
" Jadi apa yang terjadi ,..." Jocelyn meletakkan gelas anggurnya perlahan , Anna mengamati embun embun di gelas anggurnya . Sudah lama ia memikirkan momen ini .
" aku tidak bisa kembali lagi kesana..." Anna menggigit bibirnya , ia tahu Jocelyn saat ini terus mengawasinya .
" lalu bagaimana kabar Jamie , apa kalian sudah punya anak ? " pertanyaan jocie seperti menembus jantungnya , mata mereka saling terkunci .
" Jocie , kenapa kamu bertanya pertanyaan menjijikkan seperti itu " Anna mendengus kesal .
" menjijikkan ? bukankah itu yang terjadi? kalian kawin lari ..." Anna mengangkat tangannya , memaksa Jocelyn agar berhenti bicara .
" Hentikan , bagaimana kamu bisa punya pikiran seperti itu ? " Anna tidak habis pikir , ia telah menghabiskan waktu 2 harinya seperti di neraka . Dan pertanyaan konyol itu yang ada di pikiran sahabatnya .
" Tunggu , jadi kalian sama sekali tidak pernah kawin lari ? " jocie menegakkan tubuhnya tegang , Anna menjawabnya dengan gelengan kepala .
" Tidak , dan tidak akan pernah terjadi . Dari mana gossip itu berasal apa itu saudaramu ? "
" Anna , Max tidak pernah menyebarkan gossip , dia mencarimu kemana saja . lalu Jamie menelpon menggunakan ponselmu , mengatakan bahwa kalian sudah menikah . " Anna menelan kenyataan pahit itu , kenapa Jamie tega melakukan hal ini .
" dan Maxim mempercayainya ?" ada rasa sakit ketika Anna mengucapkan nama itu . Seseorang yang selalu ia rindukan , yang juga telah meninggalkannya .
" Aku sangat menyesal Anna Max sangat putus asa ketika melihat foto kalian , di ranjang ..." Jocelyn menggigit bibirnya , berharap tidak melukai sahabatnya , tapi kenyataannya mereka semua telah terluka oleh perbuatan Jamie .
" Apa yang terjadi Anna , kenapa kamu menanggung ini sendiri ?" Anna tidak bisa membayangkan kejadian kelam itu , ia sendirian , sakit dan menanggung malu . Ketika ia akan kembali pada kekasihnya kenyataan pahit menghantamnya , di depan media Max sudah mengakhiri hubungan mereka dan lebih parahnya lagi ada Julia disisinya . Sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya lagi . Maka lari adalah jalan yang dipilihnya .
" Kamu punya aku Anna .." Jocelyn mengguncang tubuhnya , membuat air matanya semakin mengalir deras .
" Aku kacau jocie , aku kacau malu dan patah hati , aku tidak tahu kenapa aku lari ..." Jocelyn meninggalkan kursinya dia memeluk Anna yang sedang terisak .
" It's ok sayang semua akan baik-baik saja , " Jocelyn menepuk punggung sahabatnya , menenangkannya . Yang tidak pernah disadari mereka ada sosok yang masuk ke penthouse Jocelyn . Dan pria itu menegang ketika tahu siapa yang sedang bersama Jocelyn .
" Maxim kenapa tidak mengetuk pintu ..?" Jocelyn melemparkan protesnya. Tapi Maxim mendengus kesal .
" saya tidak perlu mengetuk didalam gedung saya sendiri , dan kenapa ada wanita ini disini !" Maxim menunjuk tajam pada Anna , sangat tajam dan dingin . Anna merasakan kebenciannya mengalir ke seluruh tubuhnya , dan ia tahu dirinya tidak diinginkan disini . Meskipun kakinya sedikit goyah ketika menginjakkan lantai , Anna memaksakan langkahnya .
" Jocie maaf aku harus pergi .." Tanpa melihat siapapun Anna meraih tas dan mantelnya , melewati pria dingin itu tanpa menoleh . Sayup-sayup ia mendengar Jocie memanggilnya , tapi ia tidak memperdulikan itu . Ia berlari seiring air matanya mengalir , begitu sakit , kenapa Max begitu membencinya , rasanya ingin sekali dia menendang pria itu dengan keras . Tapi dirinya yang sekarang sangat lemah , ia akui luka itu masih belum sembuh dan bahkan kembali menganga .
" Itu kasar sekali Max ! " Jocie melotot pada saudaranya . Ia tidak peduli jika matanya akan sakit jika terus melotot tajam .
" Apa peduliku , aku tidak ingin ada suami gila yang akan melabrak kesini " Jocie mendengus .
" Kamu harus meminta maaf padanya .." Jocie menuntut .
" Tidak akan pernah terjadi " kata Max tajam .
" Dia tidak pernah menikah Max , semua cerita itu bohong .." Jocelyn menunjuk arah pintu seolah ada Anna disana .
" Jika dia tidak menikah , kenapa tidak pernah mencariku !" Max melepaskan nafasnya dengan kasar , seolah itu adalah nafas terakhirnya .
" Itu karena pernyataan bodohmu dengan Julia di media , kau baj*Ng*n ! " Jocelyn menunjuk dadanya karena kesal .
" Aku !" Max tertawa hambar di udara .
" apa yang kau harapkan ? menangis meraung-raung memohon dia kembali ? Foto itu sudah cukup membuktikan dia tidak pernah mencintai ku " Hati max menjerit mengatakan itu , seperti tersayat ujung pisau .
" Itu kesalahan kita , Max . Jamie dan ibu tirinya menyekapnya dia sangat menderita dan putus asa ketika berhasil lolos , dan apa yang ia dapat hanya pernyataan bodohmu ." Jocelyn menceritakan semuanya , dan tubuh Max limbung karenanya . Entah ia harus mempercayainya atau tidak , hatinya diliputi tanda tanya .