
Hari sudah malam, keluarga Hendrik dan Lisa bersiap-siap untuk kembali pulang.
"Kak Lisa, bisa kita keluar, ke teras depan.aku mau bicara sebentar denganmu." Lyra memanggil Lisa dan mengajaknya ke teras rumah.
"Iya Lyra." Lisa mengikuti Lyra ke teras depan.
"Ada apa Lyra, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Lisa.
Lyra sejenak terdiam, Lyra sudah tidak tahan dengan sikap Lisa yag terlalu mudah memaafkan suaminya. Lyra sangat marah karena Lisa terlalu lemah.
"Huh..." Lyra membuang napas dengan kasar.
"Lisa apa sedikit pun kamu tak marah dengan kakakku? Lisa, pikirkan kembali, berapa banyak Kak Hen melukai hatimu? Lisa, aku tak ingin kamu terus-terusan di sakiti Kak Hen. Biarlah Kak Hen sendiri. Aku hanya tidak mau kamu sakit hati lagi Lisa."
"Kamu mengajakku ke sini hanya untuk membicarakan ini Lyra?" tanya Lisa.
"Iya, apa kamu benar-benar tak mau pisah dari Kak Hen?" tanya Lyra.
"Aku akan tetap berada di sampingnya, Lyra, seburuk apapun perlakuan kakakmu dengan ku, dia tetap suamiku," jawab Lisa.
"Benar kata Lyra, untuk apa kamu bertahan dengan Hendrik." Ucap Aldi yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
"Al, apa kamu ingin aku pisah dengan Hen?" tanya Lisa.
"Turuti kata hatimu, jika kamu percaya Hen akan berubah, tetaplah di sisi Hen. Dan, jika dia masih terus menyakitimu, pergilah dan tinggalkan suamimu. Kamu berhak bahagia, Lisa," jawab Aldi.
Lisa diberi masukan dari Lyra dan Aldi. Keputusan Lisa masih sama, yaitu tetap berada di samping Hendrik suaminya. Saat mereka sedang membicarakan semua itu, ternyata tanpa di ketahui oleh mereka Hendrik ada di belakangnya dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Setelah mendengarkan apa yang mereka bicarakan Hendrik pergi ke kamarnya lagi.
HENDRIK P.O.V
Aku yang salah, iya aku salah, aku sangat menyakiti Lisa. Bahkan, adik kandungku sendiri menyuruh Lisa untuk pergi meninggalkanku. Tapi, dia bersih keras tak mau meninggalkanku. Aku tau dia sangat mencintaiku, bahkan Lisa tak pernah memiliki kekasih lagi setelah aku pergi meninggalkannya.
Hendrik .... betapa bodohnya kamu! Perempuan sebaik Lisa kamu sia-siakan. Dan, Lisa masih sudi menerimu sebagai suaminya walaupun kamu sudah sering menyakitinya. Aku janji, aku akan menjaganya, tak akan aku sakiti hatinya lagi. Aku akan mencoba mencintainya lagi seperti dulu.
Lisa masuk ke dalam kamarku, memang aku tak mengunci kamarku.
"Hen?" sapa Lisa padaku.
"Iya, ada apa Lisa?" tanyaku.
"Papah, mamah, ayah, Lyra dan suaminya, juga Aldi mau pamit pulang." Ucap Lisa. "Ayo keluar, mereka mau pamitan," ajaknya.
"Baik, lalu apa kamu akan ikut pulang juga?" tanya ku.
"Kalau kamu mengizinkan, aku akan menemanimu di sini. Nanti aku suruh Mba Nur buat menyiapkan kamar untukku," jawab Lisa.
"Iya kamu boleh tinggal di sini. Banyak sekali yang ingin aku bicarakan juga dengan kamu Lisa."
"Iya Hen, nanti aku suruh Aldi membawakan beberapa bajuku ke sini."
"Tidak usah, nanti aku antar kamu beli baju," ucapku.
"Baiklah."
Lisa dan aku keluar dari kamar menemui keluargaku dan keluarga Lisa yang akan berpamitan untuk pulang.
Mereka berpamitan untuk pulang. Dan, hanya Lisa yang masih di sini.
Semuanya sudah pulang, tinggal aku dan Lisa yang ada di rumah. Mba Nur juga sudah pulang ke rumahnya. Memang dia bekerja pada saat pagi hingga sore.
