Maximilian's Love

Maximilian's Love
Bab 29



Anna sudah siap berangkat bekerja saat Maxim sedang menelpon Angela di ruang tengah . Sebenarnya Anna hanya ingin berpamitan , sambil menata letak tas selempang diatas bahu . Karena bagi Anna , meski sekarang ia berstatus pacar Maxim , ia tidak ingin dicap sebagai perempuan mata duitan .


" Angela ,aku akan menelpon mu lagi nanti ..." Maxim buru buru menutup dan menaruh ponselnya di meja ketika Anna menghampirinya .


" Sayang , kamu mau pergi kemana ?" Maxim menghampiri Anna dan menaruh beberapa anak rambut Anna kebelakang telinga .


" Bekerja , aku kebagian shift 3 Minggu ini , lagipula aku sudah tidak masuk dua hari kemarin . Kamu mau mengantarku atau...." Anna tersenyum enggan melanjutkan kata-katanya , ia rasa Maxim pun sudah mengerti ucapannya .


" Babe ,maaf aku lupa memberi tahu mu . Aku sudah berbicara pada bos mu Charlie , mulai hari ini kau tidak bekerja lagi padanya ." Maxim membelai pipi kekasihnya , ia tidak ingin Anna tiba tiba mengamuk karena perbuatannya .


Tas Anna jatuh berdenting di lantai , refleks ia mundur kebelakang dan menjauhkan tangan Maxim diwajahnya .


" Apa?!" Anna tidak percaya ini , Anna dengan susah payah mendapatkan pekerjaan itu dulu . Dan sekarang dengan mudahnya pria ini tanpa bertanya dulu padanya , melenyapkan pekerjaan yang susah payah ia dapatkan .


" Sayang , dengarkan aku . Aku ingin kamu fokus pada kuliahmu , biarkan aku yang mengurusmu "


" Tidak ! Kamu tidak mengerti ! Kamu tidak bisa seenaknya memutuskan pekerjaanku !"


" Anna , sayang " Anna mengangkat tangannya mencegah Maxim mengeluarkan rayuannya .


" Kamu memang pacarku , tapi kamu tidak bisa seenaknya mengatur hidupku ! "


" Anna , aku tidak mengatur hidupmu sayang . Lagi pula untuk apa kamu harus bekerja , uang kuliahmu sudah dibayar hingga akhir tahun ..."


Mulut Anna menganga tidak percaya ketika Maxim tanpa sadar Maxim telah membongkar rahasia yang selama ini ia pendam .


" Sial !" Maxim menarik rambutnya sendiri karena frustasi , sementara Anna siap meledak karena amarah .


" Tunggu sayang , aku bisa menjelaskan itu " Maxim mengulurkan tangannya ketika Anna semakin mundur menjauh darinya . Harusnya malam ini menjadi malam yang menyenangkan bagi mereka . Mereka bisa berkencan untuk pertama kalinya , bukannya bertengkar untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka .


" Aku tidak percaya ini , jadi kau yang membayar uang kuliahku !" Anna berteriak frustasi , kini butiran butiran air matanya mulai menetes .


" Aku bisa menjelaskan itu , sayang . Please , jangan menjauh dariku .." Maxim mencoba maju tapi Anna juga malah makin menjauh darinya .


" Tidak ! Kamu tidak mengerti ! Kamu membuatku terlihat bodoh selama ini , aku seperti orang yang tidak berguna ..." Anna tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya ketika ledakan tangisnya sudah membuncah .


" Tidak , sayang . Aku tidak bermaksud seperti itu , aku sengaja merahasiakannya karena aku tahu kamu pasti akan menolaknya , Anna please pahami ini sayang ..."


Keesokan harinya Anna bangun dengan wajah sembab dan mata yang mengerikan . Jika saja hari ini ia tidak ada pertemuan penting dengan Professor Shane , mungkin Anna enggan beranjak dari tidurnya dan keluar dari kamar ini . Yang ia yakin , Maxim pasti sudah menunggunya saat ini dan Anna enggan mengikuti rasa penasarannya dimana pria itu tidur malam ini .


Maxim menoleh padanya dengan pandangan yang sayu , dan mengabaikannya . Ia berjalan acuh menuju lemari pendingin dan meneguk air dingin disana . Tatapan mata elang Maxim tidak pernah meninggalkannya , Anna melirik meja makan yang sudah terisi roti panggang , beberapa ham panggang dan telur urak arik. Tapi Anna enggan sarapan pagi ini , ini adalah salah satu pembalasan dendamnya pada Maxim .


" Anna tunggu , setidaknya sarapan dulu sebelum kamu pergi sayang " Anna berusaha meloloskan lengannya dari genggaman Maxim , tapi usahanya sia sia ia kalah tenaga .


" Lepaskan ! Aku sudah terlambat untuk kuliah !" Anna meringis saat genggaman Maxim semakin menguat .


" Duduklah sayang , maka aku akan menjelaskan semuanya .." lagi lagi Max memohon padanya , tapi Anna termakan rayuannya .


" Semuanya sudah jelas , aku tidak butuh penjelasanmu !" Maxim melepas genggamannya membuat Anna lega , lalu pria itu mengangkat tangannya seolah menyerah .


" Ok baiklah , sayang. Kamu menang , kau boleh bekerja . Tapi dengan satu syarat .."


Anna melotot dan menajamkan pendengarannya , " aku mendengarkan .." Anna menyilangkan kedua tangannya di depan dada , membuat dadanya yang tertutup dres tipis berwarna putih polkadot membusung indah .


Sementara Maxim menelan ludahnya karena pemandangan indah di depannya sementara ia tidak bisa menyentuhnya .


" Kamu tidak akan bekerja tanpa aku mengantarmu .."


Anna menghela nafasnya kasar , " Max , aku sudah terbiasa melakukan ini , aku bisa naik bis , lagi pula jarak kafe dan apartemen mu tidak begitu jauh ..." Anna beruntung karena apartemen Maxim berada di tengah kota . Ia bisa menghemat waktu , berbeda jika ia harus pulang kerumahnya atau kerumah Jo .


" Tidak Anna ini berbeda , kamu adalah pacarku sekarang . Aku tidak mau berdesakan dengan pria lain di dalam bis , atau berdiri di halte ditengah malam sendirian .."


" Max , jangan berlebihan , aku sudah biasa menaiki bus sepanjang hidupku "


" Ya sampai kau hampir di rampok atau bahkan hampir diperkosa ?!" Maxim menatap tajam padanya , dan Anna kaget dengan kata kata yang baru saja keluar dari bibir Maxim .


Kilatan perkosaan itu seperti datang berkelabat lagi dalam kepalanya Anna terhuyung mundur kebelakang dan Maxim dengan sigap meraihnya .


" Aku tidak suka kamu mengingatkan kejadian itu ," Anna menumpahkan tangisnya di kemeja Maxim .


" Maaf sayang , aku tidak bermaksud seperti itu ." Maxim mencium wajahnya berkali-kali , membuat Anna menghentikan tangisnya karena sapuan dari bakal jambang di janggut Maxim menggelitiknya .


" Lagi pula bukan hanya itu yang aku cemaskan , kamu adalah pacarku sekarang . Diluar sana banyak sekali orang yang membenciku , atau bahkan paparazi gila yang selalu mengejar ku . Dan aku tidak mau kamu mengalami itu sayang , biarkan aku mengantar jemput mu . Atau kau tidak akan pernah bekerja sama sekali ." Maxim memberi Anna pilihan yang sulit , dan Anna memukul lengan pria itu karena kesal .