Me And The Beasts

Me And The Beasts
14



"Siapkan pasukan untuk menjaga tempat ini dan buat tenda tenda darurat dilapangan ini" ucap Zero. Sekarang zero sudah berada ditempat lapangan yang luas yang dikelilingi pepohonan yang menjuntai tinggi, seperti pohon Cemara. Beastman gagak yang diperintahkan Zero bernama boy itu langsung melaksanakan tugas walau hujan masih belum mereda.


Dengan bantuan batu spiritual para Beastsman saling bantu membantu membuat tenda darurat untuk perlindungan para betinanya. Walau hujan ditengah malam mereka lakukan.Tidak membeda bedakan ras mereka.mereka jarang sekali berdebat tapi untuk kelangsungan hidup mereka, mereka mau bekerjasama.


Bestman yang lain mengumpulkan para betina dan membuat pasukan untuk menjaga para betina dari penculikan yang entah siapa yang berani berbuat seperti itu.


Saat sudah dini hari Zero sudah menyelesaikan semuanya. Hujanpun sudah reda Zero terbang ke rumah kayu yang ditempati Raline sementara. Dilihatnya Raline tetap masih tertidur dengan lelapnya. Zero membersihkan dirinya dengan caraha biru dan menghilangkan sayapnya sebelom menghampiri Raline.


Saat sampai dipinggir ranjang Zero langsung menidurkan tubuhnya disamping Raline. Zero membenamkan kepalanya diceruk leher Raline dengan mencium harumnya kulit Raline sambil menggigit sedikit kulit putih Raline. Raline yang terusikpun hanya bisa melenguh tanpa membuka matanya.


pagipun datang suara kicauan burung saling sahut menyahut, suara pepohonan yang tertiup angin dan harumnya tanah sisa hujan semalam membuat Raline mengerjapkan matanya. Samar samar melihat cahaya Matari menembuh jendela kamar itu.


"hahh ternyata sudah pagi" Raline yang ingin bangun tiba-tiba tertehan oleh lengan kekar. Saat Raline menoleh alangkah terkejutnya dia saat dia melihat Zero ada disamping. Raline hanya tersenyum membayangkan percintaan mereka semalam. dia langsung membalikkan badanya agar bisa leluasa menatap pasangannya secara intens.


Sangat lama dia menatap Zero saat tangan itu mau mnyentuh wajahnya tiba-tiba Zero membuka matanya. Tangan Raline terhenti seketika.


"pagi sayang"ucap zero sambil tersenyum manis pada raline.manisnya semanis gula hingga Raline ini memakannya.


"emm, pagi" ucap Raline tergugu langsung menarik tangannya. Raline yang menyadari sesuatu yang janggal langsung terkaget saat dia merasakan kalau dia tidak memakai benang sehelaipun dia langsung menutupinya dengan selimut tebal itu.


"Kenapa heh? malu? kenapa harus malu semalam sudah aku lihat semuanya dan aku rasakan malah!"ucap zero gamblang.


Raline tanpa kata langsung menutup mukanya dengan selimut itu untuk menutupi rona merah di pipinya. Ia benar benar sangat malu mengingat kejadian yang sebenarnya ingin dia tolak tapi tubuhnya tidak bisa dikondisikan. Tubuh menerima setiap sentuhan memabukkan yang diberikan zero padanya.


"emm aku mau mandi dulu"ucap Raline dibalik selimut.


"Baiklah, aku akan siapkan. tunggu sebentar." ucap zero langsung pergi menyiapkan air hangat untuk Raline. ya jangan ditanya menyiapkannya pasti menggunakan energi spiritual agar cepat dan mudah.


"Sayang airnya sudah siap" ucap zero saat dia duduk dipinggiran tempat tidur. Zero menarik selimut itu pelan.karena Raline terus menutup mukanya di dalam selimut. " ayolah keburu dingin" lanjut Zero.


"i-iya tapi ... tapi kamu keluar dulu aku malu" ucap Raline


" Baiklah aku kedepan nyiapin sarapan untukmu" ucap Zero. saat dia sudah ada didepan pintu. langkahnya terhenti saat mendengar suara jeritan Raline.


"aww" ucap Raline saat dia menahan sakit dipangkal pahanya. dia ingin berjalan tapi rasa sakit itu tak bisa di tahan. Raline masih melilitkan selimutnya ditubuhnya.


"Sayang kamu kenapa? apa masih sakit, perlu aku bantu?" zero panik saat melihat Raline menahan sakit. zero merasa bersalah dia yang mengakibatkan Raline sakit.


"Ah tidak apa-apa aku bisa sendiri" ucap Raline


Zero tidak menggubris perkataan Raline. zero langsung menggendong Raline ala bridal style menuju kamar mandi. disana sudah tersedia bak kayu dengan air hangat.


Zero melepaskan selimut yang melilit di tubuh Raline. Saat Raline benar benar telanjang zero mengangkat Ralinelalu dimasukkan ke bak kayu itu. dengan telaten Raline dimandikan oleh zero.