Me And The Beasts

Me And The Beasts
19



bugh


tiba tiba rubah itu dipukul hingga memecahkan vas bunga yg da didekat jendela.


pyarr


rubah itu tergeletak tidak berdaya, luka ditubuhnya belum pulih ditambah lagi dapat pukulan yang menambah penderitaannya.


Raline yang sudah tertidur pulas terbangun kaget dengan suara vas bunga terjatuh. Dia melihat Zero didepan matanya datang dengan marah. dan saat melihat samping dilihatnya rubah itu tergeletak tak berdaya.


Zero yang diselimuti api amarah langsung melangkah ke arah rubah itu, ingin sekali membunuhnya karena sudah berani mendekati pasangannya.


"Berhenti zero, apa yang kau lakukan" teriak Raline.


"Aku ingin membunuhnya, berani beraninya dia berada disini tanpa izinku" ucap zero menggebu.


Raline mencegah zero untuk membunuh rubah itu.dengan menghadang zero dengan tubuhnya dan merentangkan kedua tangannya.


"Sayang jangan bunuh rubah ini. kasihan dia, dia terluka parah, apa kamu ga lihat dia sangatlah lemah.kumohon kali ini ja yah" mohon Raline.


Zero tak bergeming dari tempatnya berdiri dengan mengepalkan tangannya. Raline langsung mengambil rubah itu ke dalam pelukannya. darah segar mengalir ke tangannya, lukanya terbuka.


"lihatlah lukanya terbuka, kasihan" ucap raline.raline keluar kamar tak peduli ekspresi zero seperti apa.


"Tristan, tristan" teriak raline.


"iya nyonya" ucap Tristan.


"tolong kau obati dia" ucap Raline.


"Tapi ... "ucap Tristan.


"ga pakai tapi tapian ini perintah" ucap raline.


Zero yang melihat itu semakin geram. akan tingkah laku Raline, zero sudah berusaha keras agar tidak melampiaskan amarahnya.


selesai di obati zero langsung mengeluarkan cahaya biru itu membuat rubah itu melayang. membuang rubah itu ke samping.


Klang


Zero mengarahkan rubah itu ke sangkar besar yang dia buat, dibawahnya terdapat kasur kecil untuk rubah itu. setelah itu zero kunci.


Zero mengambil sebaskom air menggunakan cahaya itu langsung menghampiri Raline. dia bersihkan darah yang menempel ditangan Raline.


Raline yang menerima itu hanya tersenyum, setidaknya walau marah zero tidak memukulnya. dia akan menjelaskan semuanya agar zero tidak salah paham.


"Sayang aku menemukan rubah itu disekitaran sini. dia terluka parah aku kasihan melihatnya, dia akan dibunuh tapi aku ga tau sama siapa.mungkin kamu bisa tanya tristan.aku harap dia jadi peliharaanku, boleh ya" ucap Raline menjelaskan semua tapi zero masih tetap tidak bergeming.


"Kamu tau ga rubah ekor sembilan itu hewan mitologi loh. hewan yang langka, atau bisa saja hewan yang ga pernah da didunia manapun, tapi aku ga nyangka kalau dia hidup di dunia beasts ini. jadi aku langsung tertarik padanya" lanjut Raline.


Zero yang awalnya diam langsung menatap tajam pada Raline. Raline yang ditatapnya terdiam karena dia salah mengucap.


"kau suka padanya apa kurangnya diriku? hem" ucap zero


"Maaf bukan suka seperti itu. maksudku suka yang emmm ... gimana yah jelasinnya. pokoknya sukanya aku sama kamu dan sukanya aku sama rubah itu berbeda. aku hanya suka kasihan ... yah suka kasihan" ucap Raline mencari alasan yang tepat, kalau tidak habislah dia.


"Kau suka padaku seperti apa?" zero yang masih ga mengerti apa yang dikatakan Raline hanya mengernyitkan kepalanya.


"Seperti ini" cup


Raline menyatukan benda kenyal itu di bibir zero. zero tersentak mendapatkan serangan dadakan dari Raline. tapi itu membuatnya senang. merasa dirinya lebih istimewa dimata Raline. walau kenyataan sebenarnya dia sudah menyiapkan hati untuk berbagi peran suami dengan Beastman lain tapi hati kecilnya menolak Raline dimiliki yang lain.


Akhirnya penyatuan itu pun terjadi hingga pagi menjelang. tidak tau berapa ronde. Raline seakan lupa akan niatnya tidak memberikan jatah tapi tubuh dan perasaanya berkata lain.