Me And The Beasts

Me And The Beasts
52



Saat Raline membuka matanya dia kaget, kaget dengan apa yang ada di dihadapanya ini. sesosok pejantan yang tampan dengan bulu bulu halus di sekitar wajahnya. mungkin sudah beberapa bulan ini tidak dicukur, tapi tidak menghilangkan aura ketampanannya.


" Simon apa yang kau ..." ucap Raline terputus saat telunjuk Simon ada dibibir Raline.


"Aku kesini hanya ingin dirimu malam ini, boleh kah aku memilikimu seutuhnya." ucap Simon dengan nafas yang memburu.


"Tapi ..." ucap Raline ragu.


"Aku sudah meminta ijin pada zero katanya dia setuju menjadikanku yang kedua untukmu, apa kau tahu aku sangat senang saat dia mengatakan itu, sudah lama aku menunggu hari ini. setahun sudah aku menunggu saat saat ini, akhirnya penantianku terbayar sudah" ucap Simon sambil mencium leher Raline.


"Selama ini aku menahan bukan berarti aku tak menginginkanmu, aku hanya ingin mengambil hatimu terlebih dahulu, apa kau sudah membuka hatimu untukku" bisik Simon di telinga Raline.


Raline meremang saat udara yang menerpa telinganya. tubuh Raline seakan tak bisa menolak setiap sentuhan yang Simon berikan. Raline hanya bisa pasrah dan menikmatinya. dan akhirnya pergumulan itu terjadi dan tanda perkawinan berbentuk serigala di tangan kanan Raline tercipta.


Setelah Simon sampai puncak nirwana dia menidurkan tubuhnya disamping Raline sambil memeluknya.


"Linlinku terimakasih kau mau jadi pasanganku" ucap Simon dibalik badan Raline.


Raline hanya bisa mengangguk tak bersuara karena dia sudah kelelahan dengan olahraga panas yang dilakukan Simon. badannya seperti tak bertulang, nyeri dibagian pinggangnya membuat dia harus menidurkan tubuhnya. mungkin besok dia akan kesulitan berjalan.


"kenapa tiba-tiba pergi"ucap Raline lirih walau matanya sudah sayup sayup tapi dia mencoba mendengar dan membalas setiap ucapan Simon.


"Disana ada masalah wabah yang harus aku pastikan. aku takut wabah itu sampai ke Barat, aku tidak mau kehilanganmu, Eli dan rizef. aku akan segera mencari penawarnya" ucap Simon.


Raline hanya menjawab "heem" setelah itu dia tertidur pulas. tanpa mendengarkan Simon yang bercerita panjang lebar. entah dia membicarakan apa. cinta? atau masalah wabah? yang dipikiran Raline saat ini hanya menidurkan tubuhnya yang begitu lelah karena penyatuan yang menurutnya agak kasar. ya selama ini zero memperlakukan Raline dengan lembut. tidak kasar seperti Simon.


Dikamar lain.


Dibalkon kamar, zero sedang menatap langit malam dengan bertaburan ribuan bintang yang sangat indah menemani kesendiriannya. dia menabahkan hati membagi istri dengan Beastman serigala. hati mana yang tak hancur harus berbagi istri. Rasa sakit, marah, kecewa tapi tidak bisa diutarakan. hukum alam ini menyiksa para pejantan beastman, semua ini demi keturunan para beastman, jika saja betina di dunia Beastman sangatlah banyak tidak ada hukumnya jika istri mempunyai empat suami.


"Berbagi istri dengan Simon saja hati ku sudah seperti tersayat sayat apa lagi dengan Beastman lain. tidak ... aku tidak akan rela dan membiarkan Raline mempunyai suami lagi. aku harus pastikan itu dengan Simon, pokoknya tidak ada yang boleh ada Simon-Simon yang lainnya." Batin Zero sambil mengepalkan tangannya di pagar dinding pembatas balkon.


Zero sudah bertekad tidak akan membiarkan siapapun mendekati Raline tak terkecuali Rick. dia harus menjauhkannya.


Zero masih setia dengan kesendiriannya dengan pemikiran pemikiran langkah apa yang akan dihadapinya. padahal jam sudah menunjukkan dini hari. Simon dan zero tidak bisa tidur dengan pemikiran mereka masing-masing.