
" Apa yang kau sembunyikan dariku Maxim ...?" Brady masih sama , selalu berterus terang , mata pria itu tidak pernah terlepas darinya .
Maxim meneguk segelas wine di tangannya , sejak makan malam tadi Anna terus saja menghindarinya . Mengambil kursi di seberangnya , Maxim hanya bisa mengeraskan rahangnya ketika wanita itu tertawa dan berbincang dengan Rocco . Rocco benar benar sialan , apa ia lupa tentang kata kata jangan dekati Anna . Awas saja Maxim akan mencekiknya nanti .
" Tidak ada , aku sudah memberi tahu semuanya padamu ..." Brady tertawa tanpa suara .
" Dengar Max ,...aku tahu siapa kau , dan aku tidak buta , sepanjang malam ini kau mengawasinya seperti seekor mangsa ..."
" Aku tidak.." Maxim menggeleng setelahnya , tapi terasa sakit saat ia mengingkarinya .
" Ya kau seperti itu , dengar kau baru saja putus dari Julia , dan Anna bukan gadis seperti itu ..."
Darah Maxim mendidih , ia tidak pernah menganggap Anna seperti Julia , meskipun dulu ia pernah mencintai Julia , dua orang itu sangat berbeda . Julia adalah gadis manja , sedang Anna gadis yang mandiri . Jika dulu ia menyayangi Julia , dan hanya sebatas itu . Julia datang saat ia sedang kesepian , mewarnai hari harinya , sampai akhirnya wanita itu menyakitinya , tak ada yang tersisa untuk Julia , bahkan rasa benci sekalipun .
Sedangkan Anna , gadis itu berbeda , tentu saja dia manis , dan cantik , ia baru menyadarinya di malam mereka bertemu pertama kali . Gadis itu membencinya disaat gadis lain bahkan mengejarnya tanpa ia minta , dan Maxim ingin sekali melindunginya . Membayangkan Anna setiap malam pulang larut dan mungkin saja bill dan David akan mengganggunya lagi . Yang jelas Maxim ingin ada disetiap hari gadis itu .
" Tentu saja Anna tidak seperti itu , aku tidak ingin menyakitinya ..."
" Dulu saat Cash Hunt sekarat , ia pernah meminta ayah untuk menjaganya . Anna sudah tidak punya siapa siapa Maxim , jika kau membuatnya terluka , mungkin ayah akan menodongkan senapannya di depan wajahmu . Tidak peduli jika itu kau , Anna sudah seperti putri kecil baginya ..."
Maxim terdiam , ia tidak pernah tahu bagaimana Cash Hunt , ayah Anna meninggal . Pria itu , pria yang baik , Cash Hunt tidak pernah marah padanya meski Maxim sering menyebabkan kesulitan untuk Anna . Ia menyesal tidak sempat mengucapkan permintaan maaf pada Cash Hunt , Maxim berhutang banyak padanya .
" Kenapa kau tidak pernah memberi tahu ku ketika pria itu meninggal ...?" Alis Brad saling menyatu , itu bukan jawaban yang ia harapkan dari Maxim . Tapi ia rasa Maxim pun sudah mengerti ucapannya tadi , Brady melihat raut sedih dimata adiknya , ketika ia bertanya tentang kematian Cash Hunt .
" Kau tidak pernah bertanya ..."
" Maafkan aku , aku pikir semuanya baik baik saja ..." Maxim menerawang jauh , matanya menangkap sosok Anna yang sekilas mencuri pandang padanya .
" Bukan salahmu Max , Cash meninggal saat kau masih bersama ibu , di Washington ..." Hati Maxim sedikit tercubit saat Brady mengungkit soal ibu mereka . Dan Anna membuang wajahnya menatap kedua kakinya saat pandangan mereka bertemu .
" Siapa yang meninggal..." Kedua bersaudara itu saling menoleh ketika Angela mendekat kearah mereka dan memeluk Maxim . " Hai tampan..." Angela berkedip pada Brady dan nafas alkoholnya mencemari penciuman Brady dan Maxim .
" Sial wanita ini mabuk , Jika sadar ia tidak mungkin memanggilku seperti itu .." Brady menghindari tatapan mata Angela , Maxim merangkul wanita itu mencegah Angela goyah dan tersandung kakinya sendiri .
" Yah , dia masih kesal padamu karena kau tidur dengan sepupunya ..., tunggu aku akan menelpon Nate .." Maxim meraih ponsel di saku celananya menggunakan satu tangannya yang bebas .
Brady mencibir , " ketahuilah dia tidak kesal , dia hanya cemburu ..." Mereka tertawa bersama , sedang Angela mengernyit tidak mengerti kemudian ia mulai cegukan mabuknya .
" Kau tidak akan pernah meniduri managerku Brad , itu larangan .." Maxim melotot pada Brady , dan Brady hanya melengos tidak peduli .
" Yah aku tidak tertarik pada perempuan bertunangan ..." Maxim hanya meliriknya ketika Nate mengangkat panggilannya .
_________
" Jangan menatapnya seperti itu , Angela hanya managernya , dan dia sudah bertunangan ..."
Anna gelagapan saat Jocey berbisik di telinganya , menangkap basah dirinya sedang terpaku menangkap tiga sosok di sebrang kolam renang . Wanita cantik itu berjalan menghampiri Lockwood bersaudara lalu jatuh di pelukan Maxim . Apa wanita itu mabuk , agar bisa memeluk Max ? Cara yang murahan sekali , pikirnya .
" Tidak , apa..?! Apa yang kau maksud , aku tidak menatap siapa pun .."
" Ya kau menatapnya , tidak hanya sekali , kau melakukannya berkali kali saat makan malam dan Rocco sampai bosan padamu karena kau tidak melihat dia bicara ..."
Wajah Anna merona , sial baginya karena Jocey menyadarinya . " Aku tidak ..., Aku hanya kesal sore ini aku melihat foto ku di internet , tapi aku bersyukur karena wajah ku tidak terlihat disana . Coba bayangkan jika sampai wajahku tersebar luas berpelukan dengannya ,..." Mata Anna mengarah pada Maxim .
" Dan aku kesal kenapa ia memukul gadis itu , tidak bisakah ia bicara baik baik , jika ini hanya salah paham . Orang orang bahkan mengira akulah penyebab semuanya ..." Anna tertunduk lesu , Jocey dengan tenang menyentuh bahunya .
" Kurasa kau sudah termakan gosip Anna ..."
" Aku mengenal Max , Jocey . Tidak mungkin itu hanya gosip , dia bahkan pernah memukulmu dulu . " Itu benar , dan Jocey masih ingat betul kejadian itu .
" Itu dulu sayang , Maxim sudah berubah , banyak yang tidak kau ketahui .."
" Oh ya ? Kurasa aku tidak tertarik ..." Anna membuang mukanya , semakin sulit ia menghadapi kenyataan ini .
" Terus lah kau menyangkalnya . Mulutmu menyangkal tapi hatimu tidak kan Anna .."
" Yah seperti kau menyangkal , bahwa kau mencintaiku ...?" Sebuah ciuman lembut mendarat di leher jaocey . Jocey menoleh dan mendapati Luke, suaminya sedang berdiri di sampingnya .
" Luke ..." Jocey merinding merasakan nafas hangat Luke di kulit lehernya , jantungnya berdebar kencang . Jocey dan Luke memang sudah berdamai , tapi masih sulit bagi Jocey untuk bersikap terbuka pada Luke . Seperti ketika Luke mencumbunya , sekelebat bayangan masa lalu selalu menghantuinya . Tapi sekarang sudah berbeda , ketika kehamilannya sudah semakin membesar . Jocey merasakan lagi cintanya kepada Luke yang sudah ia rasakan sejak mereka menikah dulu .
" Jangan menggoda Anna terus sayang , ayo sudah waktunya kita pulang , aku tidak mau kau terlalu lama terkena udara malam ..."
Jocey menghela nafas panjang , ia tidak pernah berpikir bahwa Luke akan berubah sangat protektif semenjak kehamilannya . Jocey tertawa geli saat Luke mendaratkan ciuman ciuman kecil di sepanjang tulang pipinya . Anna menatap mereka dengan penuh iri , tapi juga berbahagia untuk Jocey . Luke sudah berubah menjadi pria baik dan Anna bersyukur untuk itu , karena sahabatnya kini sudah bahagia .
Anna tersenyum , ia tidak perlu diantar rumahnya sangat lah dekat dari sini . Dan ia rasa Luke tidak tahu itu , karena baru sekarang ia bisa bertemu dengan suami Jocey itu .
" Atau kau tidak usah pulang , tidurlah disini , seperti kata paman Jo , kau bisa memakai kamarku ..." Jocey meremas kedua tangan Anna , Anna menggeleng . Memikirkan ia akan ada satu rumah dengan Maxim , itu pilihan yang buruk . Anna tidak mau berdekatan dengan pria itu .
" Tidak Joce , aku tidak bisa tinggal disini , aku tidak mau merepotkan Jo atau siapa pun ..." Jocey cemberut mendengar jawaban Anna .
" Pulang lah kalian tidak perlu mengantarku .., " Anna memeluk Jocey sebelum sahabatnya itu pergi .
" Kau yakin .." Jocey memastikan sekali lagi .
" Ya , aku akan ke kamar mandi dulu sebelum pulang ..."
" Sampai jumpa Anna.." Luke memberinya pelukan sahabat sebelum pria itu menuntun istrinya keluar .
Anna pergi setelahnya , ia akan pamitan pada Jo setelah keluar dari kamar mandi nanti . Suasana dalam rumah keluarga Lockwood nampak sepi , karena semua orang sedang berada di luar sekarang . Ia pikir tidak ada orang lain selain dirinya ketika Anna membuka pintu , Maxim berdiri di sana , tubuh kekarnya bersandar pada dinding disebelahnya . Anna rasa pria itu sengaja membuntutinya ,lalu menunggunya keluar dari kamar mandi .
Anna berusaha bersikap seperti biasa mengabaikan sosok Maxim disana , dan ketika tubuh mereka bersisihan , Maxim mencekal lengannya .
" Kita perlu bicara Anna ..."
Anna berusaha meloloskan lengannya dari tangan Maxim , tapi sepertinya usahanya itu sia sia .
" Lepaskan , aku tidak tertarik bicara dengan mu..!"
" Ada apa denganmu Anna , kau menghindari ku sepanjang malam .."
" Aku rasa kita ada urusan untuk saling berdekatan ..!" Anna menatap mata Maxim lurus lurus , mata pria itu bergejolak karena emosi .
" Kenapa kau marah , seolah olah aku menyakitimu.."
" Kau memang menyakiti ku Maxim , kau menyakitiku dulu bahkan hingga sekarang . Kau membuatku terlihat buruk dimata semua orang , kenapa kau menyakiti wanita itu .., kenapa kau melakukannya.. " air mata Anna mengalir saat ia tidak bisa lagi membendungnya .
" Anna apa maksud mu , aku sudah minta maaf atas perbuatan ku yang dulu Anna . Aku tidak pernah ingin menyakitimu Anna , aku ingin melindungimu ..." Maxim menjalankan tangannya di sepanjang garis rahang Anna , menyelipkan seutas rambut ke belakang telinganya .
" Dengan memukuli wanita itu , apa maksudmu ?? Kau psikopat ...! " Anna melepaskan pegangan Maxim padanya .
Mata Maxim melebar karena baru mengerti apa maksud ucapan Anna , Anna pikir ia memukul Julia karena peduli dengan wanita itu .
" Anna , aku tidak memukul Julia , bahkan jika itu karena dirimu . Aku sudah putus dengan Julia sejak bertemu dengan mu malam itu , ketika Bill dan David merampokmu !"
" Kau bohong ..!"
" Untuk apa aku berbohong , wanita itu berselingkuh , dia mengarang cerita menyedihkan karena aku meninggalkannya . Seharusnya kau ikuti ceritanya jika kau menyukai gosip ."
Anna mencermati setiap kata kata Maxim , ingin ia mempercayainya . Tapi hatinya sulit sekali melakukan itu. " Untuk apa aku mengikuti gosip , kau membuat semua orang membicarakan tentang keburukan yang tidak pernah aku lakukan ..!" Anna benci terseret dalam semua ini .
Maxim menariknya dalam pelukan pria itu dan anehnya Anna hanya membeku dan mengikutinya . " Anna..." Maxim menyelipkan lagi rambutnya kebelakang telinga .
" Aku minta maaf jika kau ikut terseret dalam masalah ini , meskipun aku sendiri sangat menyukai foto kita . Tapi percayalah , aku sudah menyuruh orang untuk menghapusnya , tidak ada lagi foto foto kita disana . Dan aku tidak akan membiarkan orang orang menggunjing mu , Anna aku ingin melindungimu ..."
Apa yang dibicarakan pria ini Anna tidak mengerti , ia begitu terpesona dengan mata biru Maxim . Bibirnya yang berwarna merah membuat Anna menelan ludahnya sendiri .
" Anna aku tahu ini terlalu cepat , tapi aku bisa gila jika tidak mengatakannya padamu . Anna , aku rasa aku menyukaimu .."
" Apa ...??" Maxim menyukainya , laki laki paling buruk yang pernah ada di masa lalunya . Anna akui pria ini sungguh tampan , tapi apa dia juga menyukainya . Selama ini Anna hanya merasakan kebencian yang menumpuk .
" Anna , jadilah kekasihku , aku berjanji akan melindungimu ..."
Apa Anna bermimpi , Maxim ingin ia jadi kekasihnya . Selebritis paling hot yang di puja banyak wanita ingin ia jadi kekasihnya , Anna hanya gadis biasa , tidak punya apa-apa . Ia pasti sedang bermimpi saat ini .
Dan saat Maxim menabrakkan bibir mereka , Anna baru sadar jika itu bukan mimpi . Sekejap Anna terhanyut dalam isapan kenyal bibir pria itu , lalu kemudian dengan segenap tenaganya mendorong dada Maxim dan menampar wajah pria itu .
Nafas Anna saling memburu , antara emosi dan nafsu menjadi satu . " Kau brengsek ...!" Setelah mengucapkan itu Anna berbalik dan berlari . Ia tidak sempat berpamitan pada Jo , bahkan ketika Brady menyapanya ia tidak peduli . Dengan berair mata ia pergi meninggalkan rumah keluarga Lockwood , beraninya pria itu mempermainkannya .
Brady menghampiri adiknya yang tampak kacau , ia tahu ada sesuatu yang tidak beres ketika melihat Anna berlari sambil menangis .
" Apa yang kau lakukan padanya ...?!" Brady sudah bersiap akan menceramahi adiknya .
" Aku menciumnya ..."