
Semua sudah siap dan sore ini juga Hendrik dan Lisa pindah ke rumah barunya. Hendrik menata kopernya dan koper Lisa ke mobilnya.
"Tidak ada yang ketinggalan?" Tanya Hendrik pada Lisa.
"Tidak ada," jawabnya.
"Ayo kita pamit mama, papa, dan ayah," ajak Hendrik.
Lisa dan Hendrik berpamitan untuk pindah ke rumah barunya.
"Ayah, Lisa berangkat dulu. Ayah jaga diri ayah baik-baik. Lisa pasti sering jenguk ayah ke sini." Lisa memeluk ayahnya.
"Iya sayang, kamu juga jaga dirimu baik-baik."
"Ma, Pa, Lisa berangkat dulu."
"Iya sayang, hati-hati." Mama Marta memeluk Lisa dan mencium Lisa.
"Hendrik pamit berangkat dulu, ya?"
"Iya, kamu hati-hati. Ayah titip Lisa, ya?" ucap Rafli
"Iya ayah." Jawab Hendrik.
"Kalian hati-hati, dan jaga diri kalian baik-baik." Ucap Arif.
"Siap, Pa. Papa dan mama juga harus jaga kesehatan, ya?"
"Iya, Hen. Itu pasti," jawab Marta.
"Kak, aku pasti akan merindukanmu." Lyra memeluk kakaknya dengan sedih.
"Kakak juga pasti akan merindukanmu, Sayang. Kakak titip mama dan papa, ya?"
"Iya, Kak."
Hendrik dan Lisa masuk ke dalam mobilnya. Hendrik melajukan mobil nya menuju Rumah barunya.
Didalam mobil mereka hanya saling diam.
Ponsel milik Hendrik berdering. Hendrik langsung melihat nama penelpon di layar ponselnya. My Lovely Vian. Nama itu yang muncul di layar ponsel Hendrik. Mata Hendrik membeliak melihat nama itu muncul di layar ponselnya. Nama yang sudab ia tunggu berminggu-minggu, akhirnya muncul.
Vivian. Iya kekasih Hendrik yang menelponnya, yang selama beberapa minggu menghilang tanpa kabar.
{Halo Via}
{Hendrik, i miss you.}
{Miss you so much, Honey}
{Hen, apa benar yang kamu katakan kemarin dalam cha kamu, kalau kamu akan menikah?}
{Sayang, maafkan aku. Iya aku akan menikah, dan hari ini aku menikah. Maafkan aku, aku dipaksa mama dan papa, Vian. Aku tidak mencintainya, aku mencintaimu.}
{Hen, bisakah kita bertemu?}
{Iya bisa. Di mana? Kamu sudah pulang?}
{Sudah. Hendrik, kenapa kamu menikahi orang lain?}
{Sayang, aku akan jelaskan. Tolong jangan gini. Please ... jangan nangis, aku akan segera ke situ.}
{Oke aku tunggu}
Hendrik menutup telefonnya. Dia melirik ke arah Lisa yang dari tadi terdiam saat Hendrik mengangkat telfonnya.
Mereka masih terdiam hingga mereka sampai di rumah barunya.
"Ayah, ini kan rumah impian Lisa? Apa ayah yang punya ide ini semua?" Gumam lisa sambil meneteskan air matanya.
Dulu waktu kecil setiap Lisa melewati depan rumah ini pasti meminta ayahnya membeli rumah seperti ini.
*flasback on*
"Lisa ayo kita ke pantai?" ajak Rafli.
"Oke, Ayah!" jawab Lisa kegirangan.
Rafli mengemudikan mobilnya, tepat di depan rumah mewah dan megah, Lisa menyuruh ayahnya menghentikan mobilnya.
"Ayah...berhenti sebentar."
"Ada apa Lisa?"
"Ayah, lihat deh rumahnya bagus sekali. Lisa ingin sekali memiliki rumah seperti itu kalau Lisa sudah gede nanti. Sudh jadi orang sukse."
"Iya, rumahnya bagus. Ayah doakan semoga impian kamu terwujud. Sudah lihatnya?"
"Sudah, ayah. Kenapa ayah tidak bikin rumah seperti itu?"
"Nanti saja untuk kamu kalau kamu sudah dewasa. Oke?"
"Oke, Lisa sayang sekali sama Ayah.."
"Ayah juga sayang Lisa."
*flasback off*
Lisa masih memandangi rumah barunya. Semakin deras air mata Lisa yang keluar. Akhirnya Lisa menyadari kalau Hendrik sudah duluan masuk dan membawa kopernya sendiri kedalam. Lisa berjalan menuju bagasi mobil Hendrik dan mengambil kopernya.
Lisa masuk ke dalam dia menuju kamar utama rumah itu. Dan di dalam kamar sudah ada Hendrik.
Lisa masuk membawa kopernya.
"Siapa yang izinin kamu masuk ke dalam kamarku?!" hardik Hendrik.
"Bukan ini kamar utama? Kamar untuk aku dan kamu?"
"Aku dan kamu? Jangan mimpi! Ini kamarku! Di luar masih ada dua kamar, silakan kamu keluar dari sini, cari kamar lain! Jangan pernah injak kamar ini lagi!" usir Hendrik dengan kasar.
Lisa menarik napasnya dengan berat. Lisa menuruti apa yang Hendrik mau. Ia langsung keluar darikamar Hendrik.
"Tunggu! Satu lagi yang harus kamu tahu!" seru Hendrik menghentikan langkah Lisa.
"Apalagi? Soal Vivian kekasihmu itu?" tanya Lisa santai.
"Bagus kalau kamu tahu. Vivian sekarang sudah pulang dari Jepang. Aku gak akan melepaskan dia, dan kamu tidak berhak melarang aku untuk menemuinya, dan membawa dia ke sini!" tegas Hendrik.
"Silakan saja temui dia, tapi ada syaratnya!" ucap Lisa.
"Syarat? Berani sekali kamu kasih syarat padaku? Hei ingat!"
"Stop! Aku berani karena aku istri kamu! Apa kamu mau saat kamu bawa kekasihmu ke sini, lalu mama dan papamu tiba-tiba ke sini? Mau dikemanain? Mikir dong?!"
"Oke aku terima syarat itu. Tapi, aku bebas mau menemui dia kapan saja."
"Silakan!" jawab Lisa sambil berlalu dari kamar Hendrik.
Lisa menuju kamar depan. Kamar ini malah lebih luas dari kamar utama. Lisa menaruh kopernya dan dia menata bajunya di dalam lemari. Lisa menahan tangisnya, tapi tetap saja tidak bisa.
"Kuat Lisa. Jalankan peran kamu sebagai istri yang baik. Pasti suatu hari pintuh hati Hendrik akan terbuka, dan tahu mana yang terbaik untuknya. Kamu atau kekasihnya," gumam Lisa.