
Gerak gerik Maxim sangat berbeda dari biasanya , Anna bisa saja marah malam itu . Tapi ketika melihat wajah Maxim yang pucat pasi , Anna membiarkannya sampai tugasnya mengunci seluruh pintu cafe selesai . Pria itu tidak banyak bicara malam itu , entah ia kelelahan atau sedang mengalami masa buruk di tempat kerja . Tapi bukan berarti Maxim akan melampiaskan kekesalannya di tempat kerja pada Anna , bukankah itu tidak adil ? Anna juga lelah , bahkan seharusnya ia sudah tidur nyenyak dirumah .
" Max..."
" Babe , berikan ponselmu , kita harus memesan taksi online " Anna hanya menurut saat Maxim meminta ponselnya . Lalu ia teringat dengan mobil Maxim , kenapa tidak menjemputnya menggunakan salah satu mobilnya . Jika memang salah satunya tidak bisa dipakai , bukankah masih ada dua lagi . Dan tidak mungkin jika tiga mobil Maxim rusak dalam waktu bersamaan .
" Kenapa kita menggunakan taksi online , kenapa tidak memakai mobil mu saja ?"
" Aku sedang lelah babe , tidak masalah kan ?" Maxim tersenyum lembut pada Anna lalu meraih tangan Anna .
" Hmm... tidak masalah , ada apa denganmu Max ? Kamu terlihat tidak sehat " Anna tahu ada yang tidak beres dengan kekasihnya , saat Maxim mencium punggung tangannya , Anna bisa merasakan bibir Maxim bergetar dan terasa dingin .
" Sudah kubilang aku lelah , sayang . Kita akan menunggu taksi kita lalui pulang , ok " Anna mengangguk , berusaha diam . Suasana pun kembali hening , malam memang semakin larut . Dan Maxim terus terdiam sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok cafe . Saat itulah Anna melihat setitik merah dibalik topi hitam Maxim , titik merah itu lalu merembes bersama keringat di pelipis Maxim .
" Max apa yang ada dibalik topi mu ?" Anna berusaha menggapai topi max dan menyingkirkannya . Tapi Max langsung terjaga dan menjauhkan kepalanya dari jangkauan Anna . Anna semakin curiga jika itu adalah sesuatu yang buruk .
" Bukan masalah besar " Maxim kembali menutup rapat-rapat topinya , tapi justru karena tindakannya itu gesekan luka itu membuatnya meringis kesakitan .
Hati Anna berdebar saat melihat mimik muka Maxim yang semakin tidak nyaman karena menahan sesuatu .
" Max , sayang . Katakan padaku apa yang kau sembunyikan ?! " Anna merona saat baru pertama ini ia memanggil Maxim dengan sebutan sayang . Biasanya lelaki itulah yang selalu memanggilnya sayang , atau babe .
Max tahu ada maksud tertentu dibalik panggilan sayang itu padanya , " jangan merayuku Anna , lebih baik kita fokus dimana taksi sialan itu berada "
" Merayu mu ?" Tawa Anna mengambang di udara , ada sedikit kegetiran disana .
" Jadi selama ini kau memanggilku sayang , hanya untuk merayuku " kenapa hati Anna sakit hanya dengan memikirkan itu .
" Demi tuhan Anna , ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu . Maafkan kata kataku tadi sayang , aku hanya ..."
" Lelah ?! Kau pikir hanya kau yang lelah ? Aku juga lelah , berjam jam aku menunggumu . Dan sekarang ini sikapmu pada ku ? Jika kau memang mencintaiku , katakan apa yang kau sembunyikan ?!" Mulut Maxim menganga lalu kembali merapat lagi , ia sudah terjebak pada rahasia yang ia buat sendiri . Maxim meraup wajahnya kasar , karena luka di keningnya semakin berdenyut dan membuat seluruh kepalanya pening .
" Annabelle Hunt , kau memesan taksi ?" Pandangan Maxim beralih pada SUV perak yang berhenti tepat didepan mereka . Maxim segera menarik tangan Anna , agar perempuan itu melupakan semua pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya .
" Oh syukurlah , kami sudah menunggu anda dari tadi " tarikan Maxim tidak bergeming , karena Anna memutuskan tetap berada pada tempatnya berdiri .
" Anna , jangan buat ini menjadi sulit . Ayolah sayang aku tahu kamu juga lelah , masuklah kedalam mobil " Maxim mengisyaratkan Anna agar masuk kedalam mobil menggunakan kepalanya , tapi Anna tetap pada tanahnya berpijak .
" Aku tidak akan masuk kesana sebelum kau mengatakan apa yang kau sembunyikan "
" Anna , tidak ada yang aku sembunyikan darimu sayang , ayolah ..." Kini Anna semakin mundur menjauh , membuat Max sulit untuk menggapai .
Sang driver yang tidak mengerti masalah diantara keduanya , mulai terlihat kesal . Berkali kali sang driver membunyikan klakson dan hal itu membuat Maxim cemas .
" Bisakah kalian cepat ?" Ujar sang driver , tapi tidak peduli . Mereka akan tetap berada disini semalaman jika itu perlu . Maxim memandang sayu pada wajah Anna , lalu dengan tangan gemetar di singkirkan topi hitam yang sejak tadi menutup lukanya .
Luka itu masih merah , mungkin sekitar dua centimeter panjangnya . Wajah Maxim tertunduk lesu , ia tidak bisa melihat wajah Anna yang berubah pucat begitu melihat goresan luka menganga di keningnya .
" Apa yang terjadi , bagaimana ini bisa terjadi " Anna menghambur ke pelukan Maxim dan meraba luka itu . Sentuhan tangan Anna seperti sayatan perih untuk Maxim .
" Katakan Max , kenapa kau menyembunyikan ini . Apa aku tidak begitu penting bagimu ?"
" Tolong jangan sembunyikan apapun lagi dariku , katakan apa yang terjadi ? Apa kau berkelahi ?"
Maxim menggeleng , " berjanjilah untuk tidak cemas , aku baik-baik saja saat ini . "
" Itu tidak terlihat baik , demi tuhan katakan apa yang terjadi .."
Maxim menghirup nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya . " Aku menabrak pohon , dalam perjalanan kesini . Mobilku terpaksa harus di derek , dan aku menumpang mobil seseorang untuk sampai disini "
Anna tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan , yang ia ingin hanyalah memeluk lelakinya . Bagaimana jika Maxim tidak selamat dalam kecelakaan itu , ini semua karena dirinya . Jika saja Anna mengikuti kata kata Maxim untuk tidak bekerja , mungkin pria itu tidak akan kelelahan lalu menjemputnya dengan kondisi badan tidak fit .
" Maafkan aku Max , semua ini pasti karena aku ..."
Maxim menangkap wajah Anna dan menenangkan wanita itu , " tidak sayang , sudah kubilang jangan cemas . Aku baik baik saja , dan ini semua bukan karena mu "
" Sekarang bisakah kalian naik , atau aku mencari penumpang lain " sang driver taksi itu mulai tidak sabar setelah melihat drama mereka .
Maxim dan Anna saling pandang , mereka saling tersenyum begitu mengetahui tindakan konyol mereka di saksikan orang asing .
" Kalian pasangan yang sangat serasi , aku jadi ingat masa mudaku " driver itu memandang keduanya lewat kaca spion kecil diatasnya .
" Terima kasih , pak tolong berhenti di rumah sakit terdekat " sang driver tampak mengerutkan keningnya , begitu juga Maxim .
Ditatapnya wajah Anna , " untuk apa kita kerumah sakit ? " pertanyaan Maxim tampak mewakili tanda tanya besar di benak sang driver . Sepertinya ia harus kembali melihat drama itu lagi di dalam mobilnya .
________
Kening Maxim mendapatkan tujuh jahitan , setelah ia mengunjungi ruang UGD sebuah rumah sakit bersama Anna . Suasana rumah sakit tampak sepi setelah pemeriksaan Maxim selesai , waktu sudah pukul satu pagi . Dan sementara Maxim menemui dokter untuk melakukan pengobatan , ia membiarkan Anna tertidur di kursi ruang tunggu . Ia tahu gadis itu sangat kelelahan , beruntung Angela menjemput mereka di rumah sakit .
Anna masih saja tertidur hingga mereka sampai di di penthouse nya , Maxim bermaksud menidurkannya di ranjang . Tapi gadis itu malah terjaga saat masih dalam pelukannya , tangannya melingkar di lehernya sementara mata mereka saling terkunci . Entah setan apa yang mendorongnya , hingga akhirnya ia memakan bib*rnya dan menguasai seluruh rongga mulut kekasihnya .
Maxim dan Anna saling terengah-engah diatas ranjang , tangan Anna masih melingkar di lehernya sementara kedua kaki gadis itu mengunci pinggulnya . Perlahan gairah itu mulai menggeliat hidup mendesak pertahanan dirinya . Dan Anna menyadari itu , tapi gadis itu sama sekali tidak gentar . Anna bahkan menahan kuncian kakinya saat Maxim beranjak pergi , menuntaskan hasratnya sendiri di kamar mandi . Sepertinya yang selalu Maxim lakukan jika mereka hampir saja kehilangan kendali .
" Jangan menampilkan wajah seperti itu ?" Protes Maxim , diciumnya wajah Anna berkali kali hingga wanita itu terkikik geli .
" Seperti apa ?" Goda Anna , ia menjilat bawah bibirnya penuh sensual . Anna tidak menyadari jika perbuatannya itu cukup berpengaruh besar pada pria diatasnya .
" Wajahmu seperti menjerit , ' tolong tiduri aku ' "
" Kalau begitu tiduri aku ..." Pinta Anna lembut , ia tidak tahu keberanian itu berasal dari mana .
Maxim mengerutkan keningnya , mimik wajahnya seketika berubah drastis . Matanya bersinar gelap penuh nafsu , Anna menelan ludahnya kasar .
" Jangan meminta hal yang akan kau sesali besok pagi ," ucap Maxim , pria itu berniat beranjak dari tubuh Anna . Tapi lagi lagi Anna mencegahnya , bahkan dengan beraninya gadis itu mengivasi bib*rnya .
" Anna kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan , aku sangat menginginkanmu sayang . Katakan kamu juga menginginkan ku , atau kamu bisa menolaknya , maka aku akan berhenti sekarang juga . " Pandangan Maxim benar benar menggelap , begitu juga Anna . Sekujur tubuhnya merinding merasakan tatapan mendamba dari kekasihnya .
Anna menelan ludahnya , " Max , aku menginginkan mu , jadikan aku milikmu "