Lisa duduk di ruang tengah dan aku ke kamar mengambil dompetku dan kunci mobil. Aku mengajak dia untuk membeli beberapa stel baju.
"Ayo Lisa," ajak ku.
"Mau kemana?" tanya Lisa.
"Apa kamu mau pakai baju itu saja untuk beberapa hari?" jawabku.
"Ayo keburu toko baju tutup Lisa," ajaku kembali.
"Oke, aku ambil dompetku dulu."
"Sudah tidak usah ayo kita berangkat."
Aku menarik tangan Lisa, kami keluar mencari baju untuk Lisa dan membeli beberapa makanan ringan.
******
Di toko baju, Lisa masih memilih baju untuk dirinya. Hendrik juga ikut memilihkannya.
"Kamu suka?" tanya Hendrik.
"Iya sepertinya bagus, ini juga ukuranku bajunya. Oke aku ambil ini," jawab Lisa.
Setelah selesai membeli beberapa baju mereka membawanya ke kasir. Hendrik membayarnya dan setelah itu mereka pergi ke mini market untuk membeli beberapa cemilan.
Mereka memilih beberapa cemilan. Lisa mengambil coklat kesukaannya.
"Masih suka makan coklat ini?" anya Hendrik.
"Kamu kok tahu?" jawab Lisa.
"Aku dulu sering melihat gadis di taman sekolahan menikmati coklat ini," ucap Hendrik.
Lisa hanya tersenyum saja. Dia tak menyangka Hendrik masih ingat kesukaan dirinya.
"Kenapa tersenyum?" tanya Hendrik.
"Tidak apa-apa. Kamu sudah selesai mengambil cemilannya? Kalau sudah yuk pulang sudah malam. Aku sudah mengantuk sekali," ucap Lisa.
"Oke, aku bayar ini dulu. Tidak ada yang ingin kamu beli lagi?" tanya Hendrik.
"Sudah cukup," jawab Lisa.
Hendrik membayar belanjaannya, setelah itu mereka langsung pulang kerumah.
Mereka sudah sampai di rumah. Lisa langsung keluar dari mobil Hendrik dan masuk ke dalam rumah. Hendrik membawa belanjaan yang tadi di belinya di mini market. Lisa melihat Hen yang kesusahan membawanya dan akhrinya Lisa membantu membawakan ke dalam.
"Hen, bajuku mana, aku mau ganti baju tidur yang baru aku beli."
"Ini Lisa. Tapi kan ini belum di cuci."
"Biarlah ini darurat, masa iya aku tidur pakai baju ini. Udah lengket sekali Hen."
"Oh ya sudah sana ganti bajumu dulu aku mau menata ini di kulkas."
Lisa masuk ke dalam kamar yang tadi di siapkan Mba Nur untuknya.
Setelah berganti baju Lisa kembali keluar dan mengambil coklat di kulkas yang tadi dia beli.
Lisa duduk di sofa depan TV sambil menikmati coklat. Hendrik memandangi Lisa dari kejauhan.
"Lucu sekali dia, Lisa, kamu tak pernah berubah dari dulu. Apa aku bisa mencintaimu lagi Lisa. Apa kamu sudi menerimaku lag" lirih Hendrik dalam hati.
Hendrik mendekati Lisa yang masih menikmatai cokelat.
"Enak coklatnya?" tanya Hendrik.
"Iya, kamu mau?"
"Tidak buat kamu saja. Habis ini tidurlah sudah malam, katanya tadi mengantuk malah makan coklat."
"Iya sebentar lagi aku tidur. Sana kamu tidur kalau sudah ngantuk."
"Iya aku ke kamar dulu."
"Oke."
Lisa menghabiskan coklatnya dan setelah itu dia juga masuk ke dalam kamarnya. Lisa sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tiba-tiba semua padam.
"Ayah! Lisa takut, Yah!" Lisa teriak karena dia paling takut sekali jika mati lampu.
Hendrik yang sedang mencari Lilin di lemari dekat kamar Lisa mendengar Lisa menjerit ketakutan. Dia langsung masuk ke kamar Lisa, beruntungnya kamar Lisa tidak di kunci.
"Ayah, Lisa takut, takut sekali," terdengar isak tangis Lisa.
"Lisa, ini aku Hen, kamu takut? Aku temani kamu di sini. Sebentar aku cari lilin."ucap Hendrik.
"Iya, aku akan menemanimu di sini." Hendrik duduk di samping Lisa.
Lisa masih terisak, dia sangat takut sekali. Dia menggenggam erat tangan Hendrik. Hanya ada cahaya flash ligh dari ponsel Hendrik yang memberikan sedikit cahaya.
"Lisa, kamu masih takut?" tanya Hendrik. Lisa hanya mengangguk saja.
"Aku ingin di peluk ayah," ucap Lisa dalam isak tangisnya.
"Mendekatlah biarkan aku memelukmu," ucap Hendrik sambil menarik tubuh Lisa ke pelukannya.
Lisa berhenti terisak, dia sekarang lebih tenang dipelukan Hendrik dan dia tertidur dipelukan Hendrik.
"Sepertinya dia benar-benar takut akan gelap. Aku lihat wajah pucatnya tadi saat pertama kali aku masuk ke kamarnya," gumam Hendrik dalam hati.
Hendrik yang mengantuk akhirnya tidur juga di samping Lisa dengan memeluknya. Mereka tidur hingga pagi datang.
Burung-burung berkicau menandakan pagi datang, sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela di kamar Lisa. Hendrik terbangun karena cahaya matahari tepat mengenai matanya. Dia mengerjap berulang kali. Tanganya terasa sangat pegal sekali, dia baru menyadari kalau dia tidur dengan memeluk Lisa. Lisa masih tertidur lelap sekali di pelukan Hendrik. Hen menyibakan rambut Lisa yang menutupi wajahnya.
"Lisa, wajahmu tak pernah berubah, masih sama seperti dulu sejak pertama aku melihatmu," gumam Hendrik dalam hati. Hendrik mencium kening Lisa dan mencoba melepaskan pelukannya pelan-pelan. Hendrik menatap wajah Lisa dalam-dalam.
"Maafkan aku Lisa, aku janji akan selalu menjagamu," lirih Hendrik.
Hendrik beranjak pergi dari tempat tidur Lisa.
"Hen, apa kamu semalam tidur di sini?" tanya Lisa yang membuat Hendrik menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya mengahadap Lisa.
"Iya, semalam ada seorang perempuan yang takut gelap. Dan, aku harus menemaninya karena dia terus menangis," jelas Hendrik yang membuat Lisa tersenyum.
"Maafkan aku Hen, sudah merepotkanmu. Terima kasih," ucap Lisa.
"Itu sudah tugasku menjagamu Lisa. Aku kembali ke kamarku dulu ya."
"Iya Hen."
Lisa turun dari tempat tidurnya, dia segera mandi membersihkan tubuhnya. Hendrik yang masih terdiam di kamarnya dia terus berfikir kejadian semalam. Dia merasa begitu nyaman tidur memeluk Lisa.
"Kenapa aku merasa nyaman sekali tidur memeluk Lisa, kenapa berbeda sekali rasanya dengan Vivian dulu. Ah kenapa aku memikirkan Vian lagi. Aku sudah beristri, aku harus bisa melupakannya, dia juga mau menikah dengan pria lain. Sekarang saatnya aku membahagiakan Lisa," gumam Hendrik dalam hati.
Hendrik dan Lisa keluar dari kamar masing-masing, mereka menuju meja makan untuk sarapan. Mba Nur pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah Eyang nya Hendrik seperti biasa untuk menyiapkan sarapan pagi dan membersihkan rumah.
"Hen ini nasinya." Lisa mengambilkan nasi untuk Hendrik.
"Iya Lisa terima kasih. Oh iya Lisa, aku mau mengajakmu ke suatu tempat apa kamu mau?"
"Kemana, Hen?" tanya Lisa.
"Nanti kamu tau, mau tidak?"
"Baiklah."
Hendrik dan Lisa sarapan pagi, setelah itu mereka pergi ke suatu tempat yang tadi Hendrik mengajaknya. Lisa masuk ke dalam mobil Hendrik. Hendrik mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Hen ini mau kemana?"
"Sudah diam saja, nanti juga sampai."
"Oke, Baiklah."
Hendrik akan mengajak Lisa ke sebuah taman bunga yang ada di daerah pegunungan. Pemandangan sekitar di perjalanan sangat menyejukan mata. Pepohonan yang rindang dan udara yang segar membuat kenyamanan tersendiri untuk Lisa. Akhirnya setelah beberapa jam perjalanan mereka sampai di tempat tujuan.
"Ayo turun Lisa," ajak Hendrik.
Lisa dan Hendrik turun, mereka masuk ke dalam taman bunga.
"Hen, indah sekali pemandangannya," ucap Lisa dengan senyum bahagia mengembang di wajah cantiknya.
"Kamu suka tempatnya?" tanya Hendrik.
"Iya, suka sekali. Ini sangat indah dan memanjakan mata. Yuk kesana." Lisa menarik tangan Hendrik menuju ketengah-tengah taman bunga. Mereka berfoto bersama di antara warna-warni bunga.
"Ayo duduk di sana, aku lelah sekali Lisa, "ajak Hendrik.
"Yuk, aku juga lelah Hen."
Mereka duduk di bangku yang berada di tengah-tengah bunga yang membentuk tanda Cinta.
"Lisa, apa aku masih mendapat kesempatan untuk berada di sampingmu hingga akhir hidupku?" tanya Hendrik yang begitu mengejutkan untuk Lisa.
"Kenapa bertanya seperti itu? Kamu suamiku, tapi jika kamu belum siap untuk mencintaiku lagi aku tak akan memaksamu, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu Hen," jawab Lisa.
"Kamu sudah menjadi istri yang baik buat aku Lisa. Hanya aku saja yang tidak bisa menjadi suami terbaik untuk mu. Maafkan aku."
"Sudah jangan bahas itu, kita jalani saja ke depannya, Hen. Yang lalu biarlah berlalu, kita buka lembaran baru lagi."
"Iya Lisa." Hendrik mengusap rambut Lisa dan merapihkannya karena terkena angin.
"Hen, gerimis ayo kita pulang saja."
"Iya Lisa ayo kita pulang."
Mereka akhirnya pulang dari taman bunga. Sebelum sampai rumah Hendrik memberhentikan mobilnya di mini market.
"Lisa aku ke sana sebentar, kamu di dalam mobil saja ya, ini hujan lebat, aku akan beli minum dulu sama cemilan, kamu mau minum apa?" ucap Hendrik.
"Terserah kamu saja, Hen," jawab Lisa.
"Oke tunggu aku di sini." Hendrik keluar dari mobil dan berlari ke mini market.
Lisa yang menunggu Hendrik membeli minuman dia merasa sangat ngantuk, akhirnya dia memejamkan matanya.
Hendrik sudah selesai membeli minuman, dia melihat ada toko bunga di samping mini market tersebut, dia masuk ke toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar merah untuk istrinya.Hendrik menuliskan sebuah puisi untuk Lisa.
Tadi aku melihat dedaun berayun.
Dendangkan kidung kehidupan.
Seolah tiada aib di antara bimbang.
Dan bumi benar-benar maha luas.
Seratus menit sudah.
Napasku antara mega jeladri.
Kini bumi jadi mungil penuh daki.
Gelap hampir menghimpit seluruh dosaku.
Seluruh raga tertopang jiwa penuh noda.
Cuma engkau yang menentukan ke mana aku akan binasa.
Maafkan aku Lisa. Ajarai aku untuk mencintaimu.
Hendrik selesai membeli minuman dan bunga. Dia kembali masuk kedalam mobil dan melihat Lisa tertidur. Dia mengusap lembut pipi Lisa, hingga Lisa mengerjapkan matanya saat Hendrik mengusa pipinga.
"Lisa, kamu lelah?" tanya Hendrik.
"Aku hanya mengantuk saja, Hen," jawabnya.
"Lisa ini untukmu." Hendrik memberikan buket mawar merah pada Lisa.
"Untuk ku?" tanya Lisa
"Iya untukmu," jawabnya
Senyuman Lisa mengembang di sudut bibirnya. Dia membaca puisi yang di tuliskan Hendrik pada kartu ucapan. Lisa tersenyum bahagia sekali.
"Puisimu bagus."
"Ya, seperti itu, entah kenapa aku ingin menuliskan puisi itu untukmu."
"Terima kasih Hen."