
Simon yang mendengar namanya dipanggil langsung datang dengan tergesa gesa. saat sampai didepan pintu kamar, Simon di kagetkan dengan Raline yang sudah terduduk dilantai. ternyata Raline terduduk dengan darah yang keluar dari jalan lahirnya. Raline yang melihat Simon datang sambil memegang perutnya yang sakit.
" to ... tolong ... sa ... sakit .." ucap Raline terbata.
Simon langsung menghampiri Raline yang terduduk dan langsung menggendongnya. Raline diletakkan di tempat tidur yang ada dikamar itu. dia memegang kepala Raline pelan agar kepalanya tidak terbentur. Raline memegang tangan Simon. dia memohon untuk menyelamatkan bayinya.
"Simon ... aku mohon ... tolong anakku ... aku akan lakukan apapun ... tolong ... selamatkan anakku" ucap ralin lirih menahan sakit. di dalam pikirannya dia hanya ingin keselamatan anaknya. tidak peduli kedepannya bagaimana hanya anaknya prioritasnya saat ini.
Simon pun memanggil Lucy segera agar Raline bisa terselamatkan. Simon panik melihat wajah Raline semakin pucat. dia tampak gusar baru pertama kali dia mengalami panik seperti ini. saat di Medan perang melihat darah seakan melihat air yang menyirami keringnya kerongkongan karena haus. tapi sekrang melihat Raline berdarah seakan dunianya terkena gempa, koyak.
Lucy segera datang dengan telepostasinya secepat mungkin jika dia terlambat nyawa taruhannya.
Lucy memeriksa Raline saat ini. dia memegang denyut nadinya dan terakhir perutnya. Lucy mendengar detak jantung bayi itu dengan mendekatkan telinganya ke perut Raline untuk memastikan karena di prediksi kalau jantung bayi itu melemah.
"mau apa kau, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya" ucap Simon.
"apaan sih aku mau memastikan detak jantungnya aja. sensitif banget aku ini ahli ramuan harus melakukan pasien itu sama" sungut Lucy saat dia didorong Simon untuk menjauh dari perut Raline.
Simon ya g ada disamping Raline terus menggenggam tangan Raline untuk menyalurkan energi nya agar dia bisa menahan sakit.
saat Lucy sudah selesai memeriksa dia begitu tegang dengan keadaan bayi dan Raline.
"gawat jika bayinya tidak dikeluarkan sekarang betina ini akan mati, Simon cepat panggil pasukan dan kumpulkan batu energi spiritual sebanyak banyaknya. aku membutuh kan itu. walau kita menggabungkan kekuatan kita kita belum tentu bisa meneyelatkannya.
Raline yang mendengar itu sangat syok dia menggenggam erat tangan Simon. dia takut kehilangan anaknya.
"Jangan takut aku akan melakukan apapun demi anak kita. aku janji kau dan dia akan selamat" ucap Simon. Simon merintahkan semua kawanannya untuk segera mengirim batu spiritual sebanyak banyak sekarang juga.
Saat batu itu tersusun dengan rapi di lantai Lucy mengeluarkan energi spiritualnya di dalam pisau yang dia bawa. pisau yang Teraliri energi spritual siap membelah perut Raline agar bayi dalam kandungan itu terselatakan. Raline diletakkan diatas bebatuan itu. proses itu memakan banyak waktu dan tenaga. ternyata bayi yang dikandung Raline memakan semua energi spiritual yang berada disana padahal bayi itu berbentuk telor tapi didalamnya berbentuk bayi manusia dengan sayap dipunggungnya. telor itu tidak mempunyai cangkang kaya biasa burung bertelor.
Telor itu tidak bisa pecah walau ditutupi daging tipis dan terawang seperti balon.bagi itu hanya bisa dilihat walau di buka menggunakan pisau ber energi tidak pecah. ada dua bayi telor disana satu perempuan dan satu laki laki.