
"apa?"
Zero tercengang akan perkataan Zito. bayangkan saja balita harus memimpin perang di garda depan. jangankan untuk membunuh dengan tangan mungilnya, melihat darah aja anak zero belum pernah. Apalagi harus melihat darah dari mayat yang dibunuhnya. Zero membayangkan kondisi spikis anaknya. zero takut anak-anaknya akan menjadi burung berhati tiran.
"Tidak kau tidak boleh lakukan itu, dia masih kecil dia tidak tau apa apa soal perang! apa kau Setega itu pada keponakanmu sendiri!" ucap zero dengan nafas memburu, menahan sakit dan emosi yang meluap luap.
"haha, kau pikir aku peduli mereka bukan anakku, dan anakku yang akan menjadi penguasa dunia Beast ini hahahaha, andai kau tak mempunyai keturunan pasti semua ini tak akan terjadi Tuan Zero ...aah tidak kakak iparku tersayang." ucap Zito lantang.
"Tapi jika kau memohon mungkin aku akan berubah pikiran" lanjut Zito dengan senyum menyeringai. Zito ingin melihat ziro bertekuk lutut dan memohon mohon belas kasih padanya.
Zero terdiam sejenak memikirkan akan perkataan Zito. apa yang dia mau? dan dia tidak mau tangan anaknya berlumuran darah. membayangkan bagaimana jika kedua anaknya menjadi Tiran yang kejam. bagaimana jika kedua anaknya menangis melihat mayat yang tergelatak tak berdosa. Dan akhirnya Zero mengalah demi masa depan anaknya.
" Zito aku mohon padamu lepaskan anak anakku biarkan dia seperti anak yang lainnya biarkan aku yang akan menggantikannya, biarkan anak-anak ku bersama ibunya" sudut matanya mengeluarkan air mata yang entah sejak kapan lolos begitu saja tanpa aba aba.
Zero yang tadinya berdiri dengan kedua tangannya di ikat, langsung menekuk lututnya. bersujud dengan penuh permohonan. agar anak yang disayanginya selamat dari kejamnya dunia beast ini.
"Apa kau ingin aku berikan mereka pada ratu Raline? ups bukan ratu, tapi mantan ratu karena sekarang raja beast central adalah anakku dan sebentar lagi aku menjadi pemangku raja dari semua raja dunia beast. Dan jangan harap anak anakmu akan bertemu dengan ibunya! kenapa? karena mungkin sekarang Raline dan Simon sudah ada di langit ketujuh, hahaha. " ucap Zito.
Semakin tercenganglah zero dengan pernyataan itu, cintanya selama ini yang baru dia rasakan harus hilang dalam sekejap. marah dan kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa melindungi Raline kini yang dirasakan zero. Dia menyalahkan diri sendiri karena dia telah ceroboh memakan buah terlarang itu. buah yang membuat tubuhnya melemah. hingga dirinya berakhir di ruang bawah tanah ini.
"Apa yang kau lakukan pada linlinku sialan, berani kau menyelakai dia akan ku bunuh kau" habis sudah kesabaran Zero yang selama ini dia tahan demi anaknya sekarang sudah tak terbendung lagi belahan jiwanya terbunuh karena dirinya.
Jiwanya memberontak tak terima entah perasaan apa ini perasaan tak mau kehilangan dan perasaan untuk melindungi anaknya bertumpang tindih.
" Haha, mungkin kau akan menyusulnya tapi tidak sekarang. Ada tugas yang harus kau selesaikan sebelum kau bertemu dengan ratumu. dan aku senang melihat mukamu seperti ini, ini sangat menyenangkan. hahaha! ucap Zito.
"Jika kau setuju memimpin perang itu untukku mungkin anak-anak mu bisa bertemu denganmu dengan kondisi seperti ini atau bertemu dengan keluarga kecilmu di langit ke tujuh. hancurkan semua beastman yang menolak menjadikan aku satu satunya pemangku raja dunia beast. Aku beri waktu 3 hari jika kau menolak kau tau kan konsekuensinya, heh" Zito senyum menyeringai lalu pergi meninggalkan zero yang bereriak makian dan cacian. Tapi Zito tak menggubrisnya.