
Raline yang sedang khusuk membaca buku itu tanpa disadari mempelajarinya dengan cepat. tanpa menunggu lama Raline langsung pergi dimana Simon berada membawa perlengkapan medis.
Raline dengan telaten memasangkan infus ditangannya dan menyuntikkan obat penurun panas pada selang infusan tersebut agar cepat mengalir ke pembuluh darah dibantu dengan ahli ramuan dan Zero. Raline hanya memerintahkan mereka untuk mengambil sesuatu yang diperlukan.
Raline memerintahkan Zero untuk membuat rumah singgah yang steril seperti rumah sakit di dunia Raline. walau kamar itu terbuat dari kayu tak seperti kamar rumah sakit pada umumnya setidaknya tempat itu steril.
" Tinggal menunggu hasilnya semoga cepat mereda panasnya" Raline memandang Simon dengan tatapan entah. dia duduk dipinggiran brankar sambil memegang tangan kanan Simon. dia mengelus lembut tangan itu.
"Sayang jangan bersedih. semoga saja metode penyembuhan yang kau pelajari akan menyembuhkan Simon. sini tidur, apa kau tidak lelah" ucap Zero. memberikan bahunya sambil mengelus lembut rambut Raline. raline yang duduk di kursi panjang samping brankar hanya bisa menyandarkan badannya yang lelah.
Siang itu Simon mengerjapkan matanya. Pertama kali dilihatnya dia melihat Raline dan zero berpelukan dengan mesra dimana Raline berada dipangkuan zero. saat ingin menggerakkan badannya Simon terkejut dengan apa yang ada ditangannya. sesuatu yang baru pertama kali dia lihat. saat ini Simon berubah menjadi serigala karena tubuhnya masih lemah.
Simon hanya bisa menatap Raline tanpa membangunkannya dia bersyukur masih bisa diberi kesempatan melihat Raline. saat terkena wabah itu, Simon sangatlah frustasi dia tidak takut mati, tapi dia takut di detik detik terakhirnya dia tidak bisa memberikan ucapan terakhir pada orang yang paling dia cintai yaitu Raline.
Tiba-tiba lamunannya terganggu dengan suara yang sangat familiar.
"Apa yang kau rasakan, apa perlu aku membangunkan raline" ucap Zero, zero seperti tidak keberatan dengan adanya Raline dipangkuannya.
"Tidak aku hanya ingin melihat dia saja. apa dia khawatir padaku? dia sangat cantik" lirih Simon.
" Ya, dia selalu cantik kapanpun dan dimanapun" ucap Zero.
"Oiya apa ini yang ditanganku, aku baru pertama kali melihat ini!" ucap Simon.
"Itu metode pengobatan yang Raline pelajari dari dunianya" ucap Zero.
"Bisa jadi percayalah pada Raline. kau hanya dijadikan bahan percobaan saja bangga" ucap Zero dia senang dengan kata kata percaya diri seperti sebelumnya menandakan jika Simon sudah membaik.
egh
Suara lenguhan bangun tidur Raline membuat percakapan Simon dan zero terhenti.
"Sayang apa kau terganggu dengan percakapan kami, maaf yah" ucap zero sambil mengelus rambut Raline.
" tidak " raline membuka matanya. Raline berdiri dan langsung menghampiri simon mengecek keadaanya. demam karena racun sudah teratasi tapi racun itu masih belum sempurna bisa dikeluarkan.
"Linlinku aku rindu"ucap Simon.
" emm " Raline mencium kening Simon tanpa risih padahal sekarang dia menjadi serigala.
"Sayang aku akan menyiapkan sarapan untukmu" ucap Zero. entah sejak kapan sarapan Raline sudah disiapkan oleh zero.
" Baiklah, aku sarapan dulu yah" ucap Raline pergi meninggalkan Simon dia duduk di kursi yang didepanya ada meja yang diatasnya ada beberapa sarapan buat zero dan Raline. karena perut yang semalam kosong minta diisi. Raline pergi cuci muka, setelah itu sarapan. sementara Simon belum bisa dikasih makanan dulu karena pengaruh obat yang diberikan Raline.
Setelah sarapan Raline langsung mempelajari racun yang diyakini racun ular entah itu racun seperti apa. Raline selalu berada disamping Simon untuk selalu menjaga dan mengecek setiap beberapa jam sekali bagaimana reaksi obat yang diberikan.
Entah kenapa Simon merasa lebih baik sakit, karena dia mendapatkan lebih perhatian dari linlin. dia menatap Raline sejak buka mata dan tutup mata saat istirahat, yang dia lihat didepannya selalu Raline yang tersenyum padanya.
*** maaf yah novel aku lebelin and tapi tenang aja masih tetap up kok belom and masih ada bab bab selanjutnya. terimakasih pengertiannya.🙏🙏🙏