Me And The Beasts

Me And The Beasts
17



"Tristan apa yang kau bawa itu"ucap Raline saat melihat Tristan sudah datang. dan membawa sesuatu yang berbulu tapi ekornya ada sembilan. Raline ga tau itu binatang apa jadi bertanya.


"Jawab Nyonya ini adalah Beastsman rubah ekor sembilan. rubah ini sangat langka mungkin ini satu satunya di dunia beasts ini. tapi rubah ini sedang terluka parah nyonya" ucap Tristan.


"Apa kamu bisa mengobati dia? oiya sini masuk. tapi taruh dimana yah inikan sempit. taruh dikamar saja!" ucap Raline.


"Maaf nyonya rubah ini tidak berhak atas kasur nyonya, saya akan membuat kamar disebelah" ucap Tristan. setelah mengucapkan itu Tristan membuat rumah kayu tapi agak kecil.


"Terserah kamu saja, oiya kamu bisa nyembuhin dia ga?"ucap Raline.


"Saya hanya bisa membantu pertolongan pertama saja nyonya ga bisa langsung sembuh"ucap Tristan.


"Yaudah tolong yah setidaknya agar dia selamat"ucap Raline.


"Baik nyonya" ucap Tristan. setelah itu Tristan mengeluarkan energi spiritual untuk mengobati Beastman rubah itu.


Raline tetap menjaga rubah itu. Setelah Tristan mengobati lukanya Raline juga berusaha mencoba untuk mengobati juga dengan daun. tadi Raline melihat daun jarak dekat gubuk itu.daun jarak yang berkhasiat untuk menyembuhkan luka luar atau memar. Raline menumbuknya lalu ditaruh di luka si rubah. juga membersihkan badanya dari sisa sisa darah yang menempel ditubuh rubah putih itu.


Saat sore hari akhirnya rubah itu sudah sadar. rubah itu mengerjapkan matanya, dia menelisik setiap ruangan yang ia tempati sekarang. dia teringat kalau dia dikejar oleh segerombolan serigala yang akan menangkapnya. dia mencoba untuk melarikan diri tapi sayang, energi spiritualnya habis. dengan sisa energi spiritualnya dia mencoba segala cara untuk bertahan hidup dan akhirnya dia bisa membunuh serigala terakhir walaupun dia juga terluka parah.


Saat rubah itu melihat Raline dia langsung siaga.


Roar Roar


"Tenanglah aku orang baik, jangan banyak bergerak, luka mu masih belum sembuh, lukamu cukup parah jadi butuh waktu lama untuk sembuh" ucap Raline.


akhirnya rubah itu menurunkan kewaspadaannya.


sejenak rubah itu terpesona oleh senyuman Raline. tapi rubah itu tetap tidak mau percaya sama siapapun. dia mengesampingkan egonya untuk keselamatannya


Raline pun keluar dari kamar itu. Saat lihat kamarnya masih kosong akhirnya dia keluar lagi. keluar untuk menunggu zero di pintu depan. Raline sangat khawatir karena sudah larut tapi zero belum juga kelihatan batang hidungnya.


"kemana dia apa dia ga tau ini dah malam, apa sih kerjaannya. apa ga butuh istirahat" gumam Raline.


Raline terus mondar mandir tidak jelas sambil gigit kuku jarinya.


"Tristan" teriak Raline.


"iya nyonya" jawab Tristan.


"Tristan kemana zero kok dia belom pulang? ini udah larut malam Tristan, trus kenapa kau tidak temani aku ngobrol aku bosan" ucap Raline sambil mencebik.


"maaf nyonya saya tidak tau pasti tuan zero pulang kapan, saya tidak bisa menemani anda ini perintah dari Tuan. saya harus berada dijarak dua meter dari anda" ucap Tristan.


"hah gila ini zero bener bener keterlaluan, aku mati bosan disini, aku ga terbiasa dikurung seperti ini" batin Raline.


"Ya sudahlah aku mau tidur, kau jaga rubah itu! jangan sampai dia kabur. aku mau dia jadi peliharaanku" ucap Raline.


Raline akhirnya pergi ke kamarnya ga peduli Zero pulang kapan, dia ga mau menunggu lagi.


"Awas aja kalau dia pulang aku ga kasih jatah,ih sebel banget deh pokoknya.aku bener bener ga akan peduli lagi"gumam Raline sambil menyelimuti dirinya.