
Temui aku di kota malam ini ...
Begitu pesan Bonnie padanya , Anna harus naik kereta bawah tanah untuk mencapai kota , ia tidak punya mobil sendiri , kereta akan lebih ekonomis baginya .
Bonnie sudah ada disana saat Anna sampai , gadis itu sedang menginjak puntung rokoknya dan tersenyum miring padanya .
" Hai..." Anna tersenyum , meremas tangannya sendiri , menahan debaran jantungnya .
" Hai Anna , kau siap ..?"
" Sangat siap "
Bonnie tersenyum lagi , entah apa yang ada dikepala Bonnie , ia seperti sedang berpikir tapi Anna tidak tahu .
Mereka menuju sebuah tempat hiburan malam , terlihat banyak sekali orang yang mengantri untuk masuk . Anna mencekal lengan Bonnie sebelum akhirnya langkah mereka terhenti .
" Bonnie , kenapa kita kesini..?" Anna tidak mengerti , ia pikir akan bekerja di suatu tempat , tapi klub sama sekali tidak ada dalam bayangannya .
" Kita kesini untuk bekerja Anna , kau tidak lupa kan ? Dan aku sudah memperingatkan mu , jika kau mau mundur sekarang , silahkan . Tapi maaf aku harus masuk dan bekerja !" Ucapan Bonnie seperti sedang kesal , gadis itu menarik lengannya . Berbalik dan hampir saja meninggalkan Anna yang berdiri kaku disitu .
Anna sudah menghabiskan sedikit uangnya untuk mencapai tempat ini , dia tidak akan membiarkannya pulang dengan tangan kosong , setidaknya ia harus mengantongi uang ketika pulang .
Anna sedikit berlari mengejar Bonnie , " Bonnie ! Hei tunggu .."
Bonnie berhenti dan berbalik menatap Anna , pandangan gadis itu masih sangat kesal padanya .
" Ap-pa! Aku hampir saja terlambat Anna ! Jangan membuang waktu ku !"
" Ok , maaf Bonnie , aku hanya gugup , tolong bawa aku pada pekerjaan itu ..." Anna memelas , berharap pada satu kesempatan terakhirnya .
Bonnie mengangguk kesamping , mengisyaratkan dia agar mengikutinya . Mereka tidak perlu repot-repot masuk dari pintu depan , sebuah pintu di belakang klub . Setelah mereka melewati lorong sempit yang pengap dan banyak timbunan sampah .
Ada dua orang berjaga di pintu , pria berotot dengan wajah menyeramkan . Bonnie tersenyum pada mereka dan berkedip sekali , Anna tidak mengerti , apakah itu kode untuk masuk kesini .
Dua orang menyeramkan itu memindainya dengan mata telanjang mereka , tapi Bonnie mengisyaratkan kalau Anna bersamanya , dan mereka mengerti .
Banyak hiruk pikuk orang disana , lebih tepatnya gadis gadis , mereka memasuki sebuah lorong dengan pendar cahaya lampu kekuningan kuningan .
Seorang pria berotot lainnya berdiri di depan sebuah pintu , pria itu lebih terlihat tampan dari pada menakutkan .
" Drake , ini Anna , temanku . Dia akan bekerja disini " Bonnie meraih lengannya dan menariknya kedepan Drake .
Anna tersenyum kikuk , tidak tahu apa yang harus ia lakukan . Drake memindainya dengan tatapan mata tajam , dari ujung rambut sampai ujung kaki . Pria itu menyentuh dagunya seolah ada jambang panjang disana .
Drake mengangguk , " ok Anna , kau cukup manis , seperti namamu . Kau bisa langsung bekerja , Bonnie , pastikan dia mendapatkan seragamnya ..."
Anna bernafas lega , tidak menyangka melamar pekerjaan disini ternyata cukup mudah , hanya perlu dipindai dengan mata .
Bonnie menyeretnya kedalam , banyak meja rias berjejer dengan kaca berlampu . Mereka memasuki sebuah ruangan lagi , banyak baju tergantung , Bonnie mengambil satu untuk dirinya dan satu untuk Anna .
Anna menerimanya dengan wajah bingung , itu gaun hitam berkilau dengan potongan rendah . Anna tidak mengerti , yang dimaksud seragam adalah gaun minim ini .
" Pakai itu ..." Perintah Bonnie . Anna pergi ke ruang ganti dan mengganti bajunya , meski ada beribu pertanyaan di benaknya .
Baju itu menempel erat ditubuhnya , setengah payudaranya terpampang keluar , Anna menelan ludahnya , seumur hidup ia tidak pernah berpakaian seksi seperti ini .
Anna keluar dan disambut dengan siulan memuja Bonnie , gadis itu tak kalah seksi , baju merahnya menampilkan payudara dan setengah pahanya .
" Aku tidak menyangka , kau punya tubuh yang bagus Anna " Anna menggeleng , risih dengan tatapan mata Bonnie , meski mereka sesama wanita.
" Bonnie kau yakin , dengan seragamnya..., Aku ..."
" Anna , jika kau ragu , kau bisa mundur saat ini juga .. " Anna menatap matanya Bonnie , entah sudah berapa kali , gadis itu memperingatkannya .
" Kau harus kuat Anna , aku yakin kau bisa , ayolah sudah terlalu banyak drama disini , kita harus bersiap " Bonnie menuntunnya duduk di depan kaca berlampu , tidak menyangka tubuh seksi itu miliknya , selama ini ia selalu berkutat dengan sweater kebesaran .
" Tidak masalah kalau kita menyingkirkan ini ..?" Bonnie mengambil kacamatanya , mata Anna hanya sensitif pada tulisan berskala kecil , tidak masalah jika ia berjalan tanpa kacamata .
Anna menggeleng , " ok .."
Bonnie meriasnya , Anna memejamkan mata , sebenarnya ia bisa merias dirinya sendiri , tapi hasilnya tidak memuaskan Bonnie . Bonnie bilang itu terlalu natural .
Anna terbelalak menatap wajahnya sendiri di cermin , rambut pirangnya tergerai didepan dada , dicermin itu adalah wanita cantik dengan dandanan mencolok , terdapat eye shadow Glitter di kelopak matanya , tulang pipinya disapu dengan warna merah pudar , dan bibirnya semerah darah , tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan dan kelembutannya .
Bonnie berdecak kagum pada hasil karyanya , " sudah kuduga kau sangat menakjubkan , kita akan pulang dengan banyak uang Anna " Bonnie tersenyum sumringah , Anna tidak mengerti apakah ia boneka yang akan dipajang , jika kecantikannya adalah kuncinya mendapatkan uang .
______
Maxim menenggak brendi ditangannya , ia butuh pelampiasan setelah kedatangan Julia pagi ini di studionya . Gadis itu berjalan seolah tidak terjadi apa apa diantara mereka .
Maxim berusaha mengontrol emosi ketika kilatan cahaya kamera masih menghujaninya . Angela juga tampak kaget dengan kedatangan Julia , setelah pagi ini mendapat Omelan dan curhatan Maxim tentang kekasihnya yang berselingkuh dan ban cadangannya yang menghilang . Soal ban , Angela akui memang dialah yang teledor . Tapi soal Julia , dia sama sekali tidak tahu , jika gadis ini ternyata berhati buruk seperti dugaannya .
" Sedang apa kau disini ..?" Maxim melotot tajam pada Julia .
" Oh , Maxim sayangku ..." Julia berusaha berlari kepelukan Maxim , tapi pria itu menepisnya . Julia merenggut .
" Hentikan omong kosong mu , Julia!"
" Maxim , tenanglah , kau tidak takut akan ada gosip diantara kita ..?"
" Persetan dengan gossip ! " Dan semua orang kini melihat kearahnya .
" Sekarang pergi dari hadapanku , jangan pernah muncul lagi di depan wajahku..!" Imbuh Maxim lagi , mata pria itu melotot tajam .
Julia menggeleng , gadis itu terisak air mata mengalir diatas pipinya .
" Maxim , please... maafkan aku , aku janji tidak akan..."
" Stop Julia ! Aku tidak akan mentolerir perselingkuhan , kau sudah tidur dengannya , dan aku muak dengan mu!"
Julia melotot , ia menghapus air mata seketika , amarahnya mendidih .
" Jhon ! Bawa wanita ini keluar , jangan biarkan dia masuk keruangan ini lagi !" Seorang bodyguard yang sejak tadi berdiri mengawasi , mengangguk paham pada Maxim .
Julia melotot dan meronta saat tangan kasar Jhon menarik lengannya , ia berusaha melepaskan diri tapi usahanya sia sia .
" Kita belum selesai Maxim ! Aku akan membalasmu ..!" Teriakkan Julia menghilang di balik pintu , Maxim mengusap wajahnya kasar .
Dan sekarang dia ada di bar menyesap brendinya , ketika temannya Rocco berjalan kearahnya .
" suasana hati mu sepertinya sedang buruk .." Rocco menatap wajahnya kemudian brendi ditangannya .
Maxim tidak perlu menjawab , ia menenggak brendinya lagi .
" Soal wanita huh ?" Tanya Rocco lagi , Maxim mengedipkan mata seolah itu adalah sebuah anggukan kepala .
Rocco menepuk pundaknya sambil tertawa , Maxim selalu suka sahabat seperti Rocco . Pria itu tidak pernah menghakimi ataupun mengorek informasi , tapi Rocco selalu punya cara menghilangkan kepenatannya .
" Ada banyak wanita disini bung , ayolah bersenang-senang lah..." Rocco mengedipkan matanya , menunjuk beberapa wanita yang sejak tadi mengawasinya , menunggu untuk menyentuhnya .
Perasannya terhadap wanita tiba tiba menguap begitu saja , ketika matanya menangkap sosok wanita seksi yang menggeliat di pangkuan seorang pria .