
Ditengah hujan yang dingin sepasang insan ini tidak merasakan dingin sedikitpun yang ada rasa panas yang menuntut, menuntut ingin mencari keringat bersama. Hanya suara sahut menyahut untuk menyalurkan gelora mereka masing-masing. Dan kata ahh yang bisa menghentikan olahraga malam itu.
Raline sangatlah kelelahan mengimbangi kuatnya Beastman ini. Sampai sampai dia tertidur setelah mengucapkan kata ahh tersebut.
"Tristan" panggil Zero.
Tristan yang merasa dirinya dipanggil langsung datang tepat dibelakang Zero.
"Iya Tuan, bisa saya bantu" ucap Tristan berjongkok memberi hormat pada Tuannya.
"Buatkan rumah persinggahan sementara, disini aku tunggu secepatnya". ucap zero memerintahkan Tristan untuk membuat rumah singgah dari kayu menggunakan spiritualnya. Raline yang tidur digendongan Zero tanpa benang sehelaipun hanya bisa ditutup oleh sayap zero yang disilangkan.
"Baik Tuan" jawab Tristan. Tristan segera mengerjakan apa yang di suruh oleh Tuannya. Hanya hitungan menit rumah itu sudah jadi. yah walau sederhana yang penting bisa berlindung dari hujan yang semakin deras dan tidak tau kapan berhentinya.
Setelah rumah kayu itu sudah selesai dibangun, Zero masuk langsung membuatkan ranjang empuk buat Raline dari kapas. menyalakan perapian agar Raline tetap hangat. Tristan langsung pergi entah kemana. sedangkan Raline tetap tertidur pulas karena kelelahan habis pertempuran panasnya.
Zero yang sudah membaringkan Raline di tempat tidur langsung menyelimuti Raline dengan selimut tebal berbulu.
"Terimakasih, kau orang pertama yang membuat aku merasakan perasaan seperti ini. dan aku orang pertama yang merasakan apa yang berharga bagimu.aku merasa bangga" ucap zero sambil tersenyum membayangkan pertempuran panas yang menjadi pengalaman pertamanya. tak habis pikir dengan tindakannya itu. Dia berpikir seumur hidupnya dia tidak akan tertarik dengan seorang betina tapi nyatanya dia malah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Raline. Betina yang datang dari dunia lain.
Setelah zero menidurkan Raline Zero langsung pergi meninggalkan dia di rumah gubuk itu.
Setelah dia membuat pelindung dia langsung pergi meninggalkan gubuk itu. Walau hujan masih terus betah membasahi dunia beast itu. Dia menugaskan Tristan untuk menjaga Raline.
Zero pergi ke perbatasan Beast Timur. Dia mendapatkan kabar kalau disana terdapat masalah. masalah ini menyangkut penculikan betina di daerah itu. Betina yang seharusnya dilindungi hilang tanpa jejak. Dan hal itu berdampak kericuhan karena para Beastman mengamuk kesana kemari karena pasangan atau anaknya hilang.
Zero adalah raja beast sehingga dia harus turun tangan untuk menangani ini.
"Raja bagaimana ini para betina disini hilang tanpa jejak"ucap Beastman macan.
"Benar raja jika betina semua diculik bagaimana dengan keturunan kami"ucap Beastman singa.
"Kami harus mencari kemana lagi? sedangkan jejaknya pun tidak bisa kami cium" ucap Beastman macan lagi.
Mereka berada di rumah salah satu Beastman singa. Disana singa adalah tetuanya. Diruangan itu terdapat meja panjang dan kursi-kursi yang di duduki oleh beberapa Beastman dan zero.
Zero sedang berpikir dengan kepalanya bersandar diantara kepalan tangannya. "Baiklah, bagaimana jika sementara para betina, kita kumpulkan di satu titik area. disana kita perbanyak penjagaan yang kompeten dan secara bergantian untuk menjaga" ucap zero.
Para Beastman itu menimbang nimbang akan solusi yang diberikan oleh Zero.
Tak lama mereka sepakat akan keputusan yang diberikan oleh zero.