
" Apa wabah di selatan belom teratasi?" tanya Simon. sekarang Simon dan zero sedang di dalam ruang kerja. mereka sedang membahas tentang masalah yang di alami oleh para Beastman didunia Beasts.
" wabah itu semakin parah, para Beastman sekarang hanya tinggal menunggu keputusan dariku untuk bunuh diri masal. mereka rela mati asal keturunan mereka bisa selamat" ucap zero sambil memijat pelipisnya.
"Separah itukah?" ucap Simon.
"Ya semakin banyak korban, sebelum mereka mati, mereka merasa mual yang parah selama dua hari setelah itu mereka batuk darah dan dalam satu hari mereka akan mati" ucap Zero
"Apa wabah ini sengaja di buat?" tanya Zero mengutarakan pendapatnya.
"mustahil, selama ini yang berambisi memiliki dunia ini cuma kau" ucap zero.
"Ya aku sih tak memungkirinya, sejak ketemu Raline hidupku berubah, kau tau itulah. yah walau dia belum bisa menerimaku sepenuhnya. tapi lambat laun aku harap dia mau jdi pasangan sahku, aku tak mau memaksa, oiya aku baru ingat aku punya rekan yang sama ambisiusnya sama aku. sejak kabar kekalahanku beastman misterius itu menghilang" ucap Simon.
" Apa?? jadi kau bekerja sama dengan Beastman lain?" tanya zero memastikan.
"Ya aku sih sebenarnya hanya ingin memanfaatkanya saja. setiap ide yang dia keluarkan selalu bagus dan efektif aku suka. apa kau ingat saat aku menemukan Raline pertama kali? jalan yang dia buat itu idenya jadi aku bisa memantau semua gerak-gerik kalian dari lubang itu. kalian tidak menyangkakan" ucap Simon memanggakan diri sendiri.
"Benar, pantas aku tak yakin saat itu sebelum menemukan bulu serigala mu jatuh dua helai" ucap Zero meremehkan.
" Teliti sekali dirimu hanya dengan keyakinan dua helai buluku kau membantai banyak rakyatku" ucap Simon.
"Ya pantas saja sih kau menjadi raja diatas raja segalanya" ucap Simon kagum.
"Eh tunggu aku baru ingat terakhir kali Beastman misterius itu akan memberikan racun untukku racun tapi aku tidak tau racun seperti apa, katanya racun itu bisa memusnahkan para beastman tanpa kita bekerja keras, apa mungkin ..." lanjut Simon.
" Ya benar, aku akan memeriksa semua bersama satuan ahli ramuan" ucap zero langsung bangkit dari duduknya.
"Tunggu aku aja yang memastikan semua, aku yang lebih tau itu karena aku pernah melihatnya dan mencium aromanya kau yang jaga Raline. aku yang akan pergi ke selatan" ucap Simon.
" Baiklah, tapi pergilah pagi, pamit dulu pada Raline. selama ini dia juga tergantung padamu aku takut kau pergi tanpa pamit dia akan kecewa" ucap zero.
" Apakah kau sudah setuju padaku jadi pasangan raline" ucap Simon senang.
"mau tak mau, kau juga yang menolong Raline saat aku ga ada disampingnya. ambilah hatinya, aku akan membantumu. ini adalah ucapan terimakasih karena kau partner yang kompeten" ucap zero jujur, walau selama ini banyak beda pendapat tapi mereka tetap akur.
" Benarkah, baiklah" ucap Simon langsung berlalu.
Malam ini Raline sudah menidurkan rizef dan Eli disamping tempat tidurnya. disana terdapat ranjang bayi khusus untuk mereka berdua yang dulunya diletakkan batu mana.sedari tadi Raline menunggu zero dikamarnya tapi zero tak kunjung datang. karena rasa mengantuk mendera dia akhirnya terlelelap.
Di dalam tidurnya yang lelap Raline merasa ada sesuatu yang mencium ceruk lehernya yang membuat Raline merinding. semakin lama dirasa ada sesuatu yang menelusup masuk kedalam baju dan memegang dua gunung kembar yang membuat Raline semakin mengeluarkan suara merdunya. Saat membuka matanya.