Maximilian's Love

Maximilian's Love
Bab 7



Temui aku di kota malam ini ...


Begitu pesan Bonnie padanya , Anna harus naik kereta bawah tanah untuk mencapai kota  , ia tidak punya mobil sendiri , kereta akan lebih ekonomis baginya .


Bonnie sudah ada disana saat Anna sampai , gadis itu sedang menginjak puntung rokoknya dan tersenyum miring padanya .


" Hai..." Anna tersenyum , meremas tangannya sendiri , menahan debaran jantungnya .


" Hai Anna , kau siap ..?"


" Sangat siap "


Bonnie tersenyum lagi , entah apa yang ada dikepala Bonnie , ia seperti sedang berpikir tapi Anna tidak tahu .


Mereka menuju sebuah tempat hiburan malam , terlihat banyak sekali orang yang mengantri untuk masuk . Anna mencekal lengan Bonnie sebelum akhirnya langkah mereka terhenti .


" Bonnie , kenapa kita kesini..?" Anna tidak mengerti , ia pikir akan bekerja di suatu tempat , tapi klub sama sekali tidak ada dalam bayangannya .


" Kita kesini untuk bekerja Anna , kau tidak lupa kan ? Dan aku sudah memperingatkan mu , jika kau mau mundur sekarang , silahkan . Tapi maaf aku harus masuk dan bekerja !" Ucapan Bonnie seperti sedang kesal , gadis itu menarik lengannya . Berbalik dan hampir saja meninggalkan Anna yang berdiri kaku disitu .


Anna sudah menghabiskan sedikit uangnya untuk mencapai tempat ini , dia tidak akan membiarkannya pulang dengan tangan kosong , setidaknya ia harus mengantongi uang ketika pulang .


Anna sedikit berlari mengejar Bonnie , " Bonnie ! Hei tunggu .."


Bonnie berhenti dan berbalik menatap Anna , pandangan gadis itu masih sangat kesal padanya .


" Ap-pa! Aku hampir saja terlambat Anna ! Jangan membuang waktu ku !"


" Ok , maaf Bonnie , aku hanya gugup , tolong bawa aku pada pekerjaan itu ..." Anna memelas , berharap pada satu kesempatan terakhirnya .


Bonnie mengangguk kesamping , mengisyaratkan dia agar mengikutinya . Mereka tidak perlu repot-repot masuk dari pintu depan , sebuah pintu di belakang klub .  Setelah mereka melewati lorong sempit yang pengap dan banyak timbunan sampah .


Ada dua orang berjaga di pintu , pria berotot dengan wajah menyeramkan . Bonnie tersenyum pada mereka dan berkedip sekali , Anna tidak mengerti , apakah itu kode untuk masuk kesini .


Dua orang menyeramkan itu memindainya dengan mata telanjang mereka , tapi Bonnie mengisyaratkan kalau Anna bersamanya , dan mereka mengerti .


Banyak hiruk pikuk orang disana , lebih tepatnya gadis gadis , mereka memasuki sebuah lorong dengan pendar cahaya lampu kekuningan kuningan .


Seorang pria berotot lainnya berdiri di depan sebuah pintu , pria itu lebih terlihat tampan dari pada menakutkan .


" Drake , ini Anna , temanku . Dia akan bekerja disini " Bonnie meraih lengannya dan menariknya kedepan Drake .


Anna tersenyum kikuk , tidak tahu apa yang harus ia lakukan . Drake memindainya dengan tatapan mata tajam , dari ujung rambut sampai ujung kaki . Pria itu menyentuh dagunya seolah ada jambang panjang disana .


Drake mengangguk , " ok Anna , kau cukup manis , seperti namamu . Kau bisa langsung bekerja , Bonnie , pastikan dia mendapatkan seragamnya ..."


Anna bernafas lega , tidak menyangka melamar pekerjaan disini ternyata cukup mudah , hanya perlu dipindai dengan mata .


Bonnie menyeretnya kedalam , banyak meja rias berjejer dengan kaca berlampu . Mereka memasuki sebuah ruangan lagi , banyak baju tergantung , Bonnie mengambil satu untuk dirinya dan satu untuk Anna .


Anna menerimanya dengan wajah bingung , itu gaun hitam berkilau dengan potongan rendah . Anna tidak mengerti , yang dimaksud seragam adalah gaun minim ini .


" Pakai itu ..." Perintah Bonnie .   Anna pergi ke ruang ganti dan mengganti bajunya , meski ada beribu pertanyaan di benaknya .


Baju itu menempel erat ditubuhnya , setengah payudaranya terpampang keluar , Anna menelan ludahnya , seumur hidup ia tidak pernah berpakaian seksi seperti ini .


Anna keluar dan disambut dengan siulan memuja Bonnie , gadis itu tak kalah seksi , baju merahnya menampilkan payudara dan setengah pahanya .


" Aku tidak menyangka , kau punya tubuh yang bagus Anna " Anna menggeleng , risih dengan tatapan mata Bonnie , meski mereka sesama wanita.


" Bonnie kau yakin , dengan seragamnya..., Aku ..."


" Anna , jika kau ragu , kau bisa mundur saat ini juga .. " Anna menatap matanya Bonnie , entah sudah berapa kali , gadis itu memperingatkannya .


" Kau harus kuat Anna , aku yakin kau bisa , ayolah sudah terlalu banyak drama disini , kita harus bersiap " Bonnie menuntunnya duduk di depan kaca berlampu , tidak menyangka tubuh seksi itu miliknya , selama ini ia selalu berkutat dengan sweater kebesaran .


" Tidak masalah kalau  kita menyingkirkan ini ..?" Bonnie mengambil kacamatanya , mata Anna hanya sensitif pada tulisan berskala kecil , tidak masalah jika ia berjalan tanpa kacamata .


Anna menggeleng , " ok .."


Bonnie meriasnya , Anna memejamkan mata , sebenarnya ia bisa merias dirinya sendiri , tapi hasilnya tidak memuaskan Bonnie . Bonnie bilang itu terlalu natural .


Anna terbelalak menatap wajahnya sendiri di cermin , rambut pirangnya tergerai didepan dada , dicermin itu adalah wanita cantik dengan dandanan mencolok , terdapat eye shadow Glitter di kelopak matanya , tulang pipinya disapu dengan warna merah pudar , dan bibirnya semerah darah , tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan dan kelembutannya .


Bonnie berdecak kagum pada hasil karyanya , " sudah kuduga kau sangat menakjubkan , kita akan pulang dengan banyak uang Anna " Bonnie tersenyum sumringah , Anna tidak mengerti apakah ia boneka yang akan dipajang , jika kecantikannya adalah kuncinya mendapatkan uang .


______


Maxim menenggak brendi ditangannya , ia butuh pelampiasan setelah kedatangan Julia pagi ini di studionya . Gadis itu berjalan seolah tidak terjadi apa apa diantara mereka .


Maxim berusaha mengontrol emosi ketika kilatan cahaya kamera masih menghujaninya . Angela juga tampak kaget dengan kedatangan Julia , setelah pagi ini mendapat Omelan dan curhatan Maxim tentang kekasihnya yang berselingkuh dan ban cadangannya yang menghilang . Soal ban , Angela akui memang dialah yang teledor . Tapi soal Julia , dia sama sekali tidak tahu , jika gadis ini ternyata berhati buruk seperti dugaannya .


" Sedang apa kau disini ..?" Maxim melotot tajam pada Julia .


" Oh , Maxim sayangku ..." Julia berusaha berlari kepelukan Maxim , tapi pria itu menepisnya . Julia merenggut .


" Hentikan omong kosong mu , Julia!"


" Maxim , tenanglah , kau tidak takut akan ada gosip diantara kita ..?"


" Persetan dengan gossip ! " Dan semua orang kini melihat kearahnya .


" Sekarang pergi dari hadapanku , jangan pernah muncul lagi di depan wajahku..!" Imbuh Maxim lagi , mata pria itu melotot tajam .


Julia menggeleng , gadis itu terisak  air mata mengalir diatas pipinya .


" Maxim , please... maafkan aku , aku janji tidak akan..."


" Stop Julia ! Aku tidak akan mentolerir perselingkuhan , kau sudah tidur dengannya , dan aku muak dengan mu!"


Julia melotot , ia menghapus air mata seketika , amarahnya mendidih .


" Jhon ! Bawa wanita ini keluar , jangan biarkan dia masuk keruangan ini lagi !" Seorang bodyguard yang sejak tadi berdiri mengawasi , mengangguk paham pada Maxim .


Julia melotot dan meronta saat tangan kasar Jhon menarik lengannya , ia berusaha melepaskan diri tapi usahanya sia sia .


" Kita belum selesai Maxim ! Aku akan membalasmu ..!" Teriakkan Julia menghilang di balik pintu , Maxim mengusap wajahnya kasar .


Dan sekarang dia ada di bar menyesap brendinya , ketika temannya Rocco berjalan kearahnya .


" suasana hati mu sepertinya sedang buruk .." Rocco menatap wajahnya kemudian brendi ditangannya .


Maxim tidak perlu menjawab , ia menenggak brendinya lagi .


" Soal wanita huh ?" Tanya Rocco lagi , Maxim mengedipkan mata seolah itu adalah sebuah anggukan kepala .


Rocco menepuk pundaknya sambil tertawa , Maxim selalu suka sahabat seperti Rocco . Pria itu tidak pernah menghakimi ataupun mengorek informasi , tapi Rocco selalu punya cara menghilangkan kepenatannya .


" Ada banyak wanita disini bung , ayolah bersenang-senang lah..." Rocco mengedipkan matanya , menunjuk beberapa wanita yang sejak tadi mengawasinya , menunggu untuk menyentuhnya .


Perasannya terhadap wanita tiba tiba menguap begitu saja , ketika matanya menangkap sosok wanita seksi yang menggeliat di pangkuan seorang pria .