan lagi.
"Karena aku, iya semua karena aku." Aldi menyambung penjelasan Lisa.
"Maksud kamu Al?"tanya ayah Rafli dengan penasaran.
"Om ingat waktu tante di rumah sakit, kita menyewa hotel kan di sekitat rumah sakit tempat tante dirawat."ucap Aldi.
"Iya, dulu sewaktu ibunya Lisa sakit sakitan kami menyewa hotel dekat rumah sakit karena biar dekat menjenguknya dan menemani ibunya Lisa."jelas ayah Rafli.
"Iya itu masalahnya om, dulu om sibuk sampai tidak bisa menjemput Lisa sepulang sekolah, waktu itu om selalu menyuruh aku menjemput Lisa dan mengantarnya Ke hotel, pada saat itu entah Hendrik mengikuti kami aku tak tau, dan hingga sekarang Hendrik membenci Lisa hanya karena dia melihat Lisa sering ke hotel sepulang sekolah bersama pria lain yaitu aku om. Dia menganggap Lisa sudah tidak suci lagi om, yang lebih menyakitkan lagi untuk Lisa, Hendrik masih berhubungan dengan Vian hingga membawanya kerumah ini om. Dan satu lagi, selama menikah Lisa dan Hendrik tidur terpisah dan Hendrik belum pernah menyentuhnya." Aldi menjelaskan semua pada keluarga Lisa dan Hendrik.
"Benarkah seperti itu sayang?"tanya mamah Marta dengan memeluk Lisa.
"Iya mah,maaf Lisa berbohong pada kalian."ucap Lisa dalam isak tangisnya.
"Ayah maafkan Lisa yah." Lisa mengangis sambil berlutut di hadapan ayahnya.
"Sayang sudah nak,ini juga salah kami yang sudah menjodohkan kalian."ucap Ayah Rafli.
"Ini salah Lisa, Lisa yang menerima perjodohan ini, karena Lisa sangat mencintai Hendrik."jelas Lisa.
"Lalu kenapa kak Hen bisa pergi dari rumah?"tanya Lyra.
"Waktu itu, dia bertengkar dengan Vian, karena Vian sudah di jodohkan orang tuanya, dan Vian menerimanya, karena dia sadar tak mungkin meneruskan hubungannya dengan Hendrik karena Hendrik sudah menikah, Hendrik tidak menerima keputusan Vian, disisi lain saat itu aku berada di sini dengan Lisa, mungkin dia semakin murka melihat istrinya denganku, saat kami akan menjelaskan dia pergi begitu saja dan hingga saat ini dia belum kembali. Bahkan Vian dan tunangannya sudah berusaha mencarinya."jelas Aldi.
"Okey, aku tau tempat dimana kak Hen jika dia sedang ada masalah." Ucap Lyra.
"Dimana sayang?"tanya Mamah Marta.
"Di rumah eyang yang di daerah X mah. Kak Hen selalu kesitu jika dia sedang ada masalah, dan kak Hen hanya memberitahu pada ku saja, jika dia memang sedang ada masalah dia kesana."jelas Lyra.
"Besok kita kesana, aku akan memberi pelajaran untuk anak yang sudah menyianyiakan wanita."ucap papah Arif dengan marah.
"Rafli, maafkan perbuatan anak kami Raf, Lisa maafkan anak om. Jika kamu ingin meninggalkan Hendrik, tinggalkan nak, kami tidak memaksamu untuk tetap berada di sampingnya."sambung Papah Arif.
"Pah, sedikitpun Lisa tak pernah berfikir untuk meninggalkan Hen, karena dia adalah satu-satunya pria yang Lisa cintai."jelas Lisa.
"Itu hak mu Lisa, tapi kamu berhak bahagia nak."ucap mamah Marta.
"Bahagiaku melihat Hendrik ada di dekatku mah. Walau dia tak mencintaiku seumur hidupnya. Jangan pisahkan Lisa dengan Hen, Lisa mohon, carilah Hen, kembalika dia disisiku Mah."ucap Lisa dalam isak tangisnya.
"Lisa, kamu yakin akan melanjutkan pernikahanmu yang tak sempurna ini?"tanya Ayah Lisa.
"Yakin yah, do'akan saja agar Hen bisa berubah pah."ucap nya.
"Do'a papah selalu untukmu nak."
"Ya sudah kita pamit, besok pagi pagi kita mencari Hen."ucap papah Arif.
"Pah, Lisa ikut ya?"pinta Lisa.
"Iya, besok kita kumpul di sini saja pagi pagi."
Keluarga Lisa dan Hendrik pamit pulang dari rumah Lisa.
Lisa kembali ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia tak menyadari kalau Aldi mengambil buku diary nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading♥