Monalisa

Monalisa
Bab 18 - Kebaikan Lisa



Monalisa POV


Aku bangun pagi pagi sekali. Aku mencuci bajuku dan baju suamiku. Aku putar mesin cuciku. Dan setelah itu aku memasak untuk sarapan.


Setelah selesai semua pekerjaanku aku berjalan menuju kamar Hendrik, memanggilnya untuk sarapan. aku ketuk ketuk pintunya tapi tak ada sahutan sedikitpun.


Aku buka pintunya dan ternyata Hendrik tak ada. Aku membuka pintu kamar mandi dan ternyata dia tak ada juga di kamar mandi.


"Hen, apa kamu tidakk pulang semalam? Di mana kamu? Ah, odoh kamu Lisa! Mau di mana lagi kalau tidak sama Vivian?" Lirihku sambil keluar dari kamar Hendrik.


Aku menata masakan ku di meja makan. Dan terdengar suara pintu depan terbuka. Aku tahu pasti itu Hendrik. Ya benar itu dia, Hendrik masuk ke dalam dan dia melihatku yang sedang menata sarapan di meja makan. Aku sapa dia dengan senyumam.


"Sudah sarapan?" tanyaku


"Belum," jawabnya.


"Ya sudah sarapan dulu, Hen. Aku ambilkan, ya?"


Dia mendekatiku di meja makan. Hendrik menarik kursinya dan duduk di depanku. Aku mengambilkan nasi dan lauknya.


"Hari ini kamu ke kantor, kan?" tanyaku.


"Iya, Aku ke kantor hari ini," jawabnya.


"Sepertinya hari ini aku juga ke butik. Seperti biasa nanti kamu bawa kunci sendiri, ya? Barangkali aku lama di butik." Ucapku.


"Iya nanti aku bawa kunci lagi." Jawabnya dengan suara datar.


Aku lihat hendrik seperti orang bingung. Dia seperti menyimpan beban berat sekali. Aku tahu mungkin dia sangat merasa bersalah denganku.


Setelah selesai sarapan aku menata kembali sisa masakan dan menaruhnya di lemari makan. Lalu akyu bawa piring bekas dan gelas bekas ke dapur, dan aku mencucinya sekalian.


Setelah selesai aku mandi dan bersiap siap untuk pergi ke butik.


Hendrik POV


Sebenarnya aku tak tega melihatnya walaupun aku sangat membencinya.


Lisa, kenapa kamu sesabar ini? Apa kamu akan bertahan seterusnya jika aku masih bersama Vian? Ahh masa bodoh! Kan memang seperti itu awal mula perjanjian sebelum menikah? Biarkan saja, dia juga sudah tidur dengan laki laki itu pastinya!


Aku masuk ke dalam rumah, dan ku lihat Lisa keluar dari kamarnya. Sepertinya dia sudah mau berangkat ke butik. Aku lihat dia sungguh cantik sekali, tapi mata dia terlihat sendu sekali. Aku tau dia habis menangis. Pasti menangis karena aku.


"Hen, aku berangkat, ya?" pamit Lisa.


"Iya, hati-hati."


Dia keluar rumah dan langsung menaiki taxi yang mungkin sudah dia pesan sebelumnya. Aku masuk ke kamarku. Aku terkejut meliahat satu stel pakaian kantorku di tempat tidur. Lisa menyiapkan baju kerjaku. Dia mengambil kemeja dan celana serta dasi. Lalu jas ku dia taruh di gantungan baju.


Lisa, baik sekali kamu. Walau aku memperlakukan kamu seperti ini.


Aku melihat baju yang di ambilkan Lisa. Dia sangat pandai memadukan kemeja dan dasiku. Aku ke kamar mandi untuk mandi dan setelah selesai mandi aku bersiap siap ke kantor.


Aku ambil tas kerjaku dan lalu keluar rumah dan mengunci pintu rumah. Aku masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilku ke kantor.


Monalisa POV


Aku tidak menyangka Hendrik benar benar menyiksa batinku. Aku menangis di dalam Taxi. Sebelum aku berangkat tadi aku menata baju kerja Hendrik, semoga saja dia memakainya. Aku sudah sampai di butik. Aku di sambut oleh Pegawai ku dan Indira juga.


"Pagi pengantin baru ...?" Sapanya dengan senyum semringah di depanku.


"Pagi juga cantik ...." Jawabku dengan mengulas senyum agar terlihat baik-baik saja.


"Hmm ... Pengantin baru, masih wangi sekali sepertinya ... gimana semalam?" ledeknya.


"Ih kepo nih?" tukasku. "Oh iya Indira, hari ini aku ada jadwal bertemu siapa lagi?" tanyaku.


Aku mengalihkan pembiacaraan dengan menanyakan siapa yang akan ke sini nanti. Dan Indira membacakan jadwalku satu persatu untuk hari ini.


Hari ini aku benar benar lelah sekali. Tak seperti biasanya banyak sekali pengunjung yang datang ke butik.