
Setelah Raline ganti baju dan makan, Raline dan Simon menunggu elifan lahir.
"Simon aku ga sabar menunggu elifan" ucap Raline. dia duduk di bibir ranjang melihat elifan yang masih didalam telur transparan itu. rizef yang tidur dipelukan rakine hanya memejamkan matanya tidak peduli yang ada disekitarnya. dekapan yang diberikan Raline seakan menghangatkan tubuhnya.
"ehm, lihatlah dalam telur pun dia sudah cantik seperti dirimu. aku membayangkan anakku dan kamu nanti seperti apa?"ucap Simon.
Raline tertegun dengan pernyataan itu, pasalnya dia tidak pernah membayangkan dia menghianati zero. tapi apa daya hukum dunia Beast berbeda. dan ada sedikit trauma pasca melahirkan.
"Raline kenapa kau melamun, heh apa kau tak mau melahirkan anakku?" suara Simon meninggi karena dari tadi Simon memanggil manggil tapi tidak ada jawaban dari Raline.
"Bu ... bukan begitu. aku ... aku hanya memikirkan bagaimana bentuk wajahnya saja. ya ... itu saja" kilah Raline tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
" ow seperti itu ... tapi sebelum itu kau harus melayaniku, kau harus membayangkan bagaimana kau harus menyenangkanku"ucap Simon sambil menarik turunkan alisnya.
"i ... iya" ucap Raline sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Saat perbincangan itu belum usai rizef yang terganggu langsung menangis meminta asupan asi untuk menambah tenaganya. ternyata rizef adalah anak yang bisa memakan energi mana dan makanan seperti pada umumnya.
Sudah seharian Raline dan Simon menunggu retaknya telor transparan itu atau lahirnya elifan tapi tak kunjung kelihatan tanda tanda itu. zero yang pergipun tak kunjung pulang. Raline hanya ditemani Simon. sudah tengah malam Simon masih terjaga. Raline yang kelelahan karena mengurusi rizef langsung tertidur saat rizef sudah tidur malam.
Tak berselang lama telor itu retak. semakin lama semakin terlihat. telur itu mengeluarkan cahaya putih sehingga Simon yang terjaga sontak melihat cahaya yang menyilaukan matanya. Simon melihat bayi mungil bersayap sedang duduk sambil mengucek ucek matanya. bayi itu melihat Simon dengan mata hitamnya dengan intens setelah itu dia merentangkan tangannya dan bersuara " pa ...papa ... papa " seakan dia ingin sekali digendong.
elifan yang digendong Simon langsung mengusak usak dada bidang Simon mencium aroma Simon dengan seksama. selama ini walau didalam telur elifan dan rizef mendengar semua suara yang berada di sekitarnya.
Tanpa diketahui Raline dan zero. diam diam Simon sering berbicara pada rizef dan elifan tapi lebih sering ke elifan karena cantiknya seperti Raline sehingga Simon membayangkan seperti berbicara dengan Raline. selama Raline bertemu dengan zero dia lebih sering bersamanya. Simon hanya bisa merelakannya karena kesepakatan yang mereka buat.
Zero juga sering berbicara sama bayinya tapi tak sesering Simon. karena sejak dalam kandunganpun Simon diam diam mengajak bayi itu berbicara.
"elifan kau sudah lahir ... selamat datang Eli sayang didunia beast semoga kamu selalu sehat dan bahagia ya sayangnya papa" Simon langsung me cium pipi elifan dengan sayang. Simon menimang nimang bayi itu dalam dekapannya tanpa menggangu Raline dalam tidurnya karena dia tau seharian ini rizef membuat Raline kelelahan.
" apa kamu haus nak" ucap Simon.
bayi itu seakan bisa mengerti apa yang diucapkan Simon sehingga dia hanya menggeleng. bayi itu hanya menunjuk batu mana yang da dibawah telur transparan itu seakan dia menunjukkan kalau dia hanya makan energi mana saja.
"apa? kau hanya makan energi mana? apa energi spiritual juga?" ucap Simon.
bayi itu mengangguk. "hebat kamu sayang kesanyangan papa" ucap Simon.
"papa"