
"Jangan samakan aku dengan dia sayang" ucap zero.
"Aku lebih unggul dari pada kau" ucap simon.tapi dia menurut duduk disamping sebelah kiri Raline karena sebelah kanan ada zero. zero tidak mau kalau Raline dekat dekat dengan Simon. sehingga dia langsung mendekap Raline dalam pelukannya.
"Sayang seharusnya kau berterimakasih pada Simon, berkat dia aku dan anak kita selamat .... tunggu anakku mana?" ucap Raline saat dia baru sadar jika anaknya tidak ada didekatnya.
"Ada di sebalah, apa kau tidak sakit jika duduk seperti itu?" ucap Simon saat menyadari posisi Raline duduk didalam dekapan zero. dia menggenggam tangan Raline dia menyalurkan lagi energi spiritualnya karena takut Raline merasakan sakit perut lagi.karena energi itu Raline tidak merasakan sakit. tapi saat energi itu hilang rasa sakit itu sedikit demi sedikit ia rasakan.
"Apa anakku baik baik saja?" ucap Raline tanpa menjawab pertanyaan Simon.
"Tunggu apa maksudmu dia anakku? dimana anakku" teriak Zero menatap Simon dengan geram.
"Kau bisa kesanakan, apa karena sayapmu luka jadi tidak bisa kesana" ejek Simon menunjuk dengan tangannya.
Zero sangat geram mendapatkan ejekan seperti itu. dia mengepalkan tangannya erat. Raline yang menyadari kemarahan zero dia berusaha menenangkannya.
"Sayang bawa anak kita kesini biar Simon menjagaku." ucap Raline memegang tangan zero yang terkepal.
"Tapi aku tidak bisa biarkan dia ada disini, aku akan memberi perhitungan sama dia, karena dia berani menculikmu" geram zero.
"Sayang apa kau tidak mau bertemu dengan anak kita,hem? tenang saja dia tidak akan macam macam sama aku, percayalah" ucap Raline lembut.
"Baiklah aku segera kesana dan membawa kesini, setelah itu kita tinggalkan tempat ini" ucap zero.
"Tidak bisa! enak saja Raline juga pasanganku. kau ingin membawa pasanganku kemana? itu harus melalui persetujuanku"ucap Simon tegas.
"Apa? dia pasanganku lihat buktinya, dan mana buktimu kalau Raline pasanganmu?, kau hanya mengaku-ngaku saja, kau ..." ucap zero terpotong.
"Sayang lihatlah anak kita aku ingin melihatnya"ucap Raline memotong pembicaraan zero dan Simon. pertengkaran mereka tidak ada habisnya kalau tidak ada yang melerai.
Zero pun mengalah dia terpaksa meninggalkan Raline bersama Simon berdua walau hati merasa dongkol dan tidak terima.
diruangan itu tinggal mereka berdua. Raline yang masih dipegang tangannya oleh Simon untuk menyalurkan energinya. Raline yang saat itu setengah berbaring bersandarkan bantal bantal empuk yang entah sejak kapan zero memberikannya karena dia tahu apa yang dipikirkan Raline pasti akan terwujud.
Raline mengedarkan pandanganya keseluruh penjuru kamar itu. dia terkejut kamar yang tadinya rapih sekarang sangat berantakan dan bau darah yang g sangat menyeruak. terutama mayat Lucy yang tergeletak dilantai yang belum dipindahkan.
"Simon bukankan ini sangat miris, aku tidak suka pertikaian ataupun pertumpahan darah, lihatlah karena dendam atau ambisi, sahabat satu satunya yang kau miliki mati didepanmu. apa kau tidak merasa bersalah. demi menyelamatkanmu dia rela mati. aku tau kau tidak jahat kau masih punya hati nurani. Dan aku berterima kasih atas semua yang kau lakukan selama ini menjaga dan merawatku. aku akan melakukan apapun sesuai janjiku karena kau telah menyelamatkan anakku." ucap Raline.
"Aku hanya ingin kau bersamaku, aku baru saja ditinggalkan sahabatku dan juga kerabat satu satunya yangku punya, apa kau juga akan meninggalkanku juga? dia sudah menjemputmu apa kau akan pergi bersamanya tanpa membawaku?" ucap Simon.