Me And The Beasts

Me And The Beasts
57



Saat ini Raline dan Zero sudah berada dikamar entah sejak kapan mereka berpindah tempat. Raline menyenderkan kepalanya ke dada bidang zero yang bersender didaun tempat tidur. Zero mengelus puncak kepala Raline dengan sayang.raline menutup tubuhnya yang tidak memakai kain sehelai benangpun dengan selimut .


Setelah olahraga panas Raline menuntut penjelasan tentang apa yang dikabarkan oleh Tristan tadi. Mau ga mau Zero menceritakan kronologi yang terjadi.


"Jadi beastman misterius itu yang menjadi otak wabah ini" ucap Raline.


"Benar, kata Simon dia sering datang kerumah pribadinya yang di barat. Ternyata selama ini Simon bekerja sama dengan beastman misterius itu untuk memperluas wilayahnya" ucap zero


"Tunggu ... apa beastman misterius itu memakai tudung hitam" tanya Raline.


"Iya, apa kau pernah melihatnya sayang?" tanya zero.


"emm aku pernah melihatnya sekali! aku ingin memastikan racun itu dulu jika tebakan aku benar jika dia ...!" ucapan Raline terjeda.


"dia siapa?" tanya zero.


"Bagaimana keadaan Simon, apa wabah ini parah bila diperlukan aku bisa membantu. aku sedikit tau ramuan obat" ucap Raline mengalihkan pembicaraan. dia takut salah menebak. jika dia bisa memastikan racun itu maka Raline bisa memastikan beastman misterius itu. Raline masih belum yakin bahwa Beastman itu adalah beastman ular.


"Jika dari gejala yang dialami para Beastman yang terjangkit sekarang dia demam dan semakin hari semakin tinggi setelah itu dia akan mimisan jika sampai batuk berdarah itu semakin sulit untuk meredakan rasa sakitnya" ucap zero lirih.


"Apa? kita harus cepat kesana. kita harus menyelamatkan simon" ucap Raline sambil menyibakkan selimutnya buru buru berdiri dari ranjang. dia lupa kalau dia tidak memakai apapun. dia pergi ke arah pintu ingin menyiapkan segala sesuatu yang harus dia bawa untuk ke beast selatan.


Zero mengeluarkan cahaya biru itu untuk menerbangkan Raline ke dalam dekapannya lagi.


Raline tersentak saat cahaya itu menerbangkan dirinya ke arah Zero.


"Apa kau akan pergi seperti ini atau kau ingin menggodaku lagi, hem?" tanya Zero sambil mencium pipi Raline lembut.


"Zero kita tak punya waktu lagi, kita harus cepat menyelamatkan Simon sayang, aku takut dia kenapa-napa!" ucap Raline masih belum sadar.


"Dengan tidak memakai baju seperti ini hem"ucap zero sambil menyentuh tubuh Raline dengan lembut.


"eh, maaf aku lupa" Raline baru tersadar dan menyembunyikan rasa malunya ke dalam dekapan zero.


"Baiklah kita akan mandi dulu setelah itu kita ke selatan" ucap Zero sambil menggendong Raline.


"Tapi bagaimana dengan Eli dan rizef apa kita akan meninggalkan dia disini atau kita membawanya?"ucap Raline.


"Tidak. kita tidak bisa membawa mereka aku takut wabah ini menyakiti anak kita. aku akan menyuruh Tristan membawa mereka ke beast central, disana lebih aman. sumber air disana dari ilahi jadi tidak ada yang bisa masuk sembarangan" ucap Zero.


"Baiklah, Apa kau akan menitipkan mereka ke putri Celin" ucap Raline.


"Em itu lebih aman dari pada dia sendiri dimansion" ucap Zero.


"Baiklah"


Setelah bersiap dan mempersiapkan semua yang ingin dibawa, Raline membangunkan keduanya untuk berpamitan. karena dia takut kalau tidak berpamitan maka Eli dan rizef akan menangis dengan kencang dan membuat keributan.


"Sayang maaf mama mengganggu kalian mama akan pergi sebentar. Papa kalian sakit jadi ibu harus kesana dan memastikan kondisinya. doain papa yah biar cepat sembuh" ucap Raline pada Eli.


" papa atit ... moga buh ( papa sakit ... semoga cepat sembuh)" ucap Eli. walau matanya masih ngantuk tapi sekuat tenaga dia membuka mata.


"Papa... hiks hiks" ucap rizef. rizef yang terganggu tidurnya akhirnya nangis juga saat mendengar papa Simon sakit


"iya sayang jangan menangis anak lelaki tidak boleh cengeng kakak harus bisa menjaga adik Eli yah selama ayah dan mama pergi, bisa?" tanya Raline.


"Ica iyef Ndak Ais izef aki anguh izef aga eli ( bisa rizef tidak menangis, rizef lelaki tangguh rizef akan menjaga eli) " ucap rizef percaya diri padahal selama ini Eli yang selalu menjaga rizef. walau rizef kakaknya soal kekuatan rizef lebih unggul. kalau soal kepintaran Eli lebih unggul.


"Bagus anak tangguhnya mama. muah selamat tinggal anakku jaga diri kalian mama sayang kalian semua" Raline mencium kening dan kedua pipi rizef dan Eli.


"Sayang kalian akan pergi bersama Tristan ke Beast Central. disana ada putri Celin jangan nakal yah kalian harus saling menjaga satu sama lain, ayah sayang sama kalian" zero menggendong Eli dan rizef kedalam pelukannya. setelah itu mereka diberikan pada Tristan dan maid beastman.


"Tristan tolong bawa mereka ke beast central, jaga mereka untukku. aku akan segera menyelesaikan semua ini dengan cepat" ucap zero


"Baik tuan hati-hati diperjalanan" ucap Tristan


Zero dan Raline akhirnya pergi malam itu juga dengan teleportasi agar lebih cepat sampai.