Maximilian's Love

Maximilian's Love
Bab 2



Maxim menegakkan tubuhnya karena terkejut , bibirnya bahkan berkedut karena itu . Angela memberinya tatapan mata menguatkan , lalu menghirup nafas panjang .


" Mereka telah memutuskan , Maxim ... kita harus puas dengan ibumu menjadi tahanan kota ..."


Maxim menundukkan wajahnya , kedua tangannya berada di wajahnya . Angela tahu bagaimana perasaan bosnya , jadi dia menunggu sejenak agar Maxim bisa menguasai dirinya .


" Lalu bagaimana dengan yang lainnya...?" Tanya Maxim penuh harap .


" Para anak buah Tom , mereka mendapatkan vonis berbeda beda , tapi aku meyakinkan padamu bahwa akan sangat lama ketika mereka keluar dari penjara ..."


" Yah mereka pantas mendapatkannya ..." Wajah Maxim tersenyum puas .


" Kau tahu , aku bahkan bersyukur ketika Tom tertembak mati dalam pengejarannya , oh tuhan apakah aku terlihat terlalu kejam " wajah Angela berbinar lalu dalam sekejap berubah muram .


" Jangan khawatir , kau tidak terlihat kejam , semua itu keinginan si tua itu " Maxim masih ingat ketika ia dulu masih ada di Washington, tinggal bersama ibunya dan suaminya Tom , pria tua itu selalu berseloroh bahwa ia tidak akan pernah tertangkap . Dan pria itu bertaruh bahwa, lebih baik dia mati dari pada harus hidup dibalik jeruji .


" Ya aku tidak pernah menyangka , ada orang punya keinginan seperti itu .." Maxim menggedikkan bahunya , ia juga tidak mengerti .


" Oh ya apakah kau akan mengajukan banding ? " Maxim menoleh padanya , tidak mengerti arah pembicaraannya .


" Maaf ..."


" Maksudku ibumu ... "


Maxim diam sejenak sebelum akhirnya ia menggeleng mantap .


" Aku rasa kita sudah cukup puas , melihatnya hidup tanpa Tom dan aset asetnya ... "


Maxim menyandarkan lagi tubuhnya pada kursi malas , dia sedih harus melakukan ini pada ibunya , orang yang telah melahirkannya kedunia . Tetapi ibunya tidak memberinya pilihan akan itu , wanita itu menggila begitu tahu ia masih hidup dan mungkin akan menghancurkan hidupnya .


Dulu sejenak mungkin Maxim akan melupakan kejadian kekerasan itu , dengan ibunya dibalik semua itu . Tapi suatu ketika ibunya mencoba untuk menyakiti sepupunya Jocey dalam masa pelarian nya di Seattle  , Maxim tidak bisa berpikir dua kali lagi untuk menyeret ibunya dibalik jeruji besi .


Maxim bersyukur bahwa Jocey saat itu tidak terluka dan masih bisa diselamatkan . Maxim dibantu Lucas Stryder , suami Jocey menghubungi FBI dan melaporkan segala kejahatan Tom dan Donna , ibunya . Dengan semua bukti yang ada , dan kesaksian Maxim dan Jocey sebagai korban , memudahkan FBI menciduk Tom dan anak buahnya . Tapi sialnya Tom berhasil melarikan diri sebelum FBI berhasil menangkapnya , FBI berusaha melemparkan tembakan peringatan tapi Tom mengabaikannya . Pria tua itu malah membalas tembakan asal dari senjata api ilegalnya , dan pelurunya berhasil mengenai pundak salah satu petugas . FBI tidak bisa  menunggu  lagi , akan ada lebih banyak korban lagi jika pria itu tidak dihentikan .


Tiga peluru bersarang di dada Tom , pria itu jatuh tersungkur dan nyawanya bahkan tidak bisa tertolong dalam perjalanan . Maxim geram karena Tom harus mati begitu mudah sementara ia dan sepupunya harus menderita cukup lama .


Ibunya didakwa atas pencucian uang dan serangkaian penculikan Jocey dan dirinya , tapi sialnya perempuan itu lagi lagi bisa lepas dari semua dakwaan . Bukti yang ada sangat kecil , perempuan itu tidak pernah melakukan kejahatannya sendiri , dia selalu mencuci tangannya dan menggunakan anak buah Tom sebagai alat kejahatannya .


Hakim dan para juri hanya bisa menjatuhi hukuman Donna sebagai tahanan kota . Maxim meremas rambutnya frustasi , Angela yang khawatir mengguncang tubuhnya pelan .


" Maxim...kau tidak apa-apa kan..." Maxim mendongak menatap Angela , ada kekhawatiran di mata wanita itu .


" Aku ok , Angela . Jangan khawatir ..." Maxim berusaha menyakinkan  Angela .


Maxim berdiri menyudahi kemalasannya , ia menyambar baju gantinya yang telah Angela siapkan untuknya . Pria itu berganti pakaian dalam sekejap , celana jeans yang memeluk kakinya dengan indah serta kaos oblong putih dan jaket kulit hitam menutupi otot otot bisep nya .


" Aku rasa aku akan mengunjungi Julia ..." Ucap Maxim di lorong .


Angela  menggeram , bukannya dia tidak bisa menerima kekasih Maxim , tapi Julia adalah tipe wanita yang tidak bisa menghargai orang lain .


" Tidak sebelum kau melihat dokumen ini ..."


Maxim melihat sebuah map ditangan Angela , dia melihat sebagian orang telah siap berkemas pulang meninggalkan studio .


" Apa itu ? Kontrak baru ? " Maxim meraihnya  , membacanya dalam sekejap .


Mata Maxim memicing , Stryder Group memintanya menjadi brand ambassador? Apa dia tidak salah lihat ? Maxim tahu bahwa ia pernah bersatu dengan Luke melawan Tom , membalas dendam atas yang terjadi pada istrinya , tapi hanya sebatas itu .


Luke masih membencinya karena kejadian dimasa lalu , dan karena ia pula Jocey harus terseret dalam masalahnya . Dan Luke tidak mau itu terjadi lagi , meskipun kehidupan Maxim sudah sangat berubah sekarang .


Ia memutuskan kembali lagi ke Philadelphia tanah kelahirannya dan memulai karirnya sebagai model . Dan ia tidak pernah mengira karirnya akan secepat ini meroket , sudah satu tahun ini ia menjadi model untuk brand sebuah  pakaian dalam terkenal . Belum beberapa merek perawatan wajah untuk pria , semua itu belum termasuk pemotretan pemotretan kecil lainnya .


" Kau akan menandatanganinya?..." Tanya Angela penasaran .


Maxim akui kontrak itu sangat fantastis , nilainya melebihi pundi-pundi uang yang ia kumpulkan selama setahun . Tapi ini adalah Stryder Group . Hati Maxim masih menimbang nimbang .


" Maxim...kau mendengarku.. " Angela menggoyahkan lamunannya .


" Um..   aku tidak tahu , bagaimana menurutmu...?"


" Aku pikir kau perlu menerimanya , kita akan menjadi jutawan setelah ini bung ..."


" Entahlah Angela , aku pikir hal ini tidak mungkin , bagaimana mungkin ******** itu mau bekerja denganku .."


Maxim meraih ponselnya , dari saku celana . Memanggil Luke pada dering pertama .


" Aku harap ini penting.." suara Luke di ujung sana , masih terlihat kesal .


" Aku rasa aku yang harus mengatakan hal itu ..." Jawab Maxim tak kalah sengit .


" Sialan masalah apa ini ? Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong mu ..." Serius jika bukan karena Jocey , mungkin Maxim sudah menghajar mulut sombong Luke .


" Lalu semua kontrak ini adalah omong kosong!" Maxim mengibaskan kontrak ditangannya , seolah Luke bisa melihat itu .


Maxim bisa mendengar hembusan nafas Luke  , " yah semua itu karena sepupu mu , aku tidak akan pernah melakukannya jika buka karena dia .."


" Bagaimana kalau aku menolaknya ..?" Ancam Maxim .


Luke tertawa diujung sana. " Itu terserah padamu bung , tapi aku tidak yakin apakah Jocey akan senang mendengar ini .. "


Pikiran Maxim mengambang di udara , sekarang sudah jelas bahwa sepupunya lah dibalik semua ini .


" Kalian membicarakan ku..." Maxim menoleh dan kaget ketika Jocella sudah ada dibelakang Angela . Begitu juga Angela  , wanita itu tak kalah kagetnya .


Maxim mengalihkan pandangannya dari Jocey ke ponselnya lagi , panggilan itu sudah berakhir bahkan tanpa ia sadari .


" Sedang apa kau disini..?"


" Itu kata yang salah Maxim , harusnya kau bilang ' halo sepupu' atau apa " Jocey terlihat kesal .


" Hai Jocey , bagaimana kabar kalian...?" Sapa Angela ramah , wanita itu memandang Jocey lalu benjolan kecil diperutnya .


" Oh terima kasih Angela kau adalah yang terbaik .." Jocey melirik sinis pada sepupunya . Kedua wanita itu saling peluk dan memberikan ciuman di pipi , Angela tak lupa mengelus lembut perutnya .


" Bagaimana kehamilan mu .." ucap Angela lagi ketika Jocey sudah duduk di sebelahnya .


" Ini menyenangkan tapi aku masih saja muntah dipagi hari ..." Keluh Jocey , ia membelai perutnya sendiri .


Maxim mengeluarkan suara protesnya ketika dua wanita itu mengabaikannya .


" Kau belum menjawab pertanyaan ku , sedang apa kau disini dan kontrak sialan apa ini ...?" Maxim menyodorkan kontrak itu di depan sepupunya .


" Aku hanya kebetulan lewat sini dan kebetulan ingin mengunjungimu dan kontrak itu , aku pikir kau sangat cocok menjadi brand kami , kau muda dan sedang bersinar . Apa salahnya  .." ucap Jocey enteng .


" Kau tahu ini tidak akan berhasil , aku tidak akan pernah bisa bekerja dengan Luke " 


" Secara teknis kau tidak akan bekerja dengannya secara langsung ..."


Maxim menarik nafas dan menaruh kedua tangannya diatas pinggang .Ia tahu Jocey mengandalkannya , mata wanita itu berbinar menatapnya . Membuatnya tidak punya pilihan selain menerimanya .


" Dengar , aku melakukan ini bukan karena aku menyukainya , tapi tidak lebih karena mu ..." 


Wajah Jocey berbinar lagi , wanita itu bangkit dan mencium pipinya . " Thanks brother , aku sangat menghargainya . Aku harap kau dan Luke menyudahi ketegangan ini " Jocey meraih tasnya bersiap pergi .


" Aku akan mengantarmu ..." Maxim meraih kuncinya .


" Emm, tidak terima kasih , aku mengajak Mike bersama ku ..." Ucap Jocey , wanita itu menunjuk ke pintu dan Mike muncul mengangguk padanya . Pria yang sama ketika ia berada di rumah sakit , Jocey bersamanya juga saat itu . Pria yang pernah Maxim kira adalah kekasih Jocey , dan Maxim tidak pernah menyangka jika pria itu dibayar oleh Jeremy Stryder , mertua Jocey untuk menjaga Jocey di Seattle .


" Bye sepupu , berjumpa lagi dengan mu nanti .." Jocey melenggang meninggalkannya , pengawalnya mengikutinya dari belakang .


Maxim berbalik dan mendapati Angela melihatnya dengan tatapan aneh .


" Apa ?"


" Aku bertanya tanya , terbuat dari apa hati wanita itu ..."


" Aku tidak tahu ..." Sebenarnya Maxim tidak tahu arah pembicaraan Angela .


" Hmm aku rasa hatinya terbuat dari emas .. " Angela menepuk pelan pelipisnya dengan pulpen ditangannya .


" Yah aku rasa ,.." Maxim mulai mengerti kemana pembicaraan ini mengarah .


" Jika tidak , kau tidak akan pernah berdiri disini ..." Maxim mengangguk , apa jadinya ia jika saat itu Jocey membencinya atas semua perbuatannya dan tidak pernah menyelamatkannya .


Tapi wanita itu melakukan sebaliknya , sehingga ia bisa berdiri dengan sehat disini .