Me And The Beasts

Me And The Beasts
40



zero melihat Raline yang terbaring diatas kasurnya tapi dilihatnya ada yg aneh. Raline dikelilingi dengan energi spiritual yang berwarna merah diseluruh tubuhnya. yang lebih mengherankan lagi raja beastman berada disebelahnya sedang duduk bersemedi. seperti menyalurkan energinya pada Raline.


Zero yang geram akan tingkah lakunya langsung masuk tanpa permisi. Zero menyerang Simon dengan seluruh kekuatannya tapi berhasil dihadang oleh Lucy. Ternyata dari tadi Lucy mencium aroma Beastman burung langsung bersembunyi.


Yah, diruangan itu ternyata ga cuma Simon dan Raline tapi juga Lucy. Lucy selalu memantau perkembangan Simon dan juga Raline. jadi Lucy tidak akan pergi jauh.


crraasss


sayap zero terluka, sayap berwarna perak itu ternodai dengan warna merah yang disebabkan oleh Lucy. zero yang ingin menghunus Simon terkejut dengan serangan dadakan yang berada dibelakangnya. dia terlalu fokus pada Simon sehingga tidak menyadari adanya Beastman lain dibelakangnya. zero melawan Lucy dengan pedangnya.


Mereka berkelahi tanpa henti. Simon tidak terganggu akan rintihan dan suara pedang yang saling menyahut yang dia pikirkan sekarang hanya keselamatan Raline. karena dari pagi tadi dia belum sadar padahal ini sudah larut malam.


"kurang ajar, kau pantas mati karena telah menculik pasanganku, lepaskan Raline maka aku akan melepaskanmu tanpa harus membunuhmu" ucap zero.


"huh, sampai matipun kau tidak akan bisa menang melawanku, kau ingin pasanganmu langkahin dulu mayat ku, hiyaaaat" ucap lucy.


"banyak omong, rasakan ini" ucap zero.


Lucy akhirnya terkapar dengan banyaknya darah disana. tak jauh dengan zero sayapnya sudah terluka badanya juga banyak bekas sayatan yang ditorehkan Lucy.


"Saatnya ... aku membunuhmu simon" gumam zero dengan api yang membera dengan sisa sisa tenaganya.


Saat dia akan menghunuskan pedangnya Simon mengelak. Simon memukul dada zero. dukk ...


zero terpelanting ke dinding itu dan mengeluarkan darah di mulutnya.zero berusaha bangkit dan menyerang dengan energi spiritualnya.


Simon menghindar. dan terjadilah pertempuran mereka. si akhiri pedang zero mengarah ke leher Simon.


"ze ... ro ... zero" ucap Raline terbata. ternyata kegaduhan yang dibuat Zero dan Simon membangunkan Raline dari komanya.


"Sayang ... apa yang terjadi kenapa kau pucat sekali." ucap Zero.zero segera menghampiri Raline ya g terbaring lemah. dia merengkuh tubuh Raline kedekapanya.


"Apa ini ... be ... nar kau? syukurlah" ucap Raline. melerai pelukannya.dan melihat wajah zero dengan menangkup wajahnya dengan tangannya.


" Ya ini aku, aku datang menjemputmu" ucap zero sambil menyentuh tangan Raline yang ada diwajahnya. saat zero lengah, Simon menghunuskan pedangnya ke arah zero. Raline yang tadinya fokus ke zero melihat Simon menghunuskan pedangnya, berusaha keras melindungi zero dengan merentangkan tangannya.


"Simon hentikan ku mohon jangan lakukan ini" ucap Raline.


"Huh berani sekali kau merintahku"bentak Simon.


"Emangnya aku takut padamu, huh?" ucap Zero yang tiba tiba berdiri langsung ingin menyerang. tapi dihentikan oleh Raline dengan menggenggam tangan kanan zero.


"Apakah kalian bisa berhenti berkelahi, demi aku" ucap Raline.


"Tidak" ucap mereka bersamaan.


"Apasih yang kalian ributkan" lirih raline.


"KAU" ucap mereka bersamaan lagi. zero dan Simon saling melotot karena mereka tidak suka bicara bersamaan. pedang mereka siap untung beradu.


" wah kompak sekali kalian. Letakkan pedang kalian.Simon duduklah sini" ucap Raline menengahi. dia tidak ingin suasana mencekam ini berlanjut. Raline bersyukur selama ini dirawat oleh Simon walau Simon kasar tapi dia tulus merawat dia dan anaknya terbukti dengan dia berusaha menyelamatkan mereka dalam bahaya. jika tidak mungkin nyawa mereka melayang entah kemana. menghadapi Simon itu harus lemah lembut walau tingkahnya barbar.