
Anna menyipitkan matanya , dia tidak asing dengan bentuk rahangnya . Pria itu menengadah membuka topi bisbol nya . Hati Anna berdetak kencang , Maxim lockwood ada disini , dihadapannya . Kakinya menggigil karena takut , kaget dan campur aduk . Suara di dalam otaknya menyuruhnya untuk berlari sejauh-jauhnya . Tapi disini dia bekerja , untuk menggemukkan tabungannya untuk dia makan atau bahkan menyumbang sedikit untuk rumah penampungan . Dia tidak akan lari meski bosnya terus menggodanya atau bahkan Maxim sekarang akan menghalangi jalannya .
" Apa yang anda inginkan sir ..." Anna memegang erat pena ditangannya mungkin notenya telah berlubang .
" saya ingin anda menemani saya makan .." Maxim mengisyaratkan Anna agar duduk didepannya . Anna mendengus , seperti biasa pria ini selalu congkak , memerintah orang sesukanya .
Tapi Anna mengangkat dagunya tinggi , dia bukanlah Anna yang dulu lagi . " saya dibayar untuk mencatat dan membawa pesanan sir , bukan untuk menemani anda makan , maaf mengecewakan .." kali dia menyilangkan kedua tangannya , membuat dadanya terangkat keatas .
Maxim melihat wajah Anna yang cemberut , tapi justru dia menyukainya . Dia tidak pernah menyangka jika Anna akan terlihat sangat menggemaskan dengan wajah cemberut . " saya membuat pengecualian .." Maxim kembali mengisyaratkan Anna untuk duduk .
Anna membuang nafasnya kasar , " jika tidak ada lagi yang ingin anda pesan , maaf saya harus melayani pelanggan lain .." Anna berusaha melewatinya , tapi Maxim menangkap lengannya. Dia meringis betapa sentuhan itu telah menyentak hatinya , ia tidak mengerti Maxim hanya menyentuhnya dan jantungnya sudah membuat listriknya sendiri .
" Jangan sentuh aku " Anna mengibaskan tangannya susah payah , tapi usahanya sia sia . pria itu setegar karang .
" lepaskan aku " Anna kembali melemparkan murkanya , tapi pandangan Maxim tidak berubah , apakah hanya khayalannya mata pria itu sedikit berair .
" Anna please.., aku hanya ingin bicara . tidakkah ada kesempatan itu ..?"
" anda telah membuang kesempatan itu , anda membuang saya ingat ..!"Mata mereka saling bertabrakan , kemarahan memuncak dikepala Anna . Dan gadis itu gadis berusaha sekuat tenaga agar bendungan air matanya tidak runtuh di depan Max . kepalan tangan Max meluncur bebas ke bawah , dan kenyataan pahit itu juga menyakiti hatinya .
" Anna , everything ok? " Anna menoleh saat tahu tahu Danny sudah ada di belakangnya , pria itu melihat bolak-balik antara dirinya dan Maxim .
" Anna , sweetheart ....." Maxim mencoba memanggil Anna , tapi gadis itu sudah berlari pergi saat pegangan tangan mereka terlepas .
___&&
Anna mengusap air matanya dengan kasar , rasa dihatinya sedang berkecamuk . Jujur dia masih merindukan pria itu , tapi ketika dia mengingat kembali bagaimana pria itu meninggalkannya , membuangnya . Anna seperti tidak akan pernah bisa memaafkannya , tapi kenapa hal itu menyakiti hatinya .
" Anna siapa pria di luar itu .." Anna menoleh dan Danny sudah ada dibelakangnya . mata Danny membara , dan takut melihatnya .
" bukan siapa siapa .." Anna tertunduk lesu .
Danny mencibir , " dia bilang kalian bertunangan..." Anna menatap Danny lagi
" aku tahu Anna , tapi aku peduli padamu .." Anna menatap ke udara , tidak bisakah ia sendiri dulu untuk saat ini . Hidupnya terasa sesak dibayangi Danny dan kemunculan Maxim .
" Dann bisakah aku pulang lebih awal ? " meski ragu akhirnya Dann mengangguk lemah .
Anna berjalan dari pintu belakang berharap ia tidak akan pernah bertemu Maxim lagi . Tapi pria itu tiba-tiba muncul dari depan gang . Dan Anna tidak bisa menghindarinya , jantungnya berdetak kencang . Aroma parfum dan tubuh pria itu mengacaukan otaknya .
" ayo aku akan mengantarmu ..." Maxim meraih tangan Anna .
" aku ingin pulang sendiri , tidak kah kamu mengerti , saya tidak ingin ada hubungannya dengan anda lagi .." mereka saling tepaku dan menatap .
" sayang , jangan berkata seperti itu . berikan saya satu kesempatan lagi ..."
" tidak ..." Anna bersumpah jika pria ini memaksanya seperti dulu , bersikap arogan yang tidak pernah bisa Anna tolak. Sekarang dia bersumpah jika hal itu terjadi lagi , dia akan menendangnya .
Maxim mengangguk melepaskan tangan mereka , dia mengerti semua tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru .
" ok , aku harap kamu selamat sampai tujuan " Anna memandangnya dengan penuh heran , saat dia melewatinya . bukankah itu terlalu mudah .
____
apartemen tempat Anna tinggal bukanlah tempat mewah . bahkan bisa dibilang kumuh , catnya sudah mengelupas dan menghitam , bahkan Anna bisa mendengar suara ******* tetangganya . Tapi tempat ini adalah yang termurah untuk ukuran kantongnya , apalagi untuk ukuran mahasiswa drop out seperti dia .
Anna akhirnya tiba di flatnya setelah naik tangga berkali kali , matanya memicing ketika sebuah bunga indah ada di depan pintunya . semuanya mawar putih , dan Anna sangat tertarik dengan kartu di atasnya .
*my dear Annabelle Hunt
mawar ini mungkin tidak akan pernah menyembuhkan luka dihatimu , tapi aku berharap masih ada satu kesempatan untuk kita ...
Maxim*
Anna menghirup nafas kesal sampai kapan pria itu akan terus membuntutinya . Dia sudah akan membuangnya ketika tetangganya lewat dan memuji bunganya . Tanpa pikir panjang Anna memberikannya , meski hatinya tidak rela . Ia harap ini adalah keputusan yang tepat